Hujan….Oh NO!

Ya Allah, maafkan aku…aku tidak bermaksud kufur atas segala nikmat Mu.   Aku suka hujan, aku percaya sekali hujan itu rahmat dari Mu dan salah satu waktu diijabahnya doa adalah ketika sedang hujan.

Ijinkan aku mengelurkan keluh kesah ku yaaa……

Kami mendiami rumah tua, nggak tau persis kapan rumah ini dibangun, tapi kata orang yang pernah naik ke para (apa ya bahasa indonesianya? atap ya?) sebagian besar kayu-kayunya udah rapuh, seng-seng yang ada di wuwungan (hihihi ini bahasa apa lagi nih) udah pada rapuh, bolong-bolong, temboknya juga pada dimakanin rayap, dan kalau hujan banyak yang bocor.

Sebagian *yang paling parah* sudah kami perbaiki, yang lain nunggu sampe ada dananya…hehehe…:) Untuk tembok yang suka rembes, kami belum bisa berbuat banyak, paling kalau hujan *air pasti banyak tergenang di lantainya* aku siapkan lap/keset supaya si air nggak lari kemana-mana, dan kami nggak kepeleset.

Setiap kali hujan di dekat tempat cuci piring pasti keluar puluhan kecoa, mulai dari yang dewasa sampai yang bayi-bayi. Pertama kali kami pindah ke rumah ini, rasanya surprise sekali, suatu ketika malam hari turun hujan derassss sekali dan kami kedatangan tamu-tamu kecil dari tempat cuci piring. Aku dan anak-anak geli melihat jumlah mereka yang sangat banyak ituuu…huhuhuhu :(Padahal tempat cuci piring bagiku adalah tempat yang penuh dengan kenangan *tempat curhat..hihihihi*  Selain keluar di tempat cuci piring si tamu mungil itu pun keluar dari kamar mandi, untung jumlahnya tak sebanyak yang keluar di tempat cuci piring.

Seiring dengan waktu, akhirnya kami bisa menerima kehadiran mahkluk mungil itu, dan kami juga tau cara menyuruh mereka keluar tanpa harus menyemprotkan baygon🙂 *keseringan pakai baygon tekor juga*  Oh iya, caranya begini, setiap kali hujan, aku buka pintu dapur yang menuju ke halaman belakang, lalu aku tunggu mereka keluar dari tempat persembunyiannya, aku sudah siap dengan sapu ijuk kesayanganku, begitu mereka keluar, langsung aku sapu keluar…begitu seterusnya, dan kalau kecoa itu sudah terlentang, artinya mereka sudah tidak berdaya, besok paginya tinggal dibuang. Ya itung-itung olah raga juga sih, aku sampai dapat pujian dari anak sulungku, “Wowww…ibu hebattt….!!” itu yang keluar dari mulut anak ku tercinta ketika melihat ibunya dengan semangat ’45 memengejar-ngejar kecoa centil yang iseng naik ke atas meja dapur dan akhirnya berhasil menyapu si kecoa keluar dari dapur…hahahaha🙂

Akhir-akhir ini cuaca ekstrem sedang melanda negeri ini. Setiap hari  hujan deras disertai angin kencang dan suara petir yang menderu-deru di langit. Kalau langit sudah mulai gelap, hatiku sering kali ciut, apalagi kalau Papa sedang nggak ada di rumah. Artinya aku harus siap-siap nyimpenin lap/keset di tempat-tempat langganan bocor/rembes, siap-siap menghadapi kecoa, siap-siap mematikan listrik *takut kena petir* dan yang paling utama menyipakan tenaga untuk membereskan semua keporak-porandaan setelah diterjang ‘badai’ *soalnya aku type ibu-ibu yang seneng sama kerapihan*.

Alhamdulillah, hujan sudah reda, waktunya aku untuk bersih-bersih rumah *lagi*….hehehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s