1

Au Revoir (2)

Amanda

Tiba-tiba ada pesan masuk melalui whatapps, awalnya aku tidak tahu siapa yang mengirimkan wa ini karena nomornya tidak tersimpan dalam memory hp ku, mungkin dari salah satu nasabah ku.

“Wa’alaikumsalam, maaf ini siapa?”

“Hai Amanda, aku Rangga. Aku rekan kerjanya Pak Fajar.”

Ups, aku salah ternyata ini Rangga temannya Mas Fajar. Ah, sial kenapa foto profilnya gambar pemandangan sih? Bagaimana aku bisa tahu rupanya seperti apa.

“Hai Rangga.”

“Amanda belum tidur?”

“Iya, sebentar lagi saya mau tidur.”

Haduhh….jawaban macam apa ini, aku menjawab apa adanya.

“Mengganggu gak nih?”

“Enggak.”

“Saya dapat no hp Amanda dari Pak Fajar, kemarin saya bertemu beliau.”

“Oh iya, Mas Fajar kakak ipar saya.”

“Boleh kenalan gak?”

“Boleh aja. Ehm..Rangga, kok profil picturenya gambar pemandangan sih? Boleh nggak aku liat fotonya yang asli?”

Hahaha…mendingan nanya terus terang dari pada penasaran.

“Boleh, sebentar ya aku kirim.”

Hmm…..fotonya masuk….owh, ini rupanya Rangga, manis juga.

“Sudah lihat foto ku?”

“Sudah.”

“Awas kalau bilang keren!”

“Hahahaha.”

Kamu cukup manis kok, sahut ku dalam hati.

“Amanda kerja di bank ya?”

“Iya.”

“Di bagian apa?”

“Marketing.”

“Suka baca nggak?”

“Suka.”

“Aku juga suka baca.”

Malam itu untuk yang pertama kalinya kami chatting di whatsapp sampai satu jam lebih, dan berakhir sampai aku ketiduran….karena nggak kuat menahan kantuk. Dia pasti sudah bisa menebak selain hobby membaca aku hobby tidur. Lumayan, orangnya asyik diajak ngobrol, nggak sombong, apa adanya dan humoris. Keesokan harinya aku dan Rangga masih saling menyapa dan mengobrol melalui wa. Dan sejak saat itu sapaan-sapaan dari Rangga mulai mengisi hari-hari ku.

“Hey, lagi ngelamun ya? Kok senyum-senyum sendirian nggak jelas begitu?”, tegur Teh Linda senior ku di kantor.

“Eh…ada apa…ada apa Teh Linda?”, jawabku gugup karena baru tersadar dari lamunanku.

“Hayo…punya pacar baru ya? Kok belum cerita sih?”, tanya Teh Linda lagi.

Aduh…si Teh Linda main tembak aja nih, memangnya aku tadi lagi ngelamun ya? Apa?? Sambil senyum-senyum sendiri pula? OMG!

“Hehehe… Kenapa Teh, mau traktir Manda makan siang? Hayu lah siap.” Aku berusaha menyembunyikan rasa salah tingkah di depan Teh Linda.

“Hahaha…..kamu bisa aja, hayu lah saya traktir yuk, lagian udah lama kita gak ngerumpi. Tapi ada syaratnya loh!”

“Ah, pake syarat segala….memang apa syaratnya?”

“Kamu harus cerita ya kenapa tadi ngelamun sambil senyum-senyum sendiri….hehehe.”

“Hahaha….”

Teh Linda sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri. Sejak pertama kali bekerja di sini, Teh Linda adalah orang yang paling welcome diantara para senior yang lain. Hubungan kami cukup dekat, dan seperti punya indera ke-6, Teh Linda selalu bisa menebak apa yang sedang terjadi pada diriku. Seperti siang ini, ketika dia memergoki aku sedang melamun,mau nggak mau aku harus cerita kalau tidak mau dia penasaran setiap hari.

“Jadi, udah dapet gebetan baru nih?” tanya Teh Linda sambil menyeruput es tehnya.

“ Baru kenalan Teh.”

“Orang mana?”

“Orang Surabaya, bekas teman kantornya Mas Fajar.”

“Bagus donk, masa depan cerah…..hehehehe.”

“Ya nggak tahu juga Teh, orang baru kenalan.”

“Bagaimana orangnya? Cakep nggak? Baik nggak?” Teh Linda mulai mencecarku dengan pertanyaan.

“Tampangnya lumayan manis lah. Kata Mbak Risma dan Mas Fajar sih orangnya baik, rekomended makannya dikenalin ke Manda.”

“Terus…..apa yang bikin kamu akhir-akhir ini jadi sering senyum-senyum sendiri?”

“Hahahaha…..masa sih Teh?”

“Iya, tuh Pak Dendy sampai nanyain soal kamu ke Teteh.”

“Ehm..orangnya lain Teh.”

“Lain gimana?”

“Manda baru kenal cowok tipe seperti ini. Biasanya cowok yang dikenalin ke Manda kelihatan dari gaya bicaranya arogan dan sombong. Nah kalo ini orangnya kelihatan tampil apa adanya, humoris pula.” Jawabku sambil mengaduk-aduk sendok ke dalam gelas es teh manis.

“Tuh kan, kamu senyum-senyum lagi.” Kata Teh Linda

“Hehehehe.”

“Naksir pada sapaan pertama ya?” lanjutnya lagi.

“Manda nggak mau GR dulu Teh, kita lihat aja bagaimana kelanjutannya.” Kataku sambil menghabiskan es teh manis. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, sudah waktunya kami mengakhiri sesi makan siang dan kembali ke kantor.

 

Rangga

Baru dua minggu sejak menyapa Amanda Putri, hari-hari ku rasanya kini berbeda. Pagi, siang, sore dan malam aku selalu ingin menyapanya. Biasanya aku malas berurusan dengan hand phone, selain harus menelpon Ibu dan Bapak di kampung dan ditambah lagi aku tipe orang yang malas menyapa orang melaui sms, atau whatsapp.. Tapi sejak kenalan dengan Amanda, setiap menit aku selalu melihat hp dengan penuh harapan Amanda juga menyapaku.

Sore itu aku sedang leyeh-leyeh di serambi rumah, aku sedang pulang kampung. Ku lihat Ibu sedang menyirami tanaman bunga yang tumbuh di pekarangan. Tak lama kemudian setelah semua bunga tersirami, Ibu menghampiri ku.

