Dibalik Nikmatnya Menjadi Ibu Rumah Tangga ;p

Ada masanya merasa sangat kesepian….teman yang dulu setiap hari hadir mewarnai sebagian hidupku, tiba-tiba menghilang seperti ditiup angin. Yang tinggal hanyalah gelas-gelas yang berjejer di rak piring bagian atas, piring dan kotak plastik di bagian tengah rak dan panci-panci ukuran besar di rak yang paling bawah. Mereka menjadi sahabatku, setia dan tidak akan pernah meniggalakanku kecuali pecah atau rusak.

Ada masanya merasa seperti Pembantu Rumah Tangga (PRT)…..badan bau bawang, kucel, dekil, berminyak karena kecipratan minyak dari wajan penggorengan. Telapak tangan tak lagi mulus, kasar, banyak luka tersayat pisau dapur, bercak-bercak putih kecipratan minyak panas. Kondisi kaki sudah tidak diragukan lagi, karena dia di posisi bawah, tempat menyangga tubuh, kaki menjadi kapalan dan rorombeheun (apa ya bahasa indonesianya?…lupa).

Harus menahan ngantuk….jam kerja tidak dibatasi, sering kali tidak punya ‘ME’ time (boro-boro deh…ini kejadian yang sangat langka terjadi), musti siaga 24 jam, karena para malaikat kecilku hanya ingin selalu berada di dekat ibunya, kapan saja dan dimana saja.

Nggak digaji…..eh, kata suami ku dapet gaji, gajinya : SURGA. Surga, sebuah kata yang abstrak, mudah diucapkan namun sangat sulit untuk digapai. Jadi apa yang terjadi?  ya harus menerima semua apa adanya, nggak boleh neko-neko.

Hmmm…apa lagi ya? Baru hal-hal di atas yang bisa diingat tentang dibalik nikmatnya menjadi ibu rumah tangga. Karena sisanya alhamdulillah bisa menikmati senyum dan binar mata malaikat-malaikat kecilku.

———————————————————————————————————————————————

*Buat sahabatku yang menjalani profesi sebagai ‘working mom’, ini adalah secuil yang harus kalian hadapi ketika beralih profesi sebagai ‘full time mom’, aku sih menyarankan, sebaiknya keputusan untuk resign itu harus dipertimbangkan matang dan jauh-jauh hari, jangan hanya karena dapet ‘tekanan’ dari lingkungan kerja, atau karena susah nyari pengasuh untuk anak lantas mudah menyerah dan mudah bilang ingin resign. Yang gak kalah pentingnya adalah mendiskusikan panjang lebar dengan ‘partner’ (suami) kita. Karena semua proses bisa dilewati dengan baik adalah hasil dari team work yang solid  antara suami-istri (asah, asih, asuh). So, selamat berfikir!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s