NooR FaMiLy………

Seminar Kesehatan Anak PESAT Balikpapan – Yayasan Orang Tua Peduli, 4 & 5 Mei 2013

Seminar PESAT Balikpapan, 4 & 5 Mei 2013.

Panik setiap kali menghadapi anak sakit? Takut terlambat… takut gagal
tumbuh… dsb, yang selalu membayangi dalam pikiran kita setiap kali anak
sakit.

Atau pernahkan mengalami hal seperti ini:

· Anakku demam. Duuuh… takut kejang, takut infeksi, takut terlambat!

· Anakku batuk pilek gak sembuh-sembuh, obat apa ya yang ampuh?

· Bingung, anakku susah makan, bagaimana nanti kalau kurang gizi?

· Tolong, anakku diare dan muntah-muntah, aku takut ia dehidrasi!

· Sebenernya antibiotic itu musuh atau butuh ya?

…dan seribu satu permasalahan sehari-hari mengenai kesehatan buah hati kita.

Ayah-Bunda tidak perlu panik, semua itu bisa dipelajari lho. Yuk kita
belajar bersama di PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua).

Buat Smart Parents yang tinggal di Balikpapan dan sekitarnya, ada kabar
gembira!!

Kali ini PESAT akan hadir di Balikpapan – Kalimantan Timur.

Hayoo… siapa yang ingin belajar langsung dari narasumbernya? Bertatap muka
langsung dengan dokter-dokter yang terkenal di milis Sehat? Kali ini nggak
usah jauh-jauh menyeberang ke pulau Jawa, tinggal datang saja ke Balikpapan.

Jangan lupa catat ya tanggal mainnya:

*PESAT 1 Balikpapan*

*Tanggal 4 & 5 Mei 2013*

*Pukul 08.00 – 14.30 WITA*

*Tempat di Quartz 2 Room – Panin Tower Lt. 16, Grand Sudirman. Jl. Jend.
Sudirman no. 7, Balikpapan.*

Program ini bekerja sama dengan YOP (Yayasan Orang Tua Peduli), akan
menghadirkan dua pembicara yang ahli dalam bidang kesehatan anak-anak:

*dr. Purnamawati S. Pudjiarto, Sp.Ak, MMPed*

*dr. Endah Citraresmi, SpA*

Pembahasan materi akan dilakukan dalam 2 sesi:

Sesi I, Sabtu 4 Mei 2013

1. Sekarang aku mengerti apa yang harus kulakukan saat anakku batuk,
pilek, radang tenggorokan dan asma.

2. Makanan enak untuk anak.

3. Paradigma “obat dibayarin kantor” jangan membuat kita menjadi
tidak RUM (Rational Use of Medicine)

Sesi II, Minggu 5 Mei 2013

1. Tolong anakku demam! Duuuh… bagaimana kalau kejang? Takut
infeksi.. takut terlambat.

2. Jangan sepelekan diare, muntah dan konstipasi pada anak.

3. Sebenarnya Antibiotik itu butuh atau musuh ya?

Investasi: Rp 125.000,-/orang/sesi

Pendaftaran:

1. Melalu sms ke: 0816-458-4843 (Anti), atau 0812-5469-6979 (Rasma).

Format sms: [nama peserta] [ikut sesi I/sesi II/sesi I & II] [nomor HP yang
bisa dihubungi] atau [alamat email].

2. Melalu email: pesat1balikpapan@gmail.com

Format email:

· Nama peserta

· Ikut sesi I/sesi II/sesi I & II

· Nomor HP yang bisa dihubungi

· Alamat email

Anda akan menerima sms/email dari panitia yang berupa konfirmasi
pendaftaran dan tata cara pembayaran.

Informasi lebih lanjut hubungi:

· Contact person: 0816-458-4843 (Anti), atau 0812-5469-6979 (Rasma).

· Email: pesat1balikpapan@gmail.com

· Website: www.pesatbalikpapan.wordpress.com

· Twitter: @PESATBpn

Ayo segera daftar! Seat terbatas lho… ;)

Salam Sehat!

PESAT Balikpapan – Kalimantan Timur 2013

#7 Kecewa

Waktu menunjukkan pk 04.00, tiga puluh menit sudah saya berada di depan laptop, maksud hati ingin mengerjakan sebuah pekerjaan yang urgent, namun apa daya jaringan internet sungguh sangat tidak bersahabat di pagi buta ini.

Terbayang oleh saya, untuk mendapatkan waktu yang pas untuk bisa membuka laptop saja luar biasa perjuangannya. Seharian saya sibuk dengan urusan domestik rumah tangga, menjelang malam pun sebenarnya saya sudah terlalu capek, dan akibatnya beberapa hari belakangan saya memang nggak sanggup melakukan tugas-tugas ekstra yang harus saya lakukan.

Pagi ini saya berhasil terbangun pk 03.00, akhirnya…dengan semangat ’45 saya membuka laptop dan agenda saya. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan, yang selama ini selalu tertunda. Laptop yang saya gunakan ini sudah diperbaiki, karena sebelumnya sempat rusak, Windownya tidak bisa dinyalakan. 2 minggu laptop harus menginap di kantor suami untuk diperbaiki. Dan selama itu juga banyak sekali pekerjaan saya yang terhambat.

Pada saat yang hampir bersamaan mertua saya datang dari Bandung untuk berunjung ke rumah kami di perantauan. Nggak mungkin menyambut mertua yang jauh-jauh datang dengan hal yang biasa-biasa saja. Ya, kesibukan saya pun bertambah, jadwal mengantar keliling kota, ke luar kota, mengunjungi sanak saudara yang tinggal jauh di perantauan, serta urusan dapur yang harus selalu ngebul.

Saya pikir, semua akan ‘aman-aman’ saja asal laptop sudah sembuh dan jaringan internet selalu dalam kondisi prima, artinya meskipun beberapa hari belakangan ini ada kesibukan ekstra, saya tetap bisa bekerja dengan meluangkan waktu sebelum subuh tiba. Tapi kenyataannya, setelah susah payah bangun, dan dengan harapan setinggi langit, pagi ini saya benar-benar kecewa. Sampai detik ini jaringan internet tidak bisa digunakan.