“Kamu kok tumben Le, nggak ke rumah si Budhi sahabat mu itu. Kok malah duduk-duduk di sini sambil dari tadi Ibu lihat kamu pencat-pencet hp terus?” tanya Ibu

“Ini Bu, aku baru kenalan dengan perempuan, namanya Amanda Putri. Dia adiknya Pak Fajar, kepala seksi waktu aku masih ngantor di Banjarmasin kemarin.”

Ibu adalah sahabat baikku, dia wanita yang penuh pengertian, sejak kecil aku sampai dewasa aku sudah terbiasa ngobrol apa saja dengan Ibu. Tidak ada rasa sungkan atau malu,kujawab pertanyaan Ibu apa adanya.

“Sudah lama kenalannya?”

“Baru dua minggu Bu.”

“Sudah pernah ketemu?”

“Belum Bu, baru ngobrol-ngobrol saja lewat whatsapp.”

“Loh, kok belum pernah ketemu?”

“Iya soalnya Amanda tinggal di Bandung Bu.”

“Owalah jauh yo Le. Seperti apa orangnya Le? Ada fotonya nggak? Coba Ibu kepingin lihat.” Nah, ibu mulai penasaran. Kutunjukkan foto Amanda kepada Ibu.

“Ini Bu orangnya.”

“Ayu yo Le, wong Mbandung tah?”

“Iyo Bu.”

“Koyok opo Le arek ne?”

“Baik Bu, insyaAllah solehah.”

“Yaw is sing penting arek e solehah, kamu bisa nyaman dan nyambung dengan dia.”

“Bu, aku boleh ndak pergi ke Bandung? Menemui Amanda.”

“Kapan Le?”

“Akhir bulan ini Bu, pas ada libur panjang.”

“Ya silahkan Le, kamu kan sudah dewasa. Ibu cuma bisa bantu doa, semoga kamu diberikan jodoh yang terbaik buat kehidupan dunia dan akherat mu kelak.”

“Aamiin. Maturnuwun nggih Bu.”

“Kamu mau disiapkan oleh-oleh opo Le untuk dibawa ke Mbandung nanti?”

“Ndak usah Bu, ngerepoti Ibu.”

“Ndak apa-apa Le, nanti Ibu siapkan oleh-oleh khas daerah kita. Hari kamis depan Ibu titipkan Mas mu, kebetulan dia mau ke Surabaya.”

“Nggih Bu, maturnuwun.”

“Iyo, sampaikan salam Ibu untuk Amanda ya Le.”

“Nggih Bu.” Jawabku, sambil mencium telapak tangannya.

Ibu sudah memberi restu, sedangkan Bapak kalau Ibu setuju beliau juga pasti setuju. Sekarang bagaimana caranya aku ngomong ke Amanda kalau aku mau ke Bandung menemuinya.

 

(bersambung)

 

 

2

Au Revoir (1)

Amanda

Jam dinding di kantor masih menunjukkan pukul empat sore, masih satu jam lagi waktunya pulang. Jemari lentik perempuan yang beberapa minggu lagi berusia 24 tahun itu masih lincah menekan-nekan keybord laptop di meja kerjanya. Sesekali ujung bola matanya melirik ke arah hp yang sengaja ia letakkan persis di sebelah laptopnya. Sore itu ia harus menyelesaikan proses akad kredit yang baru kepada nasabahnya. Lampu signal pada hpnya berulang kali berkedip-kedip. Pikirannya resah, bukan karena sedang dikejar dead line untuk menyelesaikan proses akad kredit nasabahnya sore itu, namun ada hal lain yang mengusiknya beberapa hari belakangan ini.

“Kamu harus segera mencari pasangan hidup.” Kata-kata Mama masih saja terngiang-ngiang di telingaku. Aku termasuk gadis yang agak sulit bergaul dengan lawan jenis. Mungkin karena sifatku yang sedikit judes dan galak, ditambah lagi penampilanku yang mungil dengan berat badan yang agak kelebihan bobot. Meskipun aku hampir berumur 24 tahun aku hanya punya pacar satu kali. Itu pun kini sudah kandas, karena si mantanku itu terlalu menuntut banyak perubahan fisik dari diri ku. Ya, dia malu karena berat badan ku tidak proposional dimatanya. Saat itu aku pun mati-matian berdiet serta diiringi dengan fitness. Lumayan, akhirnya berat badan ku bisa turun. Namun, entah mengapa dia tetap saja merasa kurang puas dengan usaha yang telah aku lakukan. Aku turuti semua kemauannya untuk bisa berpenampilan terbaik ala hijabers, tetap saja tidak ada perubahan positif dalam hubungan kami, lalu aku memutuskan untuk mengakhirinya saja. Capek.

Setelah putus dengan lelaki itu, orang tua, saudara, bahkan sampai teman-teman kantor ku mulai membantu aku hunting jodoh. Mereka sibuk sekali, mungkin khawatir takut aku menjadi perawan tua. Ditambah lagi semua rekan ku di kantor sudah menikah, tinggal aku sendiri yang punya pacar saja belum. Aku pun berkenalan dengan banyak laki-laki, mulai dari yang berprofesi sebagai tentara,bankir, pns, wiraswasta dan lain-lain. Hasilnya nihil. Entah kenapa rasanya tidak ada yang ‘sreg’ di hati. Mulai dari obrolannya yang nggak nyambung, terlalu kelihatan matre, terlalu menilai aku dari segi fisik dan penampilan….atau mungkin aku yang terlalu pemilih, entahlah.  Aku juga merasa malas karena kebanyakan ketika berkenalan dengan laki-laki mereka selalu menuntut aku lebih, tidak bisa menerima aku apa adanya. Aku hanya ingin menanti seorang pangeran tampan nan baik hati yang mau menjemputku dan melamarku menjadi istrinya, kemudian aku dibawanya pergi ke istana…bak dongeng dalam cerita Cinderlela. Melihat tidak ada usaha yang dilakukan oleh ku untuk mencari jodoh, Mama akhirnya mengeluarkan ultimatum agar aku  segera mencarinya. Oh my God!! Mau cari kemana??

Aku berstatus jomblo di usia hamper 24 tahun, adalah lulusan sebuah universitas ternama di Bandung dengan nilai IPK di atas tiga. Saat ini sedang meniti karier di sebuah bank . Wajahku cukup manis, orang-orang bilang aku seperti orang arab, memiliki mata yang bulat, alis tebal dan bulu mata yang lentik, setelah berdiet ya lumayanlah sudah agak kelihatan kurus. Pintar berbahasa Inggris, jago naik motor, nyupir mobil, terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga sehari-hari (karena di rumah ku tidak ada pembantu), terampil mengurus anak-anak kecil para keponakan yang dititipkan oleh kakak-kakak ku, hobby membaca dan berenang, aku adalah anak rumahan karena keseharianku dihabiskan bersama kedua orang tuaku. Semuanya aku punya kecuali jodoh yang tak kunjung datang.

Sampai suatu malam ketika aku sedang leyeh-leyeh bersama kedua orang tuaku di rumah, datang whatsapp dari kakak perempuanku yang kini tinggal di Banjarmasin. “Kamu mau nggak dikenalin sama teman kantornya Mas Fajar?”, begitu isi wa-nya (Mas Fajar adalah suami dari kakak perempuanku). Aku menanggapi isi wa itu dengan biasa saja, karena memang sudah biasa dikenal-kenalin seperti itu. “Boleh”, jawabku singkat. Orang macam apa lagi yang akan dikenalkan kepada ku kali ini, pikir ku dalam hati. Sesaat aku ingat kembali ‘ancaman’ dari Mama untuk segera mencari jodoh. “Namanya Rangga,  usianya lebih tua setahun sama kamu, sekarang dinasnya di Surabaya, orangnya rekomended,” seperti bisa membaca pikiranku tiba-tiba kakak ku mengirimkan wa.

Selang dua hari, tak kunjung datang kabar dari kakak perempuanku, iseng aku telpon dia,”Kak, mana katanya mau dikenalin, kok nggak ada kabarnya?”

“Oh iya sebentar, ini Mas Fajar sedang pedekate dulu sama orangnya. Tunggu ya”, jawab kakak perempuan ku dari ujung telepon. Baru keesokan harinya, kakak ku mengirimkan wa, “Oke, no telpon kamu sudah kami beri ke orangnya, selamat berkenalan.” “Thanks Kak”, jawabku. Kini aku tinggal menunggu dihubungi. Ternyata tidak perlu menunggu lama, malam itu Rangga menyapa ku melalui whatsapp.

 

Rangga

Akhirnya aku dipindahkan ke kantor di Surabaya, impian untuk dekat dengan kampung halaman pun terkabul sudah. Aku masih harus beradaptasi dengan kantor baru ini, aku beruntung karena berada di lingkungan ramah. Mencari tempat kost yang lokasinya tidak begitu jauh dari kantor pun menjadi lebih mudah dengan bantuan rekan-rekan di kantor. Rasanya aku bisa bernafas lega sekarang, tak perlu khawatir lagi berada jauh di pulau seberang dari tempat tinggal Ibu dan Bapak ku. Setiap minggu aku bisa dengan mudah mengunjungi mereka di kampung. Aku merasa optimis dan sangat bergairah menata masa depan ku di kota ini.

Baru saja aku sampai di kamar kos sehabis pulang dari mesjid untuk shalat isya dan makan malam di warung tak jauh dari tempat kost, tiba-tiba ada pesan dari whatsapp masuk di hp ku. Aku merebahkan badan di kasur, lau membuka hp. Ada wa dari Pak Fajar kepala seksi di kantor Banjarmasin, atasan ku ini rupanya minggu depan akan melakukan perjalanan dinas ke Surabaya. Dia menanyakan mengenai lokasi, dan alat transportasi menuju hotel dan venue. Sebetulnya aku belum terlalu hafal mengenai seluk beluk kota ini, jadi tidak banyak yang bisa aku informasikan ke Pak Fajar. Aku pun berjanji akan menemuinya nanti kalau ia sudah di Surabaya, Pak Fajar termasuk orang yang dekat dengan ku sewaktu aku masih berkantor di Banjarmasin.

Jumat besok, sepulang dari kantor aku berencana mengunjungi Ibu dan Bapak ku di Lumajang. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak ku sudah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan cantik yang berusia tiga tahun, tinggal juga di Lumajang tak jauh dari tempat tinggal orang tua ku. Sedangkan aku, sejak kuliah aku sudah merantau ke Jakarta, karena secara tidak sengaja aku diterima di sebuah sekolah kediinasan milik pemerintah. Tadinya aku hanya iseng menemani teman sekelas ku ketika SMA yang mendaftar, ternyata takdir berkata lain, teman ku ini tidak lulus tes, sedangkan aku dinyatakan lulus dan aku pun hijrah ke Jakarta. Untuk pertama kalinya aku berjauhan dengan kedua orang tua ku. Sedih, tapi apakah aku harus menyia-nyiakan kesempatan emas ini, sementara hanya ada segelintir orang yang dapat diterima bersekolah di sini dan ratusan ribu lainnya tidak lulus seleksi. Waktu kuliah aku kurang maksimal belajar, karena pikiran ku tak bisa lepas dari kampung halaman, setiap minggu aku pulang. Sehingga aku tidak berhasil mendapatkan predikat cum laude,ah nyaris saja aku mendapatka predikat itu. Tiga tahun berselang, tak terasa akhirnya kelulusan pun tiba, kedua orang tua ku datang ke Jakarta untuk menyaksikan anak bungsunya diwisuda. Setelah diwisuda aku kemudian ditempatkan bekerja di Banjarmasin.

Banjarmasin, semakin jauh dari kampung halaman dan kedua orang tua ku. Ibu dan Bapak menguatkan aku supaya aku tegar menjalani hidup di perantauan. Hal ini yang kemudian memotivasi aku untuk berjuang. Aku berusaha dan bersungguh-sungguh bekerja salah satunya untuk menghilangkan rasa ingin pulang ke kampung halaman. Hari-hari di Banjarmasin kuhabiskan dengan bekerja dan bekerja. Di usia ku yang 25 tahun ini aku belum memikirkan pendamping hidup dan tidak pernah berusaha mencarinya, dengan kata lain, aku belum pernah punya pacar.

Sampai ketika aku bertemu dengan Pak Fajar. Pulang dari kantor aku menjemput ke hotel tempat Pak Fajar menginap, kemudian Pak Fajar meminta aku untuk mengantarnya berjalan-jalan di kota Surabaya. Lalu kami ke toko oleh-oleh, kemudian mencari makan malam sate KlopoOndomohen di Jalan Walikota Mustajab. Saat sedang asyik mengobrol taiba-tiba Pak Fajar menanyakan sesuatu kepada ku, “Kamu sudah punya pacar?” “Belum Pak,” jawabku. “Wah kamu gimana sih, masa belum punya pacar? Padahal karier mu bagus loh di sini. Ayo jangan kerja terus, mulailah cari pendamping hidup, jangan sampai jadi bujangan kolot…hahahaha,” samber Pak Fajar terkekeh mendengar aku belum punya pacar. Aku tersenyum kecut, aku tak pernah bercita-cita mempunyai pacar, nanti saja kalau ada perempuan yang baik dan solehah dan bersedia ku jadikan istri, langsung akan ku nikahi saja, nggak perlu pakai pacaran-pacaran. Namun, keinginan tanpa usaha mungkinkah bisa mendapatkan hasil? Ingin punya istri tanpa berusaha mencarinya, apakah mungkin terwujud? Minta dijodohkan oleh Ibu ku mungkin? Ah, entahlah aku belum memikirkan sejauh itu. Melihat aku kurang bergairah ketika ditanya sudh punya pacar atau belum tiba-tiba Pak Fajar bertanya lagi, “Kamu mau nggak saya kenalkan dengan adik ipar saya? Tinggalnya di Bandung, sudah bekerja,solehah belum punya pacar sama seperti kamu. Dia sedang mencari calon suami yang soleh, kamu kamu mau bersungguh-sungguh, akan saya kenalkan padanya,” lanjut Pak Fajar dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Aku sedikit terkejut mendengar Pak Fajar berkata demikian, adik iparnya Pak Fajar sedang mencari calon suami? Seperti apa orangnya? Aku belum tentu menyukainya. Tapi, nggak ada salahnya juga kalau aku coba, aku kenal baik dengan Pak Fajar, dia adalah salah satu pegawai terbaik di kantor, dengan istri dan anak-anaknya pun aku sudah tahu, mereka orang baik-baik dan taat beragama. “Hmm…boleh Pak, tapi saya nggak janji apa-apa ya Pak,” jawabku. “Lah iya…nggak apa-apa, kenalan saja menyambung tali silahturrahim, nggak salah kan?” lanjutnya lagi. “Hehe…iya Pak,” kataku lagi. “Nah, ini nomor hpnya. Namanya Amanda Putri.” Pak Fajar mentrasnfer no telpon Amanda ke hp ku melalui wa. Aku simpan nomornya di hp ku dan aku lihat foto profil Amanda di wa. Tiba-tiba dada ku berdegup lebih kencang dari biasanya. Amanda Putri….nama yang cantik secantik parasnya. Aku dihinggapi perasaan gugup dan salah tingkah ketika pertama kali melihat fotonya. Namun aku berusaha menyembunyikan perasaan  yang menyerang  secara tiba-tiba ini di hadapan Pak Fajar. Untungnya tak lama kemudian kami mengakhiri acara makan malam, setelah mengantar Pak Fajar ke hotel, aku kembali ke tempat kost.

Sesampainya di kamar kost, aku tak sabar segera mengeluarkan hp dan melihat foto  profil Amanda Putri. Perasaan aneh yang menyerangku tiba-tiba datang kembali, darah ku berdesir kencang, jantungku deg-degan, perasaan apa ini? Belum juga berkenalan, aku sudah tertarik pada gadis berkerudung ini. Aku makin penasaran, ada apa gerangan dengan gadis ini? Ku lihat jarum jam dinding belum pukul 9 malam, belum terlalu larut untuk menyapanya sekarang. Bismillah…..aku mulai menyapanya melalui wa, “Assalamualaikum Amanda.” Terkirim.

 

(bersambung)

 

 

2

My (New) Hobby Is Crochet ^_^

Terhitung semenjak anak-anak memasuki tahun ajaran baru 2013-2014, saya mempunyai hobby baru yang bikin saya ketagihan. Hobby baru saya adalah membuat kerajinan crochet.

Saya baru kali ini mempelajari crochet dari teman saya sesama ibu yang setiap hari menunggu anak-anak di sekolah. Teman saya yang bernama Mba Wiewie alias Mama Aulia yang keturunan Tionghoa ini jago banget bikin crochet. Anaknya yang bernama Aulia satu kelas dengan Radit.

Pertemuan dan perkenalan pertama kali dengan Mama Aulia di sekolah adalah ketika kami sama-sama mengantar anak-anak di hari pertama masuk sekolah. Mama Aulia ini kemana-mana selalu membawa tas besar berisi benang rajut beraneka warna. Dan ketika ibu-ibu lainnya menunggu anak-anak sambil mengobrol, Mama Aulia ini terlihat asyik membuat crochet.

Saya pun tertarik sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mama Aulia ini. Iseng-iseng saya minta diajari Mama Aulia membuat crochet. Gayung bersambut, Mama Aulia dengan suka cita menerima saya sebagai muridnya. Dia sangat telaten dan sabar mengajari saya setiap hari di sekolah.

Saya baru kali ini memegang hakpen dan benang rajut. Setiap kali orang melintasi tempat duduk dan melihat apa yang sedang kami kerjakan semua berkomentar sama, “Saya juga dulu bisa merajut, belajar sejak SD dan suka juga bikin taplak dan lain-lain.” Sementara saya, baru banget ‘main’ yang beginian :) .

Buat saya, mengawali membuat crochet tidak mudah, baru disuruh bikin tusukan yang guampang aja saya banyak salahnya dan harus bolak -balik dibongkar. Jadi dalam 2 bulan pertama setiap hari saya kerjanya hanya latihan bikin tusukan dan latihan membuat bunga mawar.

Setelah bunga mawat berhasil saya ‘taklukkan’ saya memberanikan diri membuat project yang lebih rumit versi saya…hahaha…maklum namanya juga newbie. Project pertama yang ingin saya buat adalah peci untuk anak-anak….sayang hasilnya gagal :( . Ternyata membaut crochet selain harus sabar dibutuhkan juga ketelitian dalam menghitung jumlah tusukan. Baiklah…bikin peci gagal, saya ganti bikin taplak kecil yang kayaknya mudah membuatnya. Hasilnya si taplak ini juga gagal saya buat karena salah menghitung tusukan :(. Nggak saya teruskan, karena bosan bolak-balik harus dibongkar. Lanjut ke project selanjutnya adalah membuat tatakan gelas dan celemek boneka. Kali ini kedua project kecil saya berhasil saya buat…horeee!!!

