JANGAN BURU-BURU MENGAJARKAN ANAK MEMBACA&MENULIS (1)

Dapet artikel bagus dari milis Sehat :

by Navita Kristi Astuti
Fb : http://www.facebook.com/profile.php?id=556597962&v=info

Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua
yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan
sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk
menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya
kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar,
sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK),
bahkan Kelompok Bermain (KB).

Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis
semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak
dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan
penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson,
yang layak dicermati para orangtua.

Bagian I – Sistem Proprioseptif Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang,
selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku,
mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering
terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan
orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar
sistem proprioseptifnya belum matang.

Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui
keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah
berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus
melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara
lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu
kaki dengan mata terpejam. Kematangan sistem proprioseptif sangat erat
kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian.

Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi
