Jangan Panas Hati

Waduhhh…mentang-mentang masuk musim panas, judul pun ikut-ikut berbau ‘panas’.

Ini cerita tentang Naufal dan sekolah TKnya.

Memasuki TK B semester 2, sekolah mulai mengadakan les calistung (baca tulis hitung) sebagai persiapan masuk SD. Lesnya diadakan seminggu dua kali. Naufal di kelasnya dianggap ‘mampu’ maka jadwal lesnya disatukan dengan anak-anak yang ‘mampu’ juga.

Rupanya wali kelasnya Naufal ini memberikan materi yang spektakuler pada anak-anak di kelas ‘mampu’. Dalam sebulan anak-anak sudah menjumlah puluhan deret ke bawah. Menulis halus sudah bukan pengenalan huruf lagi, tapi sudah mulai menulis satu kalimat sederhana. Bahkan saat ini sudah masuk pelajaran perkalian, dan dikte dengan huruf sambung.

Sejauh ini Naufal bisa mengikutinya, dia kami ajarkan di rumah, alhamdulillah ngerti. Kami tidak pernah memaksa dia harus mengerti, karena kami sadar se-sadar-sadarnya bahwa usia Naufal, masih terlalu muda kalau harus di-push ini itu.Prinsip bagi kami dalam mengajari Naufal adalah mengajarkan KONSEP DASAR dalam semua aspek kehidupan. Baik itu dalam berhitung, menulis halus, membaca, sikap, sopan santun dsb. (jadi yang kami ajarkan bukan sekedar menekankan pada calistung semata), karena untuk apa pintar tapi kalau anaknya kurang ajar?

Selama menjalani les, seringkali Naufal mengeluh, pelajarannya terlalu sulit, dia nggak bisa mengerjakan latihan ulangan di sekolah (tuh kan spektakuler….sampe ada ulangan segala), dia sering mendapat nilai NOL atau nilai 10 (dari skor 100), kalau pulang les paling telat dibandingkan teman-temannya.

Kalau sudah kalut di sekolah, pasti pulang ke rumah tingkah lakunya ‘aneh-aneh’, yang sakit perutlah, yang bikin kesel bangetlah, sampai ancaman nggak mau sekolah di situ lagi.

Saya dan papanya nggak boleh kehilangan akal untuk tetap membimbing Naufal. Kami tidak memarahi Naufal karena dapat nilai NOL, kami beri pengertian dan tentunya motivasi agar Naufal tidak putus asa. Sebetulnya kalau ulangannya dikerjakan ulang di rumah, Naufal bisa mengerjakannya, memang butuh 2-3 kali menjelaskan, tapi setelah itu dia bisa sendiri.

Jadi, kami mengambil kesimpulan, faktor yang menyebabkan dia mendapatkan nilai NOL bukan dari materinya yang dia nggak ngerti, tapi suasananya yang bikin dia nggak nyaman.

Mungkin saya, adalah orang yang berbeda dengan ortu teman-temannya Naufal yang lainnya. Mereka men-drill anak-anaknya supaya BISA. Para ortu sering berkeluh kesah pada Bu Guru, “Anak saya malas belajar, inginnya main terus Bu.” Atau ada juga, ” Anak saya kalau menulis hurufnya jelek-jelek, nggak bisa rapih.” dst.

Menurut saya mereka lupa, bahwa anak mereka itu masih usia Taman Kanak-Kanak, yang belum wajib disuruh belajar layaknya anak SD. Saya sih nggak pernah komlplain ke Bu Guru, paling saya ajak diskusi mengenai materi pelajaran, supaya disesuaikan dengan kemampuan anak, atau masalah pembelajaran agar Naufal tidak malu untuk bertanya kepada Bu Guru.

Kemarin siang, ceritanya saya jemput Naufal les pakai sepeda. Sambil nunggu bubaran les, saya ngumpul dengan ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya juga. Mereka dengan bangga, “Anak saya nilainya bagus-bagus, pinter deh.” lalu yang lain juga berkomentar sama, membangga-banggakan anaknya. Tak lama kemudian, datang Bu Guru menghampiri kami. Dengan bangganya Bu Guru mengumumkan nilai si A, si B, si C yang masing-masing dapat 100, 99, 98.  Nggak tau deh apa maskudnya Bu Guru, apa memanas-manasi saya karena ternyata Naufal dapat nilai paling kecil?? Ah, saya tetap cool mendengarkan mereka berceloteh panjang lebar, tentang anak-anaknya yang dipaksa belajar supaya dapat nilai tinggi….bla…bla…bla…

Tak lama, saya pun pamit pulang, sambil membonceng Naufal. Di tengah jalan yang panas sambil mengayuh sepeda……pikiran saya masih terngiang-ngiang celotehan para ibu yang ngumpul tadi. Rasa malu sempat terbesit, ah…kenapa Naufal nilainya nggak bagus seperti nilai mereka, coba kalau bagus, Ibu juga bisa membanggakan Naufal. Tapii….saya dan suami sudah berjanji bahwa kami punya metode lain dalam mengajarkan Naufal, kami berjanji tidak akan memaksakan Naufal. Pikiran itu terus berkecamuk, mengiringi saya mengayuh sepeda di jalanan yang naik turun di bawah terik matahari.

Sampai di rumah, saya menghela nafas. Saya pandangi wajah Naufal dalam-dalam….yang ada di depan saya adalah seorang anak usia 5th 8 bln, wajahnya innocent dan kelelahan setelah berusaha keras mengerjakan soal-soal les. Ya Allah, haruskah saya marah pada anak yang telah berusaha semampunya ini? Saya pelankan suara saya ketika menyuruhnya menyimpan sepatu di rak dan ganti baju. Saya tawarkan dia air putih, langsung dia teguk…sepertinya dia sangat kehausan.

Saya menahan diri untuk tidak ‘panas hati’ gara-gara omongan para ibu di sekolah tadi. Saya tau betul, Naufal tidak bodoh. Rasanya sempit sekali menilai anak bodoh atau tidak hanya berdasarkan nilai yang dia dapat. Lihat saja, Naufal sangat soleh, mulai bisa belajar disiplin, belajar mengasuh adikknya dsb. Semua kebaikan Naufal sengaja saya munculkan dalam kepala saya, supaya bisa mendinginkan hati saya.

Saya tidak memarahi Naufal, saya tanya baik-baik dengan suara pelan, kenapa nilainya hanya 10,  setelah tidur siang,  saya ajak dia belajar di sore hari, saya suruh dia mengulang soal dan saya beri latihan sampai 20 soal, ternyata dia BISA.

Subhanalloh Naufal….Ibu sayang kamu!!!

*menahan diri untuk tidak panas hati ternyata membawa kebahagiaan dan keberhasilan*

4 thoughts on “Jangan Panas Hati

  1. duh teka di sana berat banged yah… di sini teka masih fun banged… khadeeja juga ada pelajaran membaca, tapi dibuat fun.. dikasih buku dibawa pulang, suruh baca 2 malem berturutan sambil ortunya kasih comments… udah itu ajah… gag ada paksaan si anak harus bisa baca berapa buku misalnya… soal berhitung juga gitu, gag ngitung secara teori, tapi lebih ke praktek.. ada anak di dalem kelas pake sepatu item misalnya, ada berapa jumlahnya etc…

    • emang Mbak, anehhh banget-banget, dan semua ibu-ibu pun terobsesi memaksa anak-anaknya melampaui tahapan perkembangan anak….kalo nggak kuat iman, kasihan bener sama anaknya

  2. Sepengetahuanku kurikulumhitung hitungan untuk anak primary_1 pun masih dalam batasan 10. Hmm kalau disini kindergarten masih main main dan belum serius amat😀 Semoga tetep kuat iman yah, keep spirit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s