Mama Aulia sejak awal sudah mengingatkan saya kalau crochet akan membuat sangat ketagihan. Dan benar saja, setelah berhasil membaut sebuah project, saya ketagihan ingin membuat yang lainnya.

Hasil selama satu semester ini :


01022014461
01022014462
01022014465
31012014452 Dan inilah yang saya lakukan setiap hari di sekolah. Saya nggak sendirian, ada Mama Aulia sebagai guru saya, dan beberapa teman lainnya yang punya hobby yang sama. Kegiatan crocheting jadi semakin seru, karena kami sering bertukar informasi mengenai pola, variasi tusukan, macam-macam benang dan pernak-pernik lainnya.
img-20131023-wa0003

3

Kontes Cosply Bukan Tontonan Untuk Anak-Anak

Suatu hari saya sekeluarga berjalan-jalan di salah satu mall di kota Balikpapan. Di salah satu area mall tersebut ada keramaian, karena rasa penasaran kami mencoba mencari tau ada apa gerangan di sana. Banyak anak-anak muda berkostum ala tokoh dalam kartun Jepang. Suara musik terdengar cukup keras, ada seorang perempuan muda sebagai pemandu acara dan di seberangnya terdapat dua buah meja dan kursi yang diduduki oleh dua orang pemuda yang sesekali menulis sesuatu. Rupanya saat itu sedang diadakan kontes cosply.

Cosply…apaan sih cosply?  Cosplay (コスプレ Kosupure?) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata “costume” (kostum) dan “play” (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, dongeng, permainan video, penyanyi dan musisi idola, dan film kartun. Pelaku cosplay disebut cosplayer, Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai layer. Di Jepang, peserta cosplay bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (dōjin circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar cosplay termasuk cosplayer maupun bukan cosplayer sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia. Cosplayer Indonesia umumnya menggunakan costume yang berasal dari komik (manga), game, atau film yang berasal dari negeri sakura, Jepang. (sumber : wikipedia)

Saya dan anak-anak sangat tertarik dengan kreativitas anak-anak muda yang menggunakan kostum ala tokoh kartun itu. Saya pribadi gak terlalu hafal nama-nama tokoh kartun Jepang, saya lihat ada yang menggunakan topeng, ada yang rambutnya dicat berwarna-warni, ada yang membawa senjata pedang mirip seperti yang dimiliki tokoh aselinya.Bayangkan jika selama ini kami hanya melihat tokoh-tokoh kartun tersebut dari sebuah buku atau film dalam bentuk sesuatu yang tidak nyata, kini kami bisa melihat langsung tokoh tersebut dalam bentuk nyata. Dan para cosplayers lah yang membuatnya menjadi nyata….amazing!

cosply - foto koleksi pribadi

cosply – foto koleksi pribadi

image520 image521 image522 cosply2 image531Kontes cosply baru saja dimulai, karena baru pertama kalinya melihat kontes ini, maka kami pun sengaja mengambil tempat strategis untuk bisa melihat pertunjukan. Awalnya biasa aja, sesuai nomor urut kontestan satu persatu masuk ke area pertunjukan. Mereka memperlihatkan kreativitasnya dengan kostum dan perlengkapan yang mirip dengan tokoh kartun yang diperankan. Tapi ternyata para kontestan nggak cuma memperlihatkan kostumnya, mereka pun menirukan adegan yang ada di dalam film atau games di kontes ini. Di depan hidung anak-anak, mereka mempertontonkan adegan berkelahi, menggunakan pedang dan senjata mainan yang mereka bawa, disertai dengan sound efek. Para kontestan saling menyerang, saling membanting, bahkan adegan banting-bantingan dilakukan beneran. Haduuuh….lama-lama kok serem ya melihatnya. Penonton yang sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah dasar melihat adegan-adegan tersebut dengan mata terbelalak. Saya pun turut terbelalak melihatnya. Oke katakanlah adegan yang terjadi di pentas kontes tersebut sebenarnya adegan pura-pura, tapi bagaimana dari sudut pandang mata anak kecil?

Karena menurut saya adegan yang dipertontonkan ini gak baik dilihat oleh anak-anak, maka saya segera mengajak anak-anak saya untuk beranjak dari tempat itu. Anak-anak tadinya nggak mau ikut saya, mereka merengek-rengek masih ingin melihat kontes cosply, untung mereka akhirnya bisa dibujuk.

Ooh, begini toh kontes cosply itu. Sebetulnya seru sih melihat kreativitas anak-anak muda membuat kostum tokoh-tokoh kartun, tapi pas bagian adegan memperagakan tokoh tersebut dalam adegan berkelahi kok rasanya kurang tepat kalau kontes ini diselenggarakan di tempat umum, dimana banyak anak-anak kecil yang melihatnya. Hal positif apa yang akan dilihat anak-anak kecil dari adegan berkelahi seperti itu??

7

Maaf Radit….Ibu Lagi ‘LoLa’ Alias ‘Loading-nya Lama’

Satu bulan yang super duper riweuh akhirnya bisa saya lewati juga.
Alhamdulillah si ‘Big Event’ sukses dilaksanakan.

Kini sisanya tinggal rasa capeeeek yang amat terasa sangat. Maklum dalam H-7 setiap hari saya kurang tidur dan harus berangkat pagi-pagi dan pulang setelah magrib untuk mengurus persiapan “Big Event” ini. Belum lagi di rumah saya tetep harus mengerjakan kewajiban saya sebagai Emaknya anak-anak dan istrinya Papa Noor. Badan aja sih yang capek, tapi hati ini happy banget kok.

Setelah “Big Event” selesai, akhirnya saya pun kembali menjalani rutinitas seperti biasa, yaitu mengantar dan menunggu anak-anak di sekolah. Rabu itu kepala saya masih cenat cenut gak keruan saat menunggu di sekolah. Pk. 10.30 Radit selesai sekolah, saya mengajaknya pulang ke rumah. Sampai di rumah :

Me          : “De, Mami mau tidur dulu ya, kepala Mami sakit.” ( Radit suka memanggil saya dengan sebutan Mami atau Mama)

Radit      : “Iya.”

Saya pun tidur dekat Radit yang sedang main sendirian. Kira-kira pukul 12 siang, pas denger suara adzan, saya pun terbangun dengan kepala masih beraaatt sekali. Radit saat itu masih main sendirian.

