Kisah Perjuangan ASI Mbak Kemijem

Prolog :

Sebetulnya saya punya blog yang isinya cerita-cerita saya pribadi dan ibu-ibu yang pernah saya temui  yang bisa memotivasi ibu-ibu lain untuk berjuang memberikan ASI kepada bayi. Sayang, blog itu terhapus oleh saya sendiri, karena saya gaptek…*sedihhhhhh…hiks…hiks…*. Sayang juga, blog itu adalah catatan yang sengaja saya tulis ketika masih aktif kampanye ASI terutama kampanye yang saya lakukan di tempat saya bekerja *dulu*. Di blog itu juga saya pernah mengikuti  “Event Sharing ASI”, dan tulisan saya berhasil mendapatkan juara 1(pilihan favorit), dapat hadiah baju menyusui dari Bunda Maya 3F. Salah satu tulisan fenomenal yang pernah saya tulis dan tulisan ini nggak nyangka dijadikan motivasi di banyak tempat adalah tulisan tentang Mbak Kemijem. Saya mencatat tentang Mbak Kemijem mulai dari hamil (yang tercatata di blog saya), dan masa sesudah melahirkan. Dan kisah tentang perjuangannya demi ASI exclusivenya saya tulis di kertas, pakai tulisan tangan dan saya fax ke Dinny KAA. Waktu itu Dinny minta supaya saya melanjutkan kisahnya Mbak Kemi, karena saya udah nggak ngantor lagi *fasilitas internet belum ada di rumah*, lagi repot ngurusin anak *udah nggak punya pembantu*, lagi repot juga nungguin Bapak yang lagi operasi di RS. Dinny meminta saya segera menulis, karena pada saat itu di milis sedang banyak ibu-ibuyang mengeluh tidak mampu untuk memberikan bayinya ASI exclusive, padahal jika dibandingkan dengan Mbak Kemi, ibu-ibu di milis kondisinya jauh lebih menguntungkan. Berikut ini tulisan yang sempat dishare di milis, ditulis ulang oleh DinnyKAA :

————————————————————————————————————————————–

12 Agustus 2009 jam 18:33

Dear all,

Masih ingat sharing Ira (tim KLASI Bandung) yang berkisah Mba Kemijem yang terjebak aturan rumah sakit di sebuah rumah Sakit Swasta di kawasan timur Bandung yang bayinya tidak bisa di susui oleh ibunya langsung setelah melahirkan ? Alhamdulillah bayi Mba Kemijem lulus ASI EKSLUSIF dengan segala keterbatasannya. Berikut cerita Ira selengkapnya, Ira tidak bisa posting langsung karena sedang menunggu Ayahnya yang sakit di RS dan mohon maaf jika terlalu panjang karena cerita di mulai saat Mba Kemijem hamil sampai bayinya lulus ASI ekslusif.

wassalam,

Dinny

————————–

———————-

ASI, Kasih Sayang, Pengorbanan dan Solidaritas antar Sesama manusia

Bagi saya pribadi, bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan kepada bayi memiliki makna yang luas, bukan semata-mata memberikan asupan yang terbaik untuk bayi atau terciptanya bonding (ikatan batin) yang kuat antara ibu dan bayi, tetapi lebih dari itu. Dari ASI, saya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga, membuat saya lebih bisa memaknai hidup, serta lebih mensyukuri nikmat dan karunia Maha Pencipta.

Salah satu dari sekian banyak yang pernah saya lalui bersama ASI adalah cerita perjuangan Mbak Kemijem, saya punya alasan kenapa cerita Mbak Kemijem yang saya angkat kali ini, karena dalam cerita ini betapa banyaknya Mbak Kemi (nama panggilan Mbak Kemijem) menghadapi rintangan dengan segala keterbastasan yang dimilikinya, namun ia pantang menyerah. Dalam cerita ini teman-teman sesama ibu menyusui juga diuji rasa solidaritas dan keikhlasannya ketika membantu Mbak Kemi.