Saya hanya bisa menunggu sambil melihat agenda saya yang sedari tadi terbuka, tanpa bisa saya transfer isinya untuk saya e-mail. Sementara waktu berjalan terus tanpa mau kompromi sedikit pun untuk melambatkan putarannya.

Pukul 5.00 wita, sudah saatnya saya turun ke dapur untuk menyipakan masakan hari ini, bekal sarapan dan makan siang untuk suami, sarapan untuk anak-anak-mertua dan sederet urusan domestik yang seharian bakalan menyita waktu saya *lagi*. Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk urusan yang satu ini ketimbang mengurus hal lain.

Ah, seandainya jaringan internet ini tidak error, tentu segalanya akan lebih mudah, tentu pekerjaan saya sudah selesai dari tadi. Saya pun hanya bisa berandai-andai ditemani buku agenda yang masih terbuka halamannya.

#5 Aerobik

Sebulan sudah saya dan teman-teman sesama ibu yang rajin nungguin anaknya sekolah punya kegiatan baru, yaitu ikut senam aerobik :) . Senamnya di kantor PWP (Persatuan Wanita Patra), yang kebetulan lokasinya dekat dengan sekolah anak-anak. Jadwalnya seminggu tiga kali, hari senin-rabu-jumat. Waktunya satu jam dari pukul 8 – 9 pagi. Pas banget ya, lokasi,waktu dan biayanya terjangkau semua, ini salah satu alasan saya kenapa ikut serta dalam kegiatan baru ini.

Pertimbangannya dari pada hanya duduk-duduk ngobrol ngalor ngidul gak tentu arah, lebih baik berolah raga. Apalagi yang namanya ibu-ibu, setiap hari pasti capek sekali mengurusi urusan rumah tangga, meskipun capek rutinitas tersebut malah bisa membuat ibu menjadi tidak sehat. Maka dari itu perlu ditambah dengan olah raga secara rutin. Olah raga berbeda dengan kegiatan misalnya mengepel,nyapu, masak atau bersih-bersih rumah.

Olah raga aerobik memiliki manfaat diantaranya “Untuk meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru serta membakar lemak yang berlebihan di tubuh karena aktifitas gerak untuk menguatkan dan membentuk otot dan beberapa bagian tubuh lainnya, seperti: Pinggang, Paha, Pinggul, Perut dan lain-lain. Meningkatkan kelenturan, keseimbangan koordinasi, kelincahan, daya tahan dan sanggup melakukan kegiatan-kegiatan atau olah raga lainnya. Bila seseorang mempunyai motivasi untuk berlatih rutin dapat merupakan suatu program penurunan berat badan” (dikutip dari sini : http://central-education.blogspot.com/2011/10/pengertian-dan-manfaat-senam-aerobik.html)

Wuiih keren juga ya manfaat senam aerobik ini, apalagi kalau dilakukan secara rutin disertai dengan pengaturan makan yang seimbang, pasti sehat dan langsing :) .

Untuk urusan langsing buat saya sih itu bonus, tujuan utama saya ikut senam aerobik adalah untuk menjaga agar tubuh saya tetap bugar dan sehat. Bulan ini dua kali saya ‘kumat’ mendadak nggak bisa nafas dan sekali dilarikan ke UGD tengah malam, saking paniknya nggak bisa nafas. Ternyata menurut dokter saya mungkin pikirannya terlalu tegang dan tekanan darah agak tinggi. Jam tidur saya kurang, karena saya memang sulit tidur. Dokter menganjurkan saya untuk berolah raga secara teratur, untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwa saya, karena salah satu fungsi olah raga adalah untuk rekreasi.

Yang saya rasakan setelah sebulan ini selama 3 kali seminggu mengikuti aerobik, badan saya jauh lebih sehat dan bugar. Sudah tidak susah tidur dan bisa tidur nyenyak.

Pernah dengar kalau olah raga itu bikin ketagihan, rasanya saya mulai ketagihan ikut aerobik, apalagi setiap kali pertemuan diselingi belajar tari cha-cha dan salsa, bisa bikin badan saya lentur nggak kaku-kaku lagi :) .

#4 “Me Time” ??

Jujur, sering kali saya merindukan saat-saat dahulu ketika saya masih kerja di kantor. Masih nebeng tinggal di rumah ortu dan punya pembantu yang khusus mengasuh anak-anak. Saya masih punya begitu banyak waktu untuk melakukan “Me Time”, jalan-jalan sama teman, melakukan perawatan ke salon, nguplek seharian di dapur bikin aneka kue, atau sekedar membaca novel sambil mendengarkan musik tanpa banyak diganggu oleh urusan anak dan rumah tangga. Ya, karena saat itu masih banyak yang membantu saya.

Hidup saya mulai berubah ketika kami pindah ke Cibubur dan saya sendiri yang memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan bertekad mengasuh anak-anak sendiri tanpa asisten. Apa yang saya bayangkan tak seindah kenyataan. Ternyata harus mengurus anak itu luar biasa….luar biasa….deh! Saya tiba-tiba menjadi orang yang terkungkung dengan rutinitas domestik rumah tangga dalam kurun waktu 24 jam 7 hari dalam seminggu, sungguh membosankan. Sedangkan ‘masa lalu’ saya adalah bekerja di luar rumah selama 8 jam 5 hari dalam seminggu. Bisa pergi ke luar rumah setiap hari untuk bekerja membuat saya happy, karena setiap hari saya akan bertemu dengan teman-teman kantor, mengerjakan suatu pekerjaan yang baru yang penuh dengan tantangan, berhubungan luas dengan banyak orang dan kadang bahkan saya harus ditugaskan ke luar kota. Buat saya hal-hal tersebut sungguh menyenangkan, karena buat saya hal-hal tersebut adalah bagian dari “Me Time” saya. Meskipun di hati kecil ada sedikit perasaan sedih karena waktu bercengkrama dengan anak-anak menjadi terbatas, namun tidak menjadi masalah besar, karena saya masih punya weekend untuk bisa full ngurus anak-anak.

