Curhat Seorang Istri Pegawai Pajak

Tulisan ini saya buat tidak untuk menyalahkan atau menuding siapa pun, ini adalah sekedar curhat seorang istri🙂

Gara-gara Gayus Tambunan, akhir-akhir ini kalau melihat tayangan berita di televisi rasanya hati tergelitik, ingin ikut berkomentar, tapi suami selalu melarang saya untuk berkomentar, “Biarin aja Bu, orang mau bilang apa, jangan terpancing”.

Kebetulan suami saya adalah seorang pegawai pajak. Dan kebetulan pegawai pajak yang satu ini nggak seperti kebanyakan pegawai pajak yang lain, yang katanya (katanya loh ya!) gaya hidupnya ‘wah’, dst, dst.

Saya  pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta asing yang juga berurusan dengan perpajakan, saya tau bagaimana ‘berurusan’ dengan pegawai pajak. Banyak omongan miring tentang pegawai pajak. Mendengarnya saya sering khawatir, takut suami saya ikut-ikutan seperti itu, makanya saya selalu cerewet mengingatkan suami untuk tidak berbuat pelanggaran. (baca : korupsi)

Selama menjadi istri pegawai pajak, alhamdulillah saya merasa hidup saya berkecukupan. Punya dua anak laki-laki yang pintar dan lucu, punya suami penyabar, dan keluarga besar yang selalu mendukung kami. Memiliki kendaraan (hasil mengangsur, ketika saya masih bekerja), bisa menyekolahkan anak, tinggal di tempat tinggal yang layak (kami masih ‘menumpang’ di rumah ortu, punya rumah di bintaro pun itu dibeli dengan uang ortu). Kurang apa lagi?? Rasanya sudah cukup dan bersyukur sekali atas apa yang telah saya dapatkan sekarang ini.

Saya baru tau kalau yang namanya hidup berkecukupan ala pegawai pajak itu ternyata jauh banget dari ala saya. Ini juga taunya dari televisi, ketika kasusnya Gayus mencuat. Punya rumah mewah, mobil mewah….wah…wah…wah…

Ooo…itu toh yang namanya berkecukupan, berarti saya ini apa donk?

Belum satu tahun saya akhirnya menyusul ke Jakarta tinggal bersama dengan suami menjadi satu keluarga yang utuh. Sebelumnya, selama 5 tahun sejak saya hamil anak pertama, kami tinggal pisah kota, suami di Jakarta dan saya di Bandung. Alasannya karena ketika baru menikah suami saya baru diangkat menjadi PNS, tau sendiri berapa gajinya. Kebetulan saya mendapat tawaran bekerja di Bandung, kesempatan ini tidak kami sia-siakan.  Selama 5 tahun saya bekerja sambil ‘nebeng’ di rumah ortu. Selama itu pulalah kami berdua menabung seperak demi seperak, untuk memperkuat fondasi keuangan rumah tangga kami, sampai akhirnya tiba waktunya saya berhenti dari kerja dan bersama anak-anak tinggal di Jakarta dengan suami.

Kini, saya sudah tidak lagi bekerja, otomatis uang hanya dari satu keran,  yaitu dari suami. Hidup di kota metropolitan terasa mahal, apalagi sekarang saya sudah tidak bekerja, sudah tidak ‘nebeng’ dengan ortu.

Suami saya berubah menjadi ‘Paman Gober’ yang irit dan sangat perhitungan. Untungnya saya masih ada bekal ‘pesangon’ yang diberikan dari perusahaan tempat saya kerja dulu, jadi kalau mau jajan-jajan masih bisa. Sekarang kami tidak punya pembantu, karena kalau pakai pembantu otomatis ada pengeluaran tambahan. Suami saya nggak doyan makan-makan di luar, malah beberapa minggu yang lalu ia sempat mengajukan usul, “Setiap minggu kita jalan-jalan, tapi untuk makan harus bawa bekal dari rumah atau sebelum berangkat harus makan dulu di rumah.” Dia orangnya amat sangat hidup sederhana, meskipun sekarang jaman BlackBerry…tapi dia dan saya tidak menggunakannya, karena memakaiBB itu harus mengeluarkan biaya. Oh iya setiap hari suami saya membawa bekal sarapan pagi dan makan siang, saya yang memasaknya di rumah, maksudnya tak lain dan tak bukan karena untuk PENGHEMATAN…(dasar Paman Gober ya!).

Bertapa sedihnya saya karena akhir-akhir ini pekerjaan suami dijelek-jelekkan oleh banyak orang. Suami saya termasuk pegawai yang berdedikasi tinggi , bertanggung jawab dan jujur. Karena menurutnya bekerja adalah ibadah untuk mencari ridho Allah SWT. Beberapa waktu yang lalu, suami saya sakit, sampai tidak bisa berjalan. Istri mana yang tidak sedih dan khawatir melihat kondisi suaminya yang seperti itu. Kejadiannya dimulai dari Jumat malam, kakinya mulai kaku. Dia kesakitan untuk menggerakkan kakinya. Mandi harus saya mandikan, dan dia berusaha bangun dari tempat tidur dengan bantuan saya. Suami menolak ketika saya ajak ke Rumah Sakit, dia minta saya membelikan obat dan kakinya dikompres air panas. Malam Senin, sebetulnya kondisinya belum baik, jalannya masih kaku dan diseret-seret, saya menyarankan agar hari Senin ijin tidak masuk kantor, dan mengajaknya ke RS untuk berobat. Suami menolak, dia bilang nggak enak kalau harus bolos, karena pekerjaannya banyak sekali. Sempat kesal mendengarnya, tapi suami saya itu nggak bisa saya cegah. Hari Senin, suami berangkat memakai mobil (biasanya dia ke kantor pakai motor). Pulang kantor kondisinya  memburuk, saya bujuk lagi untuk berobat, dia tetap nggak mau. Malam itu suami saya mengompres kakinya yang sakit dan berlatih berjalan agar keesokan harinya bisa tetap bekerja. Lalu keesokan harinya dan seterusnya dia nekat berangkat pakai motor. Baru hari Jumat  siang dia mau saya antar ke fisioterapi di RS dekat tempat tinggal kami (karena kondisinya yang semakin kesakitan). RS itu termasuk RS yang mewah, biaya sekali fisioterapi Rp 140.000,-. Suami harus mendapat terapi sebanyak minimal 5x. Mendengar hal itu, suami saya yang ‘Paman Gober’ ini jelas merasa kemahalan.Dia pun mencari RS Pemerintah yang ada klinik fisioterapinya, kebetulan di dekat kantornya ada RSUD/Rumah Sakit Umum Daerah, biaya untuk fisioterapi lebih murah ketimbang di RS swasta sebelumnya, sekali datang Rp 75.000,-. ‘Paman Gober’ ups…maksudnya suami saya semangat dan mau menyelesaikan terapinya sampai sembuh🙂.