Mbak Kemi adalah seorang buruh pabrik yang pada waktu itu sedang hamil anak kedua, orangnya tidak banyak bicara, setiap mengikuti kelas ASI di mushola kantor hanya diam mendengarkan saya membacakan artikel-artikel tentang ASI. Suatu hari saya tembak dia dengan bertanya mengenai rencana Mbak Kemi melahirkan bayinya. Jawabannya saat itu adalah “Saya belum tahu, sepertinya saya akan melahirkan di Jawa Tengah kampung halaman saya, dan saya akan menitipkan bayi saya pada orang tua saya di kampung kalau saya sudah masuk kerja lagi. Karena untuk melahirkan di sini tidak memungkinkan, nanti setelah saya masuk kerja siapa yang akan membantu mengurus bayi saya?”

Mendengar jawaban Mbak, saya bertanya lagi, “Apa Mbak ngak kepengen memberikan bayinya ASI Ekslusif ?” Mbak hanya tersenyum menanggapi pertanyaan saya. Sejak saat itu saya mulai berfikir keras bagaimana caranya bisa membantu Mbak Kemi agar mau berjuang memberikan ASI Ekslusif untuk bayinya. Saya tidak memaksanya, saya hanya mengajak dia untuk rajin datang ke mushola sama-sama belajar tentang ASI. Karena saya membayangkan bagaimana jika saya berada diposisinya yang memiliki banyak keterbatasan. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah berusaha membangkitkan semangat Mbak Kemi untuk mau “berjuang” demi ASI. Alhamdulillah Mbak rajin sekali hadir di mushola, sesekali saya tanya “Mbak artikel ASInya, suka dibaca nggak di rumah ?”, Mbak menjawab “Sering Bu, malah kalo saya capek, suami saya yang membacakan artikel itu untuk saya”. Dalam hati saya bersyukur sekali mendengar jawabannya, berarti sudah ada kemauan dari Mbak Kemi dan suaminya.

Hari-hari pun berlalu, sesekali saya lontarkan pertanyaan pada Mbak Kemi tentang rencana melahirkan bayinya, jawabannya masih sama dengan jawaban peratama. Namun, ketika kehamilannya semakin besar ada perkembangan yang mengejutkan, Mbak mulai berubah pikiran, ia berniat melahirkan di Rancaekek tempat MbaK dan suaminya bermukim saat ini.

Namun ternyata persoalannya tidak semudah yang dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi oleh Mbak. Pertama : dia harus mencari pengasuh bayinya. Kedua : kontrakan tempat tinggalnya tidak memiliki daya listrik yang cukup untuk menyalakan sebuah kulkas karena memiliki daya listrik kecil yaitu 225 watt saja, dipakai untuk menyalakan tv, lampu, akuarium , radio, rice cooker dll, kalau ditambah kulkas tidak akan kuat alias pasti ‘ngejepret’.

Mengetahui hal tersebut saya menarik napas panjang dan sekali lagi mencoba berusaha memahami kondisinya, sambil ikut berpikir untuk mencarikan solusi. Untuk persoalan pertama mengenai pengasuh bayinya, Mbak dan suaminya berusaha mencari, ada yang bersedia tapi bayinya harus diasuh di rumah yang mengasuh bukan di rumah Mba Kemi, yah apa boleh buat daripada tidak  ada sama sekali. Satu masalah selesai, persoalan berikutnya adalah tempat penyimpanan stok ASI yaitu kulkas. Saya menyarankan bagaimana kalau dititipkan  di tetangga, siapa tahu ada tetangga yang bersedia dititipi ASI perah di frezzer kulkasnya. Ternyata tetangga-tetangganya pun kebanyakan tidak memiliki kulkas. Berarti harus cari jalan lain untuk menyimpan stok ASI.

Di dalam kumpulan artikel ASI yang saya bagikan pada temen-teman di  pabrik, ada tulisan dokter  Utami Roesli, bahwa tidak memiliki kulkas tidak menghalangi seorang ibu bekerja untuk tidak bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada bayinya. Dan kebetulan juga ada seorang teman pabrik pernah mempraktekan menyimpan ASI di termos ketika dia dan bayinya harus menginap beberapa hari di kontrakan suaminya. Saya optimis insyaAllah masalah tidak punya kulkas  bukan menjadi kendala Mbak Kemi. Selanjutnya untuk lebih memotivasi Mbak Kemi, saya berburu tulisan sharing ibu-ibu menyusui yang menghadapi kendala dalam pemberian ASI eksklusif,  tapi mereka akhirnya berhasil lulus ASI eksklusif.