Me          : “De, makan gih, udah jam 12, waktunya makan siang.”

Radit      : “Iya.” (dia langsung ngambil tasnya, mencari kotak makan siangnya dari dalam tas)

“Kok kotak makanannya gak ada?”

Me          : “Masa gak ada? Coba keluarin semua ini tasnya, perasaan tadi pagi Mami masukkin ke tas Ade.”

Radit      : (ngebongkar tasnya dan isinya sudah di luar semua) “Gak ada Mami!”

Me          : (terpaksa bangun meski masih teler banget) “Mungkin ketinggalan di mobil, coba Ade ambil di mobil.”

Radit      : (ngambil kunci mobil lalu keluar menuju mobil, tak lama kemudian masuk lagi ke rumah) “Di mobil juga gak ada.”

Me          : “Waduuh….dimana ya De? Mungkin terbawa sama Papa ke kantor.” (saya langsung telpon Papa yang lagi ada di kantor)

Papa     : “Ada apa Mami?”

Me         : “Bekal makan siangnya Radit terbawa sama Papa nggak?”

Papa      : “Enggak tuh, Papa cuma bawa bekal Papa aja, kenapa?”

Me          : “Bekalnya Radit kok nggak ada ya Pa, udah dicari kemana-mana nggak ada, siapa tau terbawa sama Papa.”

Papa      : “Gak ada, Papa gak bawa bekalnya Radit.”

Radit      : (mukanya memelas banget ingin makan siang tapi kotak bekalnya gak ada…..kasihan)

Ohh….kasihan Radit, kemana gerangan si kotak bekal makan siangnya? Pikir saya dalam hati. Saat itu rasa sakit belum mau pergi dari kepala saya…masih terasa berat. Saya mencoba mengingat-ingat kembali semua kejadian yang saya lewati tadi pagi, siapa tau dengan cara ini kotak bekal makan siangnya Radit bisa ketemu.

Tiba-tiba…..Ya Allah….!!!! Saya baru ingat kalau hari ini saya memang nggak menyiapkan bekal makan siang untuk anak-anak *tepok jidat*

Jadi….hari ini tuh saya memang niatnya nggak bikin bekal makan siang untuk anak-anak, karena nanti mau ngajakin anak-anak makan siang soto daging di kantin sekolah.

Huffffttt……saya langsung lemas, kasihan anak-anak. Karena badan masih capek dan sakit kepala juga, saya jadi lupa sama rencana makan siang dengan anak-anak hari ini.

Akhirnya kami bertiga, saya, Naufal dan Radit makan siang di warung pecel ayam dekat rumah, sepulang sekolah pukul setengah tiga siang.

Maaf ya Nak…

4

Cuma Curhat Hari Ini

Hari ini berasa capeeeek banget.
Pergi dari rumah pagi-pagi.
Hari ini jadwalnya aerobic.
Guru senamnya aseli bikin gempor, badan berasa habis dibanting-banting begini.
Di sekolah ngebut ngerjain project crochet untuk ikut pameran hari Sabtu besok….padahal cuma bikin hand bag doank 1pcs…hahaha.
Pas bubaran anak sekolah lanjut ngambil barang dan brosur.
Terus bermacet ria di jalanan karena tadi siang hujan deras…bikin kaki tambah pegal.
Menuju kantor suami.
Sudah menunggu berbagai urusan ini-itu persiapan big event minggu depan.
Pulang ke rumah pas bubaran karyawan.
Di jalan kelaperan sampe perut terasa perih.
Mampir ke warteg beli nasi bungkus.
Nyampe rumah mandi,sholat,makan.
Terus nemenin anak-anak belajar…sambil ngantuk-ngantuk, sambil bikin laporan, eh…sempet-sempetnya curhat di blog..wkwkwkw…
Alhamdulillah masih diberi sehat sama Allah.
Anak-anak….be strong yaa!!
SEMANGAT!

30

ACER ASPIRE E1 Notebook Impian Ku

Suatu hari saya ada janji bertemu dengan dua orang perempuan muda dari bagian promosi sebuah produk kosmetik. Kami janjian bertemu di sekolah anak saya, karena saat itu posisi saya memang sedang berada di sana. Setelah kami berbincang-bincang serius mengenai rencana kerja sama untuk mengadakan sebuah event, kami mulai mengobrol santai.

Kami berbincang di sebuah gasebo (sebutan untuk tempat ibu-ibu menunggu anaknya sekolah) yang terdiri dari sebuah bangunan segi empat sederhana, memiliki atap dan dinding setengahnya. Di dalamnya tersedia bangku-bangku panjang. Tidak ada AC atau pendingin ruangan,oleh karena itu saat cuaca panas terasa sekali panasnya dan saat hujan, tak jarang kami harus kebasahan kena air tampias. Saat itu terlihat beberapa kelompok ibu sedang asyik mengobrol. Salah seorang perempuan muda itu beberapa kali mengamati keadaan sekeliling, melihat aktivitas ibu-ibu yang sedang ada bersama kami di situ.

Tak lama kemudian ia bertanya kepada saya, “Ibu nggak bosan mengunggu setiap hari seharian di sekolah seperti ini? Apa saja kegaiatan ibu sekarang?”.

Saya tersenyum mendengar ia melontarkan pertanyaan tersebut kepada saya. Saya bisa memahami mengapa ia bertanya seperti itu. Usianya masih muda dan ia memiliki karier yang bagus di masa depan. Barangkali ketika ia melihat saya dan apa yang ada di sekitar saya saat itu, ia membayangkan kurang lebih seperti inilah kalau nanti sudah menjadi emak-emak.

Banyak pilihan untuk menjalani rutinitas yang saya jalani sekarang sebagai emak-emak yang setiap hari harus menunggu anaknya di sekolah. Semua itu tergantung masing-masing individu. Dari beberapa ibu yang saya tanyai alasan mengapa mereka harus menunggu anaknya di sekolah, 80% menjawab karena jarak antara sekolah dan rumah cukup jauh, sehingga mereka memutuskan untuk menggu anaknya di sekolah dari pagi sampai bubaran kelas. Alasan yang sama seperti yang saya miliki.