Sikap suami saya yang karakternya seperti  ‘Paman Gober’ ini tentu saja punya maksud tertentu. Ya, memang beginilah yang seharusnya kami jalani, yaitu hidup sesuai dengan penghasilan (seorang PNS Dirjen Pajak). Nggak boleh neko-neko, atau bermewah-mewah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Kami HARUS CERMAT & HEMAT, demi  impian kami di masa depan.

Sayangnya, sekarang yang diekspose oleh media dan khalayak umum hanya yang jelek-jeleknya saja. Padahal nggak semua pegawai pajak seperti Gayus. Masih banyak kok yang jujur dan takut Tuhan, salah satunya adalah si ‘Paman Gober’ alias suamiku. Hidup kami kalau dibandingkan dengan Gayus memang sangat bisa dibilang nggak ada apa-apanya. Tapi saya dan suami nggak pernah merasa  ‘kere’ alias miskin, alhamdulillah kami bersyukur atas segala apa yang Tuhan beri untuk kami. Sampai-sampai saya juga dengar dari koran dan televisi,  nanti akan ada pemeriksaan rekening/harta kekayaan pegawai pajak. Saya sih ketawa sama suami, periksa aja….malah saya bilang ke suami, “Malu kali Pa, kalau sampe diperiksa, soalnya kita mah nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka-mereka itu.”

11 thoughts on “Curhat Seorang Istri Pegawai Pajak

  1. bener banget ra…ira bikin postingan ini…jujur, sejak kasus GT itu…pandangan saya terhadap peg.negri khususnya pajak makin tidak senonoh *maap yaaa…🙂 * selama ini kalo denger orang kerja di pajak misalnya…saya selalu berpikiran…kalo kaya pasti korupsi…dan terbukti oleh si GT itu…

    Tapiiiii setelah baca postingan kamu…Alhamdulillah Wa Syukurillah…masih ada yang takut ama Allah…masih ada yg berada di jalan Allah…aku bangga banget baca postingan kamu ini…

  2. Peluk-peluk Ira, citra PNS memang sudah sangat buruk Ra, giliran generasi kita yang harus membuktikannya *inget materi pola pikir PNS dan KPK*

  3. @ Teh Silvi : dapat dimaklum Teh

    @ Dinny : betul Mama D, ah aku jadi ingat suka duka dirimu yang bekerja di lingkungan PNS…betul Din, generasi kita kudu bangkit menjauhkan diri dari korupsi dan membangun citra baik PNS sebagai pelayan masyarakat…(siga urang anu PNS wae ieu teh nya…hahahaha)

  4. Beruntung negri ini masi ada org2 yg seperti suamimu, Ra. klo gak, uuugh bisa bangkrut ini negri karena semua kekayaan abis dikorup org2 yg ga bertanggungjawab. Padaal mereka2 yg korupsi itu umumnya cerdas, berpendidikan tinggi, tp imannya dangkal, akhlaknya juga patut dipertanyakan. Jadi pelajaran buat kita supaya generasi yg akan kita cetak a.k.a anak2 kita, jangan cuma dibikin pinter, tp juga harus cerdas spiritualnya supaya jd org yang takut sama Alloh

  5. wah ira pindah ke sini blognya…😀
    membaca ceritamu, reminds me of my husband… suamimu sama kek suamiku, sama-sama paman gobernya…😀

  6. jadi terharu bacanya mba…temenku yang kerja di dirjen pajak juga sering ngeluh mba, kenapa semua disamain ma gayus…padahal masih banyak orang yang jujur dan berdedikasi tinggi…

  7. Iya mba… Setuju sekali dengan tulisannya …suami saya juga pegawai pajak semua orang pada ngomongin enak ya pegawai pajak ada remunerasiny … Padahal pada gak tahu mutasinya seluruh indonesia .. Gak ada uang pindah , rumah dinas .. Kalau mau kumpul ma keluarga makan biaya banyak alias menguras tabungan … Percuma ada remunerasi

    • kadang miris ya Mba kalau ada kasus yg seperti ini, anggapan masyarakat semua pegawai pajak itu jahat semua, padahal mereka gak tau itu hanya segelintir oknum saja dan bertapa beratnya tugas yg harus dikerjakan oleh pegawai pajak ditambah lagi kalau ditugaskan di daerah yang sulit, tapi tugas kita sebagai istri tentunya harus terus mendukung karier suami dan selalu bersyukur atas apa yg telah Tuhan berikan kepada kita🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s