Waktu terus berjalan, Mbak Kemi mulai masuk masa cuti melahirkan, hari-hari terakhir bertemu Mbak di mushola, ia dan suaminya sudah bertekad bulat untuk melahirkan di Rancaekek. Terharu rasanya, saya jadi bangga dan kagum pada mereka yang mau berjuang demi ASI eksklusif.  Pesan terakhir saya “Mbak, kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan menghubungi saya, mudah-mudahanan saya dan teman-teman bisa membantu”.

Sebulan kemudian saya mendapat kabar dari suami Mbak Kemi bahwa istrinya sudah melahirkan bayi laki-laki melalui operasi caesar di RS terdekat, Mbak Kemi dan si bayi sehat walafiat. Namun saya mendapat kabar buruk, yaitu Mbak tidak diberi kebebasan oleh petugas RS untuk menemui dan menyusui bayinya, dengan alasan karena Mbak melahirkan caesar. Segera setelah mendengar  kabar tersebut saya sharing dengan teman-teman  Tim Klasi Bandung . Mendengar kabar ini Dinny dan Linda tergerak hatinya untuk mengunjungi Mba Kemi di RS . Kami baru bisa mengunjungi Mbak Kemi keesokan harinya, karena kesibukan di kantor kami masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan.
Lokasi tempat kami kerja dengan rumah sakit lumayan jauh, Linda berangkat dari Dago dan Dinny dari Ujung berung, kalo saya  masih lumayan dekat. Kami bertiga tiba di RS dan menemui Mbak Kemi lalu mendengarkan ceritanya, rupanya ia dipersulit oleh petugas RS untuk bisa bertemu dan memberikan ASI pada bayinya. Mendengar hal tersebut kami bertiga berusaha mencari tahu penjelasan dari rumah sakit, terkait dengan keluhan yang disampaikan oleh Mbak Kemi kepada kami.

Rupanya memberikan ASI eksklusif belum menjadi prosedur utama di RS tersebut, sebagian besar petugas medis yang bertugas di ruang bayi masih memiliki pengetahuan yang sangat minim menganai ASI. Kami kemudian menemui manajemen RS, berusaha menyampaikan keluhan dan keinginan Mbak Kemi. Setelah berbicara kepada pihak manajemen RS, akhirnya Mbak Kemi  diberi kemudahan untuk bisa menemui dan menyusui bayinya. Setelah urusan selesai kami pulang kembali ke tempat kerja kami masing-masing, di luar RS saat itu hujan deras, Dinny yang sedang hamil besar berdua dengan Linda kembali ke Bandung naik angkot, salut pada Dinny dan Linda yang mau jauh-jauh datang untuk memberikan support pada Mbak Kemi, terima kasih teman-taman.

Alhamdulilah setelah kami mengunjungi RS, Mbak bisa menemui dan menyusui bayinya, walau kadang ia musti sedikit ngotot pada petugas. Semangatnya patut diacungi jempol. Meskipun menemui kendala, Mbak tidak mudah putus asa, ia tidak sungkan meminta bantuan pada kami, karena punya kemauan keras untuk bisa menyusui bayinya. Empat hari di RS akhirnya Mbak Kemi dan bayi laki-lakinya diijinkan pulang. Sejak saat itu saya dan Mbak Kemi saling kontak melalui sms.

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah waktunya Mbak Kemi untuk masuk kerja lagi dan meniggalkan bayinya di rumah. Masalahnya ia tidak punya kulkas menyimpan stok ASI perah. Tetangga jarang yang punya kulkas, mencari warung yang menjual es batu pun ternyata tidak semudah yang dibayangkan (tadinya saya pikir pasti banyak warung yang menjual es batu dan bisa langganan beli es batu setiap hari), ternyata untuk mencari es batu, suami Mbak Kemi harus mencari kesana kemari dan bisa dapat es batu dari warung yang letaknya jauh dari kontrakannya.