Untuk mengisi hari-hari ‘membosankan’ di sekolah, ibu-ibu teman yang senasib dengan saya ini mengisinya dengan berbagai aktivitas diantaranya mengobrol ngalor ngidul dari pagi sampai siang, rajin mengikuti arisan di sana sini, ada yang berjualan, ada yang rajin mengadakan potluck atau botram, ada juga yang rajin ikut pengajian di mesjid dekat sekolah, ada yang sengaja membawa pekerjaan rajutannya dan mengerjakannya di sekolah dan lain sebagainya. Kami semua punya cara masing-masing untuk mengisi waktu supaya tidak bosan.

Kalau saya pribadi ditanya apa kegiatan saya? Jawabannya : Banyak sekali!

Terutama dalam dua tahun terakhir, ketika saya menjalani rutinitas sebagai emak-emak yang tiap hari dari Senin – Jumat kerjanya mobile di luar rumah tetapi tetap harus mengerjakan beberapa ‘proyek’ seminar, tugas dari dharma wanita, kegiatan komite sekolah tidak lupa urusan hobby saya menulis.

Kerepotan saya dimulai dari pagi hari sebelum adzan subuh berkumandang. Saya bangun pagi langsung turun ke dapur mulai merendam cucian, mencuci piring bekas tadi malam, masak nasi, mengolah bahan-bahan makanan menjadi masakan, menyiapkan sarapan semua anggota keluarga, menyiapkan bekal makan siang untuk kami bawa pada hari itu. Beruntung urusan anak-anak dan beres-beres rumah suami saya mau bantuin. Terakhir tak lupa saya mandi pagi dan berdandan secukupnya untuk berangkat ke sekolah bersama anak-anak.

Sampai di sekolah saya langsung mengambil posisi duduk yang strategis di gasebo. Kegiatan pagi hari di sekolah saya buka dengan menulis. Nggak tau kenapa mood menulis saya itu selalu muncul di pagi hari. Kalau ide di dalam kepala ini tidak dituangkan dalam bentuk tulisan, alhasil dalam beberapa jam ke depan semuanya akan menguap begitu saja keluar dari kepala saya. Setelah itu kemudian saya akan merasa buntu, tidak bisa menulis apa-apa lagi.

Selesai menulis, kalau sedang tidak ada ‘pekerjaan’ biasanya saya mengerjakan hobby saya yang lain yaitu membaca atau membuat crochet, diselingin ngobrol dengan ibu-ibu teman-teman saya di sekolah sampai siang.

Saya juga mengisi hari-hari saya dengan kegaitan olah raga aerobic seminggu tiga kali setiap Senin-Rabu-Jumat, dan hari Selasa saya mengikuti pengajian di mesjid dekat sekolah.

Oke, kembali ke laptop. Kalau lagi nggak ada pekerjaan sih biasanya saya cukup santai mengerjakan kegaitan saya membaca, crochet , senam, dan pengajian. Tapi….kalau sedang banyak pekerjaan, jangan ditanya deh….Iyaa….saya jadi sok sibuk.

Di rumah saya sudah sibuk sama mengurus urusan rumah tangga dan menjadi guru les privatnya anak-anak. Sejak pulang sekolah sampai malam hari fokus saya pada keluarga. Jadi, ya begitulah saya mempunyai waktu untuk mengerjakan berbagai kegiatan saya ketika sedang berada di sekolah.

Pagi-pagi pasti hand phone saya sudah menjerit-jerit, pesan melalui sms atau whatsapp masuk bertubi-tubi, berisi perintah ini itu yang harus segera saya kerjakan.

Baiklah, selesai menulis saya buka satu persatu pesan yang masuk. Oke, Ibu A dari dharma wanita memberi tahu kalau dia sudah mengirimkan laporan data anak asuh. Ibu B masih dari dharma wanita juga yang merupakan atasan saya mengingatkan bahwa saya harus segera mengolah data dan membuat laporan bendahara (posisi saya di organisasi Program Anak Asuh adalah sebagai bendahara). Well….ini artinya saya harus punya perngkat yang bisa membuat saya mengerjakannya di sekolah. Kalau tidak segera saya kerjakan…mau kapan lagi? Bisa-bisa saya digetok centong karena terlambat membuat laporan. Kalau laporan selesai, saya harus cek dan ricek ke Ibu Ketua, karena laporan yang saya buat ini bakalan disampaikan ke seluruh kantor-kantor. Kalau ada koreksi, maka saya harus cepat membetulkannya, dan melaporkannya kembali. Cek sana cek sini, sms ibu C, Ibu D semua atasan saya yang tinggalnya di luar kota, minta persetujuan dan seterusnya sampai jadi laporan dan siap diserahkan ke kantor-kantor. Setiap tiga bulan sekali saya bakalan sibuk sama urusan laporan ini.

Acara Santuna Program Anak Asuh DWP Pajak Kaltim

Acara Santuna Program Anak Asuh DWP Pajak Kaltim

Lain lagi ceritanya ketika saya sedang persiapan membuat seminar kesehatan anak di kota ini pada bulan Mei yang lalu.Persiapan untuk seminar ini sejak 6 bulan sebelumnya. Panitia lokal dibimbing oleh Yayasan Orang Tua Peduli di Jakarta. Jadi hubungan kami SLJJ (sambungan langsung jarak jauh). Mulai dari sosialisasi konsep seminar, membuat proposal, mencari venue dan seterusnya sesuai dengan juknis yang berlaku. Semakin mendekati hari H semakin hetic, panitia sudah bagi-bagi tugas. Tapi karena pada saat itu saya yang menjadi ketua panitia, saya harus terus berkoordinasi dengan tim dan juga dengan pihak yayasan di Jakarta.

Waktu itu saya sampai jumpalitan. Yang menjadi masalah adalah fasilitas saya tidak memadai, saya nggak punya notebook mini yang punya batrei kuat. Modal saya saat itu adalah laptop besar nan berat yang biasa saya bawa-bawa ini. Laptop ini kekuatan baterainya terbatas, maksimal 1 jam digunakan untuk mengetik langsung habis. Mau cari colokan untuk charager dimana??? Di gasebo mana ada colokan listrik…hu…hu…hu….sedih banget deh. Lagi pula membawa laptop sebesar ini riskan, mau saya bawa kemana-mana berat, kalau saya simpan di mobil takut dicuri orang. Padahal setiap waktu saya pasti berkoordinasi dengan tim dan yayasan mengharuskan saya terus menerus berhubungan dengan internet.