Apa mau dikata, akhirnya saya sendiri yang  membuat keputusan untuk resign. Dari yang tadinya lebih banyak waktu di luar rumah dan lebih punya banyak waktu untuk “Me Time”, saya berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang cuma mengurusi urusan domestik. Tahap awal adalah tahap penyesuaian dengan suasana baru, waktu selama 24 jam habis hanya untuk ngurus rumah tangga dan anak-anak. Kadang makan dan mandi pun terlewatkan begitu saja. Baju yang dipakai sehari-hari hanyalah daster butut atau setelan piyama yang sudah usang, itu adalah baju kerja saya sehari-hari. Padahal dulu, dari hari senin-jumat, sejak pagi saya sudah rapi jali, dengan seragam kerja ke kantor dengan aroma wangi yang selalu terjaga.

Setahun pertama menjadi ibu rumah tangga saja, membuat saya terlihat acak-acakan nggak terurus. Wajah saya kok semakin hari semakin kusam dan berminyak. badan juga nggak keurus, kelihatan tambah gendut. Saya nggak ada waktu untuk mengurusi diri saya sendiri :( . Semua waktu tersita hanya untuk masak, mandiin anak, nyuapin anak, nyiapin makanan untuk bekal suami, nyapu, ngepel, nyikat kamar mandi, bersihin dapur, nyuci perabotan…..ya seputar itu-itu saja.

Sampai pada suatu waktu saya merasa sangat be-te dan bosan dengan rutinitas hidup seperti itu. Kenapa semuanya begitu nggak menyenangkan untuk saya? Apa yang saya bayangkan tentang menjadi ibu rumah tangga sejati, ternyata ujungnya justru membuat saya kurang bahagia, dibandingkan ketika dahulu saya bekerja.

Ternyata jawabannya adalah karena saya nggak punya “Me Time”. Lalu, apakah betul seorang ibu rumah tangga sejati memang nggak bisa dan nggak boleh punya “Me Time”? Lalu untuk apa saya menjalani semua ini kalau saya merasa tidak bahagia?

Kemudian saya pun mencari tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Ternyata harusnya meskipun menjadi ibu rumah tangga, tetap harus memiliki “Me Time” , karena salah satu fungsi “Me Time” adalah untuk me-recharge mood si ibu supaya happy tetap terjaga. Lalu bagaimana dengan jadwal yang super duper sibuk ini, mana ada waktu untuk “Me Time”? Lagi-lagi….seorang ibu rumah tangga itu wajib hukumnya bisa me-manage waktu dengan baik. Apalagi ibu model seperti saya ini, yang nggak pernah bisa ngeliat rumah berantakan. Kalau mau diikutin kan bisa 24 jam kerjanya bersih-bersih terus, nanti ujungnya capek, dan be-te aja.

Karena nggak mau terus-terusan terkungkung dalam situasi yang nge-be-te-in seperti ini, saya pun mulai belajar menata ulang kehidupan saya. Sama seperti ketika saya membuat cake ultah pesanan teman, saya harus me-manage waktu dengan baik agar pekerjaan efisien dan mendapatkan hasil yang bagus. Meskipun seharian saya bekerja di kantor, tengah malam saya tetap bisa membuatkan cake ultah, dan cake tersebut bisa jadi tepat waktu dan bagus hasilnya.

Saya sekarang memiliki “Me Time”, sederhana saja, “Me Time” saya adalah ‘mandi’ :) . Cukup singkat tapi bisa membuat saya happy, karena ketika saya mandi saya merasa guyuran air membuat saya fresh, belum lagi kalau menggunakan sabun dan shampo yang wangi, kadang-kadang saya sempatkan luluran sendiri, setelah mandi pakai body lotion dan body spray….wah segar sekali rasanya. Saya nggak muluk-muluk deh, untuk “Me Time” yang lain jujur belum bisa saya lakukan, karena jadwal saya tetap padat merayap setiap harinya.

Bagaimana dengan menulis dan membaca? Bukankah hal ini termasuk “Me Time” yang saya sukai juga? Ya, saya memang suka baca dan suka menulis, tapi untuk sekarang sepertinya saya menemukan banyak sekali kendala untuk melakukannya, nggak sempet, nanti kalau saya asyik baca….waktu untuk masak terlewat, kasihan anak-anak harus jadi korban “Me Time” ibunya. Belum lagi kalau laptop lagi rusak saya nggak bisa ngetik, nggak bisa OL. Belum lagi kalau lagi ada buku baru yang sudah lamaaa jadi inceran saya, tapi saat buku itu terbit, eh saya sedang nggak punya uang….bikin be-te. Jadi saya pilih “Me Time” yang paling sederhana aja, yaitu ‘mandi’….murah meriah, asal jangan mati air aja ya! :)

 

 

 

 

#3 Botram Part 2

Pagi itu di sekolah Teh Fuji sudah tiba terlebih dahulu, dengan membawa bekal botramnya, ayam goreng dan oseng tempe. Nggak lama, teman-teman lain berdatangan membawa makanan khasnya masing-masing.

Pukul 8.30 anak-anak sudah masuk ke dalam bis, dan kita para ortu juga sudah siap mengikuti menggunakan mobil pribadi dari belakang, kami konvoi menuju tambak ikan.

Tiba di tambak ikan, anak-anak dibimbing oleh ibu guru melihat-lihat tambak dan memberi makan ikan. Tambak ikan ini milik pribadi aliyas tidak dibuka untuk umum. Memiliki area yang luas sekali dan beberapa kolam ikan yang ukurannya besar. Ikan yang dibudidayakan di tempat ini antara lain : ikan nila hitam, ikan bandeng dan patin.

Sementara anak-anak sibuk dengan tour de tambak ikan, ibu-ibu pun tak kalah sibuk membuka perbekalan untuk acara botram. Di sama ada meja panjang, kami mengeluarkan semua masakan yang kami bawa dari rumah. Ternyata jumlah makanan yang terkumpul sangat banyak ragamnya, meskipun masing-masing hanya membawa sedikit, tetapi ketika sudah dikumpulkan jadi kelihatan banyak.