Sampai disini kok jadi saya yang pesimis ya, namun meskipun demikian saya tetap berusaha memberikan semangat pada Mbak Kemi dan suaminya. Mbak Kemi dan suami setiap hari sama-sama berjuang menghadapai segala macam kendala dan keterbatasan demi ASI (ia harus ekstra berusaha me-manage stok ASI perah, suaminya yang berburu es batu, Mbak Kemi yang buruh pabrik dengan jam kerja shift harus meluangkan waktu, disela-sela jam kerja memerah ASI setiap 2 jam sekali, Mbak Kemi juga sering kejar-kejaran stok asi perah). Belum lagi Mbak dan suami tidak mendapat dukungan, malah sebaliknya mendapat cemoohan dari lingkungan sekitar yang tidak mendukung pemberian ASI eksklusif, bahkan pengasuh bayinya pun sempet ngotot untuk memberikan bayi Mbak Kemi susu formula dan MPASI sebelum usia bayi 6 bulan.

Mbak Kemi dan suami menghadapi berbagai rintangan yang cukup berat, namun mereka pantang menyerah dan terus berusaha memberikan ASI eksklusif pada bayi mereka. Alhamdulillah sepanjang pantauan saya bayi mereka tumbuh dengan sehat.
Lama tidak mendengar kabar dari Mbak Kemi, karena waktu itu saya sudah resign dan sedang repot-repotnya persiapan pindahan rumah ke Jakarta. Tiba-tiba saya mendapat sms dari Mbak Kemi yang mengabarkan bahwa saat itu ia didiagnosa demam berdarah, dan harus diopname. Masalahnya stok ASI perah untuk bayinya tidak cukup, mungkin karena Mbak sakit jadi ASInya berkurang. Hebatnya Mbak Kemi tidak menyerah dia tetap berusaha kuat untuk member ASI pada bayinya.

Saya ingat betul waktu itu hari Kamis 2 Juli 2009, saya sedang repot sekali mengurus pindahan ke Jakarta. Tiba-tiba dapat sms lagi dari Mbak Kemi, segera saya telepon balik, ternyata Mbak sudah di opname, ia tetap memerah ASI (atas sepengetahuan dokter yang merawatnya), tapi stoknya tidak cukup karena si bayi sedang rakus-rakusnya minum ASI. Saat itu saya merasa tidak ada yang bisa saya perbuat, untuk menolong mbak, akhinya saya menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat ibu bisa memberikan susu formula pada bayinya sebagai jalan terakhir. Apa tanggapan dari Mba Kemi? “… Tapi kalo bayi saya diberi susu formula sayang Bu, karena sebentar lagi lulus ASI eksklusif….”. Ya Allah mendengar tanggapan Mbak Kemi, pipi saya serasa ditampar sangat keras, saya malu dan merasa egois sekali. Hanya karena sedang sibuk saya tidak mau berusaha memikirkan jalan keluar untuk membantu Mbak Kemi, saya dengan entengnya menyarankan agar bayinya diberi susu formula. Padahal selama ini sejak awal Mbak Kemi hamil saya selalu mendorong ia untuk berjuang demi ASI eksklusif. Saya lupa, saya bisa menyusui anak kedua saya sampai detik ini (2 tahun 2 bulan) juga karena dukungan dan bantuan saudara dan teman-teman saya. Masa kali ini saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Mbak Kemi yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.

Tanpa pikir panjang saya tawarkan apakah Mbak Kemi mau menerima donor ASI, kalau mau saya usahakan hari itu juga sesegera mungkin mencari donr ASI dan kalau sudah dapat akan segera saya antar ke RS. Mbak dengan senang hati mau menerima donor ASI. Segera saya sebar pengumuman melalu sms dan facebook ke teman-teman saya untuk mencari donor  ASI. Alhamdulillah dalam waktu singkat mendapat jawaban dari Dinny bahwa dia bersedia mendonorkan ASInya.

10 botol ASI saya jemput di kantor Dinny (Dinny yang sedang bekeja di kantor menyempatkan diri mengambil stok ASI perah di rumahnya). Padahal sebenarnya saat itu Dinny juga sedang kejar-kejaran stok ASI perah untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Subahanalloh saat itu keikhlasan kami benar-benar sedang diuji. Saat itu yang kami pikirkan hanya 1, bayi Mbak Kemi tidak boleh kekurangan ASI. Jam 12 siang ASI  donor dari Dinny berhasil saya antarkan ke RS dan sampai di tangan suami Mbak Kemi, alhamdulillah. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar Mbak Kemi sudah keluar dari RS. Ia dan suaminya mengucapkan terima kasih karena ASI donor dari Dinny telah menyelamatkan bayinya dari susu formula, alhamdulillah.