Sebetulnya saya punya handp phone dan bisa digunakan untuk membuka e-mail, ya saya bisa baca e-mail lewat hp tapi saya nggak bisa membalas e-mail, karena ribetttt! Sering terjadi saya sudah mengetik panjang lebar dari hp, ehh…mungkin karena terlalu lama dan banyak, ketika mau saya kirim hp saya langsung error….haduhhh .
Atau bisa sewaktu-waktu dari Yayasan telpon saya ,”Coba dicek segera yaa saya sudah kirim lewat e-mail, kalau ada yang kurang segera dilengkapi dan kirim balik ke saya.” Saya cepat-cepat ngacir ke warnet yang lokasinya agak lumayan ribet karena susah mencari tempat parkiran mobil. Gara-gara soal mencari parkiran di warnet ini saya juga pernah kena semprot tukang parkir, karena saya salah memarkirkan mobil saya. Nah, kalau sudah sampai di warnet dan mendapat tempat parkir yang oke, syukur-syukur kalau warnetnya sudah buka, ini seringnya kalau pagi-pagi warnetnya masih tutup…hufffft.

Alhamdulillah kegiatan seminar kesehatan akhirnya dapat dilaksanakan dengan sukses di Balikpapan. Rasanya senang sekali.

smart FM

Sosialisasi PESAT Balikpapan di SMART FM Balikpapan

pesat1

PESAT Balikpapan 4 & 5 Mei 2013

PESAT Balikpapan di Tribun Kaltim

PESAT Balikpapan di Tribun Kaltim

Di hari yang lain, saya diberi amanah untuk mengadakan penyuluhan tentang ASI Exclusive di dharma wanita. Lagi-lagi saya membutuhkan perangkat notebook yang terkoneksi dengan internet. Mempersiapkan bahan-bahan materi, mencari video dan gambar-gambar dan juga berkoordinasi SLJJ dengan teman-teman saya di Klub Peduli ASI.

img-20130426-wa0001

Sosialisasi ASI Exclusive di DWP

Sosialisasi ASI Exclusive DWP Kanwil Pajak Kaltim - April 2013

Sosialisasi ASI Exclusive DWP Kanwil Pajak Kaltim – April 2013

Dan saat ini saya lagi-lagi sedang mempersiapkan sebuah proyek seminar parenting yang insyaAllah akan menghadirkan pembicara seorang psikolog terkenal dari Jakarta. Semua harus saya persiapkan mulai dari membuat proposal dan sebagainya. Apalagi ibu ketua saya posisi di Jakarta, koordinasi dan surat menyurat harus terlus dilakukan.

Gara-gara nggak ada notebook, kemarin saya tergopoh-gopoh ngebut nyupir dari sekolah ke kantor untuk korrdinasi dengan tim panitia membuat surat-surat dan proposal. Saya tinggalkan anak-anak di sekolah, hari itu kebetulan hari jumat. Saya terlambat menjemput anak-anak, untung dekat sekolah ada mesjid, dengan waktu yang mepet saya antar anak-anak ke mesjid untuk ikut shalat jumat.

Waktu persiapan seminar kali ini sangat singkat hanya satu bulan dan ibu ketua panitia posisinya di Jakarta….ho…ho…ho….kebayang kan bagaimana rempongnya saya. Suatu sore ketika saya mau mengantar si sulung les bahasa Inggris telpon saya berbunyi, dari Ibu Ketua saya di Jakarta, “Mba Ira, saya sedang di percetakan mau setting backdrop dan banner, tolong disipakan logo dari sponsor-sponsor yang akan menjadi sponsor kita, saya tunggu SEGERA ya!”….. Eeeaa…..sambil nyupir sambil sms ke para sponsor minta dikirim logo by e-mail. Ketika logo sudah saya dapatkan, saya buru-buru cari warnet untuk mengirimkan logo-logo tersebut ke Ibu ketua.

Hufffffttt……inhale….exhale….

Semua kegiatan yang saya lakukan ini sifatnya kegiatan sosial yang tidak mencari keuntungan. Entah mengapa saya punya passion di bidang ini. Dan saya sudah memilih hal ini sebagai jalan hidup saya. Oleh karena itu, meskipun membuat saya heboh bin rempong saya tetap menjalaninya dengan penuh cinta.

Iya saya adalah orang yang mobile, benar sekali saya adalah orang yang setiap hari disibukkan dengan segudang kegiatan.Hal ini mau nggak mau mengharuskan saya memiliki perangkat gadget yang memadai. Andaikata ada sebuah notebook murah dengan ukuran tipis dan ringan, ada dvd-rw, bisa digunakan untuk internetan, ada webcam, memory yang besar dan processor yang mumpuni, pasti akan sangat membantu saya.

Lah kok kebetulan sekali Acer meluncurkan produk terbarunya, Acer E1 Sllim series yang memiliki fitur lengkap, baterai tahan lama serta bentuk yang 30% lebih tipis. Kehebatan si Tipis yang satu ini adalah :

Monitor Acer E1 Sllim series menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px yang memadai untuk kebutuhan office basic, browsing, multimedia, bahkan untuk bermain game.

Acer E1 Sllim series ini juga dilengkapi dengan optical drive DVD-RW dan bentuknya tetap langsing.

Acer E1-432 Sllim series menyertakan satu buah port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa memerlukan converter apapun, dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar ke dunia maya menggunakan jaringan hotspot yang tersedia disekitar kita.

Dilengkapi dengan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Notebook ini dipersenjatai dengan Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Artinya si notebook langsing ini bisa bekerja secara efisien dengan menggunakan energi yang cukup hemat.

Serta menggunakan baterai dengan kapasitas 2500 mAh sehingga dapat bertahan hingga 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD), dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game.

Bentuknya tipis dan ringan serta designnya elegan bikin saya bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya..

Cocok!……Keren abis produk yang satu ini. Iya, ini dia notebook impian saya. Notebook yang betul-betul saya perlukan.. Notebook yang bisa saya bawa kemana-mana tanpa membebani saya karena bentuknya yang tipis dan ringan. Notebook yang designnya juga elegan, bikin saya nggak malu menggunakannya dimana saja.Notebook yang memiliki fitu-fitur yang lengkap yang bisa memudahkan saya mengerjakan semua tugas-tugas saya. Notebook yang bisa menjadi sahabat saya menjalani berbagai aktivitas sosial. Ya, saya layak mendapatkan Acer E1 Sllim series ini dari Acer.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia