Sepeda Rekondisi

Ini tentang sejarah kepemilikan sepedanya anak-anak.

Umur 1 tahun Naufal mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda kecil roda 3 yang terbuat dari plastik dari Eyang Papap dan Eyang Mamah. Sepeda tersebut dipakainya bermain hingga adikknya lahir dan adiknya pun sempat menaiki dan bermain dengan sepeda itu sampai umur si adik 2,5 tahun masih dalam kondisi baik. Pindahan ke Jakarta pun sepeda itu masih dibawa dan bisa dipakai bermain, sampai suatu hari si adik bermain bengkel-bengkelan, sepeda diposisi jungkir balik, dan saya juga nggak tau bagaimana pokoknya hasil pekerjaan bengkelnya Raditya, jari-jari sepeda plastik roda 3 itu patah. Karena berbahaya untuk dinaiki, maka saya peti eskan sepeda tersebut. Dan kini sepeda ini sudah saya jual ke tukang loak.

Ketika saya mau melahirkan Raditya (akhir Juni 2007), Naufal saya titip ke Mbah Akung dan Nenek. Untuk menghibur Naufal, maka Mbah Akung membelikan Naufal sebuah sepeda bekas roda 4 yang harganya hanya seratus ribu rupiah😀 Sepeda ini sepeda betulan (bukan sepeda plastik). Kondisinya yaaaa….lumayan lah buat Naufal main-main di lapangan. Dengan sepeda ini pula Naufal berhasil belajar roda dua. Sepeda ini masih terparkir manis di garasi, kata Papa Noor, nggak boleh dijual/dibuang, meskipun kondisinya sangat memprihatinkan (butut pisan…hihihihi, tapi masih bisa dinaikin dan jalan sih).

Karena saya sangat bangga pada Naufal (dia bisa roda dua hanya dengan latihan setengah hari dengan Papanya di lapangan, berangkat belum bisa, pulang sudah bisa naik roda dua…keren kan!), saya kepengen membelikan Naufal sepeda yang rada bagus. Lihat-lihat harga sepeda kok ya mahal mahal ya?? Minimal di atas 700 rebu rupiah, kalau segitu mah uangnya dari mana? Suatu ketika ketika liburan ke Bandung, saya minta antar Mbah Akung liat-liat sepeda di Kosambi. Kami keluar masuk toko, nggak ada yang cocok, maksudnya harganya nggak ada yang cocok, sepedanya mah semua cocok dengan keinginan Naufal. Akhirnya tiba di sebuah toko, di sini kami bisa dapat 2 sepeda (“23 & “16”) yang kecil untuk Raditya (sepeda roda 4) dan satu lagi untuk Naufal (sepeda roda 2). Sepedanya baru (kata yang jual). Melihat tampilannya memang masih gress, yang Naufal warna merah yang Radit warna kuning, setelah semua deal, uang saya bayar, sepeda kami angkut pakai mobil pulang ke rumah. Belum ada seminggu, pedalnya Radit sudah lepas. Lalu sebulan berikutnya ban depan milik Naufal keluar dari velg nya, dan roda belakang nggak bisa berputar, kelihatannya tersangkut jari-jari. Padahal Naufal dan Radit ini cukup apik naik sepedanya. Papa Noor berusaha memperbaiki, namun karena emang dasarnya bukan tukang bengkel sepeda, nggak berhasil memperbaiki sepeda Naufal dan Raditya. Baru kemarin ini ada liburan agak panjang di Bandung, saya menyempatkan diri ke Kosambi untuk reparasi sepeda. Teteup ditemani oleh Mbah Akung (bapak saya), Mbah Akung minta ke tukang benerin sepeda, supaya semua diperbaiki, lumayan cerewet lah si Mbah ini. Ternyata ban depan Raditya juga sobek, harus diganti, pedalnya juga diganti. Sementara sepedanya Naufal, diperbaiki semuanya sampai bisa jalan lancar. Saking banyaknya yang diperbaiki, keluarlah pertanyaan dari Mbah Akung, “Sepeda baru kok banyak yang rusak? Sering jatuh ya? Sering dibanting-banting ya?Pakai sepedanya nggak apik ya?”……Saya yang ditanya begitu, menjawab sambil berbisik (malu didengar tukang bengkel sepeda), “Ya…maklum lah Mbah, sepeda rekondisi, 500 rebu rupiah dapet 2, masih untung nggak rontok semuanya.” ………hihihihihi…..

Setelah diperbaiki, sepeda pun dibawa pulang, sampai di rumah  Naufal dan Radit main sepeda di depan rumah Mbah Akung. Hari Minggu pagi, jam 6 pagi Naufal sudah main sepeda di luar, baru berhenti dan masuk rumah ketika sadelnya copot. Cepat-cepat saya ajak Papanya ke bengkel sepeda (lagi) untuk ganti sadel yang baru. Dasar ya sepeda rekondisi! Mudah-mudahan kali ini si sepeda nggak bakalan ada lagi yang rusak, nanti ya Sayang kalau kamu berprestasi dan Ibu+Papa punya rejeki lebih, insyaAllah kami belikan sepeda beneran yang bukan sepeda rekondisi…..amiiiin……

2 thoughts on “Sepeda Rekondisi

    • anak2 emang begitu deh Ver, kalau kitanya ngotot ngajarin ini itu, dianya suka nggak bisa2, giliran didiemin, ehh anaknya sendiri yg minta diajarin dan langsung bisa ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s