Ada yang bawa telor balado, tahu balado, balado teri plus pete, kering teri plus kacang, oseng tempe, tumis ati rempela, tumis daun pepaya, pepes ikan, ikan bakar, ayam goreng, sambel, oseng terong, terong rebus, daun kemangi, timun, bola daun singkong…..banyak yaaa :) .

Kami duduk bersama-sama menghadap meja panjang, aneka masakan sudah tertata dan siap disantap. Nasinya menggunakan nasi timbel. Ada sebagian ibu yang heran, kenapa tidak ada piring dan sendok? Kami yang orang sunda kemudian menjelaskan tentan gkebiasaan orang sunda makan nasi timbel, tujuannya selain membuat nasi lebih beraroma, nasi timbel itu praktis, karena tidak usah pakai piring, piringnya ya daun yang membungkus nasi itu, dan makannya pun menggunakan tangan, tentu lebih nikmat rasanya.

Benar-benar nikmat rasanya, kami makan bersama-sama, mencicipi masakan khas dapur masing-masing. Dan alhamdulillah semua orang tua yang pada hari itu ikut mendampingi anak-anak ke tambak ikan, guru-guru, sopir bis dan keneknya semua bisa mencicipi rasanya botram, meskipun mereka nggak ikut menymbang makanan, alhamdulillah cukup :) .

Anak-anak sudah disediakan makanan dari sekolah, yaitu mie goreng pakai wortel, suwiran daging ayam dan irisan baso. Anak-anak juga makan dengan lahap sehabis tour de tambak ikan. Selesai acara, anak-anak membawa sekilo ikan nila hitam untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Alhamdulillah, acara Botram dadakan kemarin sukses :) .

#2 Botram Part 1

Untuk sebagian orang Sunda pasti tahu apa artinya botram. Istilah botram kemungkinan besar berasal dari kata Bahasa Belanda “boterham” yang berarti “irisan roti isi mentega dan ham”. Dulu, pada masa penjajahan Belanda, orang-orang Belanda sering piknik di taman dan membawa bekal berupa roti, makanan tersebut di makan pada saat piknik. Orang-orang Sunda melihatnya dan akhirnya kata ‘boterham’ berubah menjadi “botram” yang memiliki arti “makan bersama di luar rumah sambil menggelar tikar.”

Orang Sunda gemar sekali melakukan botram. Botram bagi orang Sunda memiliki arti kebersamaan dalam kesederhanaan. Hal ini tercermin dari menu makanan yang disediakan untuk botram. Menu makanan yang dibawa untuk botram biasanya : nasi timbel (nasi putih dibungkus daun pisang), atau nasi liwet (nasi yang diberi bumbu dan ikan asin yang dimasak dalam kastrol), sambel lalap, ikan asin, tumisan, tahu/tempe, ayam goreng atau gepuk.

Jika botram dilakukan bersama teman atau keluarga besar biasanya setiap anggota akan urunan membawa makanan, misalnya ada yang hanya membawa nasi timbelnya, atau hanya membawa sambel lalap dan seterusnya. Nanti makanan tersebut akan dikumpulkan dan dimakan bersama-sama. Di sinilah terletak kebersamaannya. Jenis makanannya pun sederhana saja, yang penting ada nasi, sambel lalap dan ikan asin juga cukup.

Hari Rabu, 27 Februari 2013 kemarin, di sekoalh Raditya ada acara jalan-jalan ke tambak ikan di daerah Gunung Empat. Saya sendiri tahun lalu pernah ikut ke sana dengan rombongan anak-anak TK nya Radit. Jadi saya sudah tau bagaimana lokasinya. Sehari sebelumnya, ketika sedang ngobrol dengan Teh Fuji (salah satu teman menunggu di sekolah yang kebetulan orang Sunda juga), tiba-tiba tercetus ide untuk nge-botram di tambak ikan. Langsung kita bagi-bagi tugas dan mengumumkan rencana dadakan ini ke teman-teman lain sesama wali murid. Saya kebagian membawa nasi timbel dan lalap daun singkong rebus dan timun, Teh Fuji membawa ayam goreng dan oseng tempe, sisanya teman-teman lain ada yang membaw sambel, ikan dan seterusnya.

Siang itu saya dan Teh Fuji langsung jalan ke pasar, beli ayam, daun pisang dan daun singkong. Seru juga ke pasar dengan Teh Fuji, saya jadi tau dimana tempat langganan dia membeli ayam pejantan yang masih hidup, cukup murah loh harganya Rp 20.000/ekor masih dalam keadaan hidup, nanti oleh penjualnya dipotong dan dibersihkan, kita tinggal pesan mau dipotong jadi berapa. 1 ekor ayam pejantan ukurannya kecil, biasanya ukuran normal hanya dipotong menjadi 4 bagian. Setelah itu ke tempat bumbu yang sudah digiling, lalu membeli daun pisang dan daun singkong. Tidak lupa, saya juga menanyakan resep ayam goreng yang akan dimasak oleh Teh Fuji, dan cara merebus daun singkong supaya cepat empuk tapi daunnya tetap berwarna cerah.

Sampai di rumah sudah sore, saya istirahat sebentar, kemudian ke dapur membersihkan daun pisang dan daun singkong. Daun singkong saya masak malam itu juga, sementara daun pisang sudah saya siapkan sebelumnya, yaitu dibersihkan, dilap dan dibakar, supaya daunnya lemes dan tidak sobek ketika digunakan untuk membungkus.

Paginya pukul 2 subuh saya sudah bangun, masak nasi 6 cup beras. pukul 3 nasi matang dan saya mulai membuat timbel. Ternyata 6 cup beras hanya jadi 10 bungkus nasi timbel, karena daun pisangnya juga masih banyak, saya memasak lagi 6 cup beras. Pagi itu saya membawa 20 buah nasi timbel ke sekolah, lalap daun singkong yang sudah dibuat bola-bola kecil dan irisan timun segar.

#1 Pentingnya Belajar Ilmu Kesehatan Anak

Tanpa disadari, kepanikan orang tua pada saat menghadapi anak sakit justru akan menjerumuskan anak ke dalam pengobatan yang tidak rasional. Penyakit langganan anak seperti demam,batuk, pilek, diare, muntah yang dialami oleh anak-anak 80% disebabkan oleh virus. Artinya penyakit tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa harus minum obat, apalagi antibiotik.

Dikutip dari “Smart Patient” karya dr Agnes Tri Harjaningrum, WHO dalam konferensi tahun 1985 di Nairobi menyampaikan bahwa penggunaan obat rasional itu artinya pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dengan dosis tepat serta dalam periode yang tepat juga dan dengan biaya yang paling terjangkau. Pengobatan yang tidak rasional menurut WHO  antara lain : polifarmasi (pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan pada kondisi yang tidak memerlukan beberapa obat sekaligus), pemberian antibiotika yang berlebihan, pemberian steroid yang berlebihan, tingginya pemakaian obat non generik, tingginya tingkat pemakaian obat injeksi, tingginya pemakaia obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan (sumber : http://purnamawati.wordpress.com).

Obat sendiri seperti koin, mempunyai dua sisi, satu sisi sangat dibutuhkan utuk menyembuhkan penyakit di sisi lain memiliki efek samping buruk bagi tubuh jika dikonsumsi tidak tepat sasaran. Dalam hal ini anak-anak banyak yang menjadi ‘korban’ kepanikan orang tua ketika mereka sakit. Misalnya saat si kecil demam, apa yang tercetus pertama kali dalam pikiran ortu? Pasti pada umumnya para orang tua berpikir untuk segera menghilangkan demamnya. Lalu tergopoh-gopohlah meminumkan obat penurun panas, jika panas tak kunjung turun ortu tambah panic dan segera ke dokter atau rumah sakit, di sana si anak yang sedang dalam keadaan sangat tidak nyaman harus mengantri berpuluh menit, berkumpul dengan pasien lain yang bukannya tidak mungkin bisa menularkan penyakitnya pada anak kita. Tiba di ruang dokter, ortu mendesak dokter agar memberikan obat yang ‘ces pleng’ agar anaknya cepat sembuh, memiinta dokter agar anaknya dites darah karena takut kena DB atau Thypus. Selesai konsultasi dengan dokter, ortu harus menebus resep yang jumlahnya ratusan ribu rupiah. Sampai di rumah obat-obatan segambreng tersebut langsung diminumkan pada anak, dengan harapan supaya anak cepat sembuh, namun pada kenyataannya tidak jarang banyak ortu mengeluh : sudah ke dokter yang terkenal, sudah nebus obat ratusan ribu rupiah, kok anakku nggak sembuh-sembuh ya? Lalu ortu kembali gelisah, dan bermaksud mencari dokter yang lebih terkenal lagi dan meminta obat yang lebih ‘dewa’ lagi supaya anaknya sembuh. Tes darah berulang kali dilakukan, karena diagnose dokter bias antara gejala DB dan gejala thypus. Tapi tetap saja sampai akhirnya si demam reda masih tidak jelas apa sebetulnya penyakit yang dialami anak (padahal sudah minum banyak obat-obatan dan berulang kali harus ditusuk jarum….hiyyy kasihan banget yah).

Contoh lain : ketika anak diare atau muntah-muntah, saya yakin yang ada dalam pikiran kebanyakan ortu adalah : segera menghentikan diare dan muntahnya. Maka tergopoh-gopohlah ortu ke dokter meminta resep obat penyetop diare dan muntah. Begitu juga ketika anak mengalami batuk-pilek, nggak tahan mendengar anak batuk terus menerus, akhirnya membeli obat batuk yang katanya super ‘ces pleng’ yang isinya mengandung codein semacam obat penenang yang sudah tidak direkomendasikan lagi diminum oleh anak-anak. Ada teman saya yang dengan bangganya cerita pada saya bahwa anaknya kena sakit cacar air (varicella), berobat ke dokter diberi resep yang ketika ditebus di apotek harganya sampai setengah juta rupiah…wow!!! Padahal cacar air penyebabnya virus bisa sembuh sendiri tanpa harus minum obat -_-“.

Dari contoh-contoh di atas bisa terlihat bahwa ketika menghadapi anak sakit, tindakan orang tua lebih banyak dilakukan untuk ‘mengobati’ kepanikan dirinya sendiri, tanpa mau melihat dan menimbang, kira-kira apa efek sampingya untuk anak jika diberikan obat-obatan yang seharusnya tidak perlu diberikan.

Demam bukan penyakit, tapi merupakan gejala suatu penyakit, demam  bermanfaat bagi tubuh untuk mematikan kuman-kuman penyakit. Pada saat demam, justru fokus kita seharusnya pada pemberian cairan, karena pada saat demam cairan tubuh menguap dan harus segera diganti supaya tidak dehidrasi. Ya, bahaya dari demam bukanlah tinggi atau rendahnya suhu tubuh, tapi waspada dengan DEHIDRASI atau kekurangan cairan tubuh. Ganti segera cairan tubuh dengan sering memberikan anak minum air putih. Buat catatan demam, ukur suhu tubuh dengan thermometer bukan dengan telapak tangan kita, dan berikan obat penurun panas yang paling aman untuk anak yang mengandung paracetamol sesuai dosis, yaitu 10-15mg/berat badan anak. Jika sudah diminumkan paracetamol suhu badan tak kunjung turun, atau sudah turun lalu naik lagi, jangan panic…karena paracetamol fungsi utamanya bukan untuk menurunkan panas tapi lebih untuk memberikan kenyamanan pada anak.

Diare dan muntah adalah salah satu cara tubuh untuk mengeluarkan racun, ketika anak mengalami diare dan muntah, jangan berfikir untuk segera menghentikannya dengan meminumkan obat anti muntah or anti diare. Kasihan dong kalau gak bisa keluar, racunnya terjebak dalam tubuh. Hal yang harus dilakukan pada saat anak terkena diare dan muntah adalah segera gantu cairan tubuh yang keluar. Sama seperti demam, diare dan muntah bisa menyebabkan DEHIDRASI. Berikan anak minum sesering mungkin ditambah ORS (oral rehydration solutions) misalnya oralit..

