Terjebak Longsor Cadas Pangeran

Tanggal 13-16 Mei saya dan anak-anak berlibur di Bandung. Hari pertama istirahat aja, hari kedua Papa Noor harus bekerja (seperti biasa berangkat naik bis subuh dari Bandung). Di hari kedua ini acara saya penuh dari pagi sampai malam. Mulai dari facial, ngeprint name tag, betulin printer, betulin sepeda, mengunjungi Aki di Sangkuriang Cimahi, jemput Papa Noor di terminal, cari alat tulis dsb.

Seperti biasa, kalau berkunjung ke Aki di Cimahi(Akinya saya) pasti disuguhi suguhan dan makanan yang enak-enak. Enak disini maksudnya sebetulnya makanannya sederhana : sambel, lalab, asin jambal/sepat, nasi putih anget, tumis2 (sederhana kan), tapi rasanya itu booo!!! Suedapppp bin uenakkkkk banget banget, restoran kalah deh! Makanya kalau makan di rumah Aki nggak pernah nggak nambah…..hihihihihi (eh, beneran loh kemarin saya malu-maluin, karena ngambil porsi paling banyak !!) Beres dari Cimahi jemput Papa Noor di terminal, abis itu ke toko buku Singgalang cari alat tulis.

Keesokan harinya, kami pergi ke Sumedang (dengan Papap, Mamah mertua dan adik ipar) untuk mengunjungi Aki Sumedang (Akinya Papa Noor). Berangkat pagi-pagi alhamdulillah perjalanan lancar jaya. Sampai di rumah Aki, anak-anak langsung nagih ingin mancing di balong. Naufal dapat 2 ikan kecil dan 1 lele ukuran besar…..ngotot ingin di bawa ke Bandung, akhirnya si ikan-ikan tangkapan Naufal dimasukkan ke ember kecil dan dibawa ke Bandung. Dari Buah Dua tempatnya Aki, kami berangkat menuju Bandung pukul 15.30. Kira-kira sudah melewati patung kuda setelah alun-alun Sumedang, hujan sangat besar mengguyur sepanjang perjalanan. Hujannya besar sekali, air keluar dari got-got tumpah ruah ke jalanan dengan arus yang sangat deras. Langit pun gelap kalau nggak salah waktu itu pk. 17.30 jalanan macet. Saya nggak tau persis tepatnya posisi mobil kami sampai dimana, kira-kira mau melewati Cadas Pangeran, tiba-tiba dari arah atas, orang-orang berlarian ke bawah, kearah mobil kami, sambil berteriak,”Putar balik, ada longsor !!!” Maksudnya mobil-mobil disuruh memutar balik karena di depan ada longsor. Papa Noor langsung memutar balik, kembali ke arah alun-alun, diikuti mobil-mobil yang lain. Sempat bingung, karena sudah gelap, hujan deras dan nggak tau jalan alternatif kembali ke Bandung, waktu itu belum ada Polisi sama sekali. Akhirnya kami putuskan untuk shalat isya di mesjid Agung Sumedang. Setelah shalat dan makan malam (makan nasi goreng yang di depan mesjid). Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari sopir angkot, mobil-mobil yang menuju ke Bandung diarahkan ke Rancakalong. Kami pun berangkat, dan ternyata di jalan sudah banyak Polisi yang berjaga-jaga sambil menunjukkan arah jalan alternatif. Kami belok di patung kuda, melewati daerah yang bernama Rancakalong, jalannya berputar-putar dan tidak ada penerangan jalan, nyaris 2 jam kami lewati jalanan berputar-putar itu. Di beberapa titik terjadi macet, dan dijaga oleh Polisi. Akhirnya kami tiba pada ujung jalan, keluar ke jalan arah Bandung….alhamdulilllah😀 Jalanan lancar, suasana sunyi gelap, hujan sudah berhenti dan seperti tidak meninggalkan jejak habis terjadi bencana di Cadas Pangeran. Kami pun tiba di rumah pukul 12 tengah malam. Keesokan harinya berita tentang longsor di Cadas Pangeran tercetak di surat kabar lokal, ternyata lumayan parah juga, ada mobil yang ketimbun longsor, untungnya kami terhindar dari musibah itu, alhamdulillah.

Bagaimana dengan para ikan di dalam ember kecil??? Si ember dibawa dalam keresek besar, ternyata kereseknya bocor, entah bocor atau karena goncangan terlalu kuat hingga air dalam ember luber ke keresek plastik. Nyarislah si ember beserta ikan-ikan itu kami tinggal di mesjid Agung Sumedang (tadinya mau dikasihkan ke tukang nasi goreng). Tapi Naufal dan Raditya merengek-rengek supaya tetap dibawa ke Bandung (ingin pamer hasil tangkapan ke Mbah Akung dan Nenek *gustii*). Eyang Mamah, Eyang Papap nggak tega dengan rengekan dua cucu kesayangan mereka, sementara Papa dan adik ipar saya abstein, dan saya sendiri yang keukeuh pengen ngasihin ikan itu ke tukang nasi goreng (*evil mode on*). Akhirnya keputusannya si ikan tetap dibawa ke Bandung…..errrgghh……Tiba di rumah, 2 ikan kecil mati, 1 ikan kecil masih hidup dan 1 lele juga masih hidup, keesokan paginya Naufal dan Raditya dengan sangat bangga menunjukkan ikan tersebut pada Nenek dan Mbah Akung, sementara 2 ikan kecil yang mati langsung dibersihkan dan digoreng untuk sarapan pagi mereka berdua ( Naufal dan Raditya ). Ikan-ikan tersebut nggak mungkin kami bawa ke Jakarta, karena tidak punya tempat untuk memeliharanya. Oleh karena itu, kami titipkan di kolam ikannya Eyang Papap😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s