Waktu terus berlalu, saya sudah pindah ke Jakarta. Suatu sore saya mendapat telepon dari suami Mbak Kemi, dia curhat bayinya tidak mau menyusu ke ibunya, rupanya si bayi terkena nursing strike (mogok menyusu). Saya berikan penjelasan singkat mengenai nursing strike dan cara mengatasinya. Alhamdulillah kemudian saya mendapat kabar lagi si bayi sudah mau menyusu dengan normal lagi.

Setelah curhatan itu, tidak ada  kabar lagi dari Mbak Kemi, sampai pada tanggal 31 Juli 2009. Saya mendapat sms dari Mbak Kemi yang mengabarkan bahwa bayinya sudah lulus ASI  ekslusif!! Subhanalloh alhamdullilah….membaca sms Mbak Kemi mata saya berkaca-kaca mengingat bertapa beratnya cobaan yang harus dilewati Mbak Kemi dan suami.

Rasa syukur dan bangga sekali pada Mbak Kemi dan suami. Bravo Mbak! Dalam smsnya Mbak Kemi menuliskan kata-kata : “ Betul ya Bu, kalau kita mau usaha dan berdoa ternyata bisa dan Allah selalu memberikan jalan untuk kita.”                                                                                   Tentu saja Mbak, Allah akan memberikan jalan karena Mbak dan suami tidak mau menyerah pada keadaan.

Dari cerita perjuangan Mbak Kemi ini, saya mendapat pelajaran, bahwa ASI telah menyeret hati nurani saya untuk selalu berbagi dan berusaha sekuat tenaga untuk membantudan mendukung  sesama ibu yang ingin bisa menyusui bayinya secara eksklusif. Ketika bertemu dengan ibu yang mengalami kesulitan dalam memberikan ASI, kita harus berada dipihaknya, berusaha mengerti dan memahami apa saja kesulitan yang sedang dihadapi, Karena dukungan yang besar dari lingkungan sangat berarti untuk ibu sedang mengalami kesulitan menyusui.
Bagi ibu yang sampai saat ini masih menemukan kesulitan dalam memberikan ASI pada bayinya, berusahalah ibu, jangan menyerah berkacalah pada kisah perjuangan Mbak Kemijem yang tetap berjuang pantang menyerah menghadapi berbagai rintangan demi buah cintanya.

Menjadi seorang ibu adalah perkerjaan yang mulia meskipun mengemban tugas yang berat yaitu memelihara, menjaga dan merawat anak-anak, tetapi Tuhan telah memilih kita untuk menjalaninya, maka jalanilah dengan penuh kesabaran, keihlasan dan cinta.

Akhir kata, mudah-mudahan tulisan ini bisa menggugah hati kita semua untuk l;ebih peduli dan berjuang pantang menyerah agar bayi-bayi bisa mendapatkan haknya yaitu ASI eksklusif.

Ira Indiana – Tim KLASI Bandung

 

6 thoughts on “Kisah Perjuangan ASI Mbak Kemijem

  1. Heubat yach perjuangannya Mba Kemi, juga team yang support terus menerus..Memang berat jadi ibu pekerja yang harus merah ASI, tapi insya allah kalo tekad kuat pasti bisa…O iya, dulu ibunya Dzakyfai disemangatin mamilis asifornany, Mba Dewi Istiningrum yang tolongin beli tas yang buat simpen ASI buat bawa plg kerumah,dianter pulaks ke rmh ..subhanallah, akhirnya berhasil dech nyusuin Fai.

    • setuju Bun, harus ada niat kuat, jadi seberat apapun rintangannya pasti bisa dilewati, yg nggak kalah penting adalah dukungan dari semua pihak, terutama orang2 yg tergerak hatinya unt membantu sesama ibu menyusui, saya juga bisa lulus ASIX dan menyusui sampai 2 th 9 bulan karena bantuan dan support dari keluarga dan teman2, makanya karena berasa banget dapet bantuan dari sana-sini, saya pun tergerak unt membantu ibu2 yg menyusui bayinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s