Demikian dengan batuk-pilek juga merupakan cara tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang ada di saluran nafas, obatnya juga berikan minum yang banyak, agar dahak bisa terpancing keluar dan tenggorokan tidak kering. DEHIDRASI adalah bahaya yang sering tidak disadari oleh para ortu ketika anaknya sakit, cegahlah dengan sering memberikan anak minum *bukan panic dan harus memberikan anak obat*

Jika pradigma diubah menjadi : Anak Sakit = Wajar, maka yang diperlukan oleh orang tua menghadapi anak sakit adalah : memperbanyak stok SABAR. Tentu saja tidak lupa ortu juga wajib dibekali dengan pengetahuan seputar penyakit anak dan tanda-tanda kegawatdarutan pada anak yang harus segera ditangani di rumah sakit. Seperti halnya kita sebagai orang dewasa, ketika demam misalnya, badan rasanya sakit semua, kepala nyut-nyutan, tulang seperti ditusuk-tusuk, inginnya berbaring istirahat di rumah. Coba bayangkan dalam keadaan demikian kita harus mengantri di rumah sakit….duhh bakalan tambah sakit rasanya. Belum lagi harus minum obat-obatan yang rasanya pahit dan jumlahnya banyak….belum lagi harus berulang kali ditusuk jarum untuk diambil darah…aduhhh . Tapi sebaliknya jika istirahat di rumah, banyak minum dan makan makanan yang enak dan bergizi, hanya dengan istirahat yang cukup, beberapa hari kemudian badan kita akan sehat kembali. Hal yang sama dirasakan oleh si kecil, ketika sakit pastilah dia rewel, ingin digendong terus, nafsu makan pun berkurang karena mulutnya pahit. Yang diinginkan si kecil ketika sakit adalah pelukan, kasih sayang dari ortu.

Mengutip quote dari dr. Purnamawati, SpAK : “The real pediatrician is the parents themselves” .  Menurut saya hal  ini adalah salah satu alasan kuat kenapa orang tua harus wajib mempelajari ilmu kesehatan anak. Karena ortulah yang paling tahu segalah hal tentang anak, ketimbang dokter atau tenaga kesehatan dan keputusan terbaik untuk anak ada di tangan ortunya.  Mempelajari tata laksana penyakit dan menghafalkan tanda kegawatdarutan pada anak tentunya akan sangat menguntungkan bagi keluarga kita. Saat ini ilmu kesehatan anak bisa dipelajari melalui situs yang terpercaya seperti :

- http://milissehat.web.id

- http://kidshealth.org

- http://mayoclinic.com

- http://who.int

- http://aap.org

Selamat Belajar Ya !

“Kejuaraan Taekwondo”

kejuaraan taekwondo

Sejak duduk di bangku kelas 3, Naufal ikut ekskul taekwondo di sekolahnya atas kemauannya sendiri. Ekskul gitar terpaksa ia tinggalkan karena gitarnya rusak :( duuh sedihnya.

Latihan taekwondo setiap hari sabtu pagi di sekolah rutin ia jalani sejak semester awal kelas 3. Lumayan, setelah ikut ekskul bela diri asal korea ini, ia terlihat lebih PD. Sudah nggak takut lagi sama teman-teman yang suka nakal sama dia.

Awal bulan Januari kemarin, ada pengumuman dari pelatihnya bahwa akan ada kejuaraan taekwondo di Balikpapan. Naufal dengan PD nya pada saat itu juga langsung ingin ikut mendaftar. Modal nekad ceritanya, saya dan Papa Noor akhirnya mengijinkan ikut, mumpung dia yang mau sekalian uji nyali dan pengalaman berharga untuk dia.

Kalo dipikir-pikir, latihan cuma seminggu sekali sebetulnya mungkin kurang maksimal. Dia baru ban putih dan baru latihan 6 bulan….haduhh kok nekad ya ikut tarung.

Persyaratan yang harus dipenuhi pada saat mendaftar adalah : foto copy akte kelahiran, pas foto, surat keterangan sehat dari dokter, menyerahkan formulir dan membayar uang pendaftaran. Setelah persyaratan lengkap, dikumpulkan ke pelatih, kemudian dilakukan penimbangan berat badan. Naufal masuk ke kelas under 30 kg usia 6-8th.

Hari ‘H’ pun tiba, pagi-pagi kita sekeluarga mengantar Naufal ke GOR Banua Patra Balikpapan, tempat dilangsungkannya Kejuaraan Taekwondo. Ini ada untuk pertama kalinya Naufal mengikuti kejuaraan, tentunya menjadi pengalaman yang sangat berharga buat dia.

Pukul 07.00 wita semua atlet sudah berkumpul di GOR untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah pemanasan, dilakukan gladi bersih upacara pembukaan. Barulah pukul 10.30 wita dimulai upacara pembukaan yang diresmikan oleh asisten walikota. Setelah upacara selesai, para panitia bersiap-siap memulai kejuaraan. Persiapannya memakan waktu lumayan lama karena ada ketidakpuasan dari perwakilan kontingen. Mereka protes karena pembagian kelas tanding tidak fair. Akhirnya para panitia, tim juri dan pelatih berunding lagi, sampai kahirnya mereka memutuskan keputusan yang dianggap fair oleh semua pihak. Setelah beres urusan protes, sekarang masuk ke persiapan pertandingan, wasit, peralatan untuk menilai dan sebagainya…….pokoknya saya baru tau kalau mau mulai tanding tuh luamaaaa banget-banget dah!

Iya, sodara-sodara…..padahal kita udah ada di GOR pk. 07.00, mulai upacara pk.10.00 dan pertandingan baru dimulai pk. 11.30 wita. Kebayang kan….lamaaaa. Dan anak kita baru dapet giliran tarung/tanding pk. 19.30 wita…..nunggu 12 jam lebih di GOR. Maaf norak, karena saya baru tau hal ini *ehem*.

Begitu pertandingan dimulai, Radit demam…badannya panass banget :( , untung ngga rewel, dia tiduran aja di bangku penonton, sambil saya ‘banjur’ tenggorokannya dengan air minum sedikit demi sedikit. Sampai magrib tiba, Naufal tak kunjung dipanggil, saya memutuskan untuk pulang dulu ke rumah. Sampai di rumah Papa Noor dan Naufal mandi dan shalat magrib dulu, kemudian berangkat lagi ke GOR, sementara saya menuggu Radit di rumah yang tiduran terus dengan badan demam :( .

Jadi kesimpulannya saya mah nggak liat langsung Naufal bertanding. Alhamdulillah Naufal sabar menunggu dan nggak rewel minta macem-macem. Pada kejuaraan kali ini Naufal belum menang, tapi saya dan Papa Noor mengucapkan terima kasih pada Naufal karena sikapnya yang sabar dan baik pada hari ini, ketika bertanding pun, Naufal tidak merasa takut malah dia PD banget.

Hari ini merupakan pengalaman pertama kali dan tidak akan pernah terlupakan oleh kami sekeluarga. Semoga pengalaman kali ini membawa manfaat besar bagi kehidupan Naufal kelak, amin. Thanks Naufal, we proud of you!

Menanam Pohon Menanam Harapan

Bibit Mangga

Bibit Mangga


Mencangkul

Mencangkul


Menanam

Menanam


pohon Ibu-Papa

pohon Ibu-Papa


Pohon : Raditya, Ibu-Papa, Naufal

Pohon : Raditya, Ibu-Papa, Naufal

Ceritanya di depan rumah dinas yang sekarang kami tempati ini ada sepetak tanah nganggur. Tanah tersebut hanya ditumbuhi rumput liar. Karena tidak memiliki pagar, para tetangga dan orang yang lalu lalang di depan rumah dengan bebasnya menginjak-injak tanah tersebut, bahkan tidak segan mereka membuang sampah di tanah itu. Sempat terbesit dalam pikiran mau disemen aja, tapi niat itu urung dilaksanakan mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan kalau di semen, nanti tidak ada resapan air. Jika tidak ada resapan air maka ketika hujan deras bukannya tidak mungkin air bisa masuk ke dalam rumah.

Cukup lama sepetak tanah di depan halaman rumah kami itu dibiarkan begitu saja. Jika banyak hujan, rumput akan tumbuh lebih subur dari biasanya, dan kebetulan di Balikpapan ini hujan dan kering datang silih berganti setiap hari. Menyebabkan tumbuhan tumbuh dengan subur. Demikian juga rerumputan yang tumbuh di halaman depan rumah kami, dalam satu bulan sudah terlihat panjang dan halaman depan rumah terlihat seperti padang ilalang. Kalau sudah terlihat seperti padang ilalang, nggak ada orang yang berani menginjak-injak halaman kami dengan seenaknya. Sepertinya orang-orang pada takut ada binatang buas yang bersarang di dalamnya.

Ketika rerumputan sudah menyerupai padang ilalang, kami dihadapkan pada dua dilema. Di satu sisi merasa beruntung karena orang-orang nggak seenaknya menginjaki halaman rumah. Tapi di sisi lain rupanya rerumputan panjang seperti itu diminati oleh kucung-kucing tetangga yang setiap hari semakin rajin numpang pup di halaman kami :( . Efeknya….kami harus mencium bau tak sedap setiap saat ketika keluar rumah atau sekedar membuka pintu :( .

Biasanya setiap bulan tukang kebun komplek secara rutin membabat rumput di setiap halaman rumah warga komplek pajak. Nanti kalau sudah dibabat dan tampak bersih, mulai lagi orang-orang seenaknya menginjak-injak halaman kami, dan ketika si rumput sudah tumbuh panjang seperti ilalang, mulailah kucing-kucing tetangga rajin mendatangi halaman kami untuk pup, begitulah setiap waktu silih berganti.

Namun demikian, kami belum berniat untuk menyemen tanah tersebut, karena kami lebih memikirkan dampaknya bagi lingkungan. Selama setahun setengah tinggal di sini, kami berusaha sabar menerima kondisi halaman depan rumah yang seperti itu. Sabar sambil terus berpikir akan dijadikan apa tanah kosong ini? Sampai suatu ketika di awal tahun baru kemarin, saya membabat sendiri rerumputan yang sudah panjang-panjang di halaman depan, dengan maksud ingin membuat perubahan di awal tahun. Menggunakan gunting biasa, saya habiskan si rumput dengan memakan waktu 2,5 jam saja, yang menyebabkan badan saya sakit semua.

Setelah melihat istrinya bersusah payah membabat habis rerumputan, halaman terlihat bersih dan kece, suami pun tergerak hatinya untuk segera menanami tanah kosong tersebut. Berbekal tanya ke tetangga, akhirnya ada tetangga yang berbaik hati memberikan kami bibit pohon mangga yang berasal dari bijinya. Pak Asep, nama tetangga yang memberikan kami biji pohon mangga itu, memberi kami tiga buah bibit pohon. Karena tanah yang ada di halaman kurang bagus untuk ditanami, maka kami harus membeli tanah hitam dan pupuk organik terlebih dahulu di tukang tanaman di daerah Jl Ruhuy Rahayu.
Setelah persiapan untuk menanam lengkap, pertama-tama kami mencangkul tiga buah lobang. Lalu kami mencampur tanah hitam yang sudah mengandung pupuk dengan pupuk organik. Setelah dicampur, kami masukkan campuran tanah dan pupuk tersebut ke dalam lobang, lalu kami tanam bibit mangga yang sudah keluar batang dan daunnya. Selesai menanam, tanah di sekitar bibit dirapihkan dan disiram.

Anak-anak turut serta ambil bagian dalam proses menanam ini. Mereka senangnya bukan main, setiap pohon diberi namanya masing-masing, yaitu pohon : Naufal, Raditya dan Ibu-Papa. Kami memberi tugas pada anak-anak untuk tidak lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Kami juga mengajari anak-anak untuk menyayangi pohon yang baru saja ditanam bersama-sama, karena menanam pohon adalah menanam harapan untuk masa depan. Meskipun mungkin ketika tiga pohon mangga itu tumbuh besar dan menghasilkan buah kami sudah tidak ada di sini, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat untuk orang yang menempati rumah dinas ini nantinya dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah ini, amin.

Melewati Malam Pergantian Tahun 2012 di Balikpapan

Ini adalah pertama kalinya saya sekeluarga menghabiskan malam tahun baru di Balikpapan. Pasti di setiap tempat memiliki kebiasaan berbeda dalam menyambut malam pergantian tahun. Sebetulnya mau tahun baru atau enggak buat kami sekeluarga sih biasa aja, sama seperti hari-hari yang lainnya, nggak ada yang istimewa.

Nah, ceritanya tgl 31 Desember 2012, saya dan anak-anak masih menikmati liburan di rumah. Menjelang sore kok ingin jalan-jalan ke mall ya? Akhirnya kita jalan tuh sore-sore naik angkot. Sudah janjian sama Papa, pulang dari mall minta dijemput.

Di sepanjang perjalanan angkot, saya cukup surprise melihat banyak penjual jagung dan ikan laut di pinggir jalan yang biasanya pemandangan seperti itu nggak ada kalau hari biasa. Ikan yang dijual pun ukurannya besar-besar. Biasanya kan kalau malam pergantian tahun banyak yang jualan terompet di pinggir-pinggir jalan, tapi kali ini justru banyak yang jual ikan laut ukuran jumbo dan jagung bakar yang belum dikupas kulitnya. Malah yang jual terompet kalah banyak sama yang jualan ikan.

Setelah jalan-jalan di mall, akhirnya Papa menjemput kami. Kami pun pulang ke rumah, lalu menjalani rutinitas sebagaimana biasanya. Sampai ketika tiba saatnya tidur kira-kira pk. 21.00 wita, sudah menggelar kasur di kamar, lampu juga sudah dimatikan. Tiba-tiba tetangga depan rumah membunyikan musik cukup keras, yang bikin kita nggak bisa tidur, kemudian Naufal dan Radit penasaran ingin melihat keluar. Ternyata menurut laporan anak-anak yang melihat keluar rumah, tetangga di depan sedang menyiapkan 4 tempat pembakaran, meja, kursi, jangung, ikan,dan udang yang masih mentah. Woww….mereka mau bikin pesta pikir saya. Anak-anak mondar mandir keluar masuk rumah, mereka kegirangan ada rame-rame di depan rumah. Lalu mereka bilang kalau ibu depan rumah mengundang kita untuk gabung makan-makan dengan mereka. Waduh…jadi enak nih diundang makan, tapi jadi kepikiran, mo nyumbang apa yaa?? Tadi sore masak buat makan malam jumlahnya pas. Di kulkas lagi nggak punya apa-apa. Akhirnya saya minta tolong Naufal beli soft drink di warung dekat rumah, lalu kita sumbangkan soft drink buat meramaikan acara malam itu :) .

Sejam setengah kemudian, hasil bakar-bakaran matang, saya yang memang lagi ngantuk berat, memilih tetap berada di dalam rumah, sedangkan anak-anak masih di luar rumah, tiba-iba Naufal masuk ke rumah sambil membawa sepiring hasil bakar-bakaran berupa : 2 udang ukuran besarr, 1 ikan bawal jumbo, 2 jagung bakar, plus sambel dan lalapannya. Woww!! Nggak berapa lama, Naufal masuk lagi membawa 2 tusuk jagung bakar dan 2 tusuk udang lagi. Suasana di depan rumah semakin ramai, anak-anak juga ikut nimbrung di depan. Menjelang pk. 24.00 wita, acara makan berakhir, gotong royong membersihkan bekas pembakaran, lalu disambung dengan main kartu bapak-bapaknya, sementara anak-anak mudanya pada pergi naik motor. Dari depan rumah kembang api mulai bermunculan di langit, cantik sekali.
Suasana malam pergantian tahun yang sangat berkesan buat saya sekeluarga, tidak ada suara petasan, semuanya berbaur bergotong royong.
Pk. 01.00 wita kami sekeluarga tidur, sudah nggak kuat lagi.

Keesokan harinya, saya sebagai ibu-ibu selalu bangun lebih pagi dari anggota keluarga lainnya. Habis shalat dan masak nasi, saya melihat ke halaman depan rumah saya. Rumputnya sudah gondrong sekali, biasanya setiap bulan ada yang motong rumput dari komplek, tapi ini sudah sebulan nggak ada tukang potong rumput. Tak lama kemudian saya mengambil kerudung, sarung tangan plastik dan gunting biasa, lalu keluar rumah. Yup, saya mau membabat rumput yang sudah pada gondrong itu. Saya mulai dari tepi ujug lalu perlahan maju ke depan, membabat habis rumput yang gondrong dengan gunting biasa…hehehe :) . Nggak terasa, sudah habis si rumput saya guntingin. Papa keluar rumah bawa sapu lidi dan karung, dia yang ngumpulin dan masukin rumput ke dalam karung, lalu disapunya halaman kami. Nggak sampai situ aja, got di depan halaman terlihat banyak sampah dan ditumbuhi rumput juga, saya ambil semua sampahnya dan saya babat tumbuhan yang tumbuh di got itu sampai bersih. Akhirnya bersih, rapih dan kece halaman saya :) …Yeahh…puas rasanya.
Abis itu, eh ternyata Acil nggak datang kerja, saya nyuci baju, nyuci piring-piring, nyipain makan siang. Sudah semuanya beres, saya mandi dan keramas, makan siang lalu istirahat. Dan ternyata sodara-sodara….ketika berbaring di kasur butut, badan saya mulai terasa pegal linu….haduhhh…..kaki,tangan,pinggang…semuanya sakitttt, jari saya juga ada yang luka, dan saya baru sadar pas sudah berbaring itu. Rupanya 2,5 jam merumput, eh kok merumput ya…memangnya saya sapi gitu? Maksudnya setelah 2,5 jam saya motong rumput pake gunting itu bikin sekujur tubuh saya sakitttt :( . Meskipun sakit, ketika melihat halaman depan yang sudah kece itu, ada rasa puas dan happy :)

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 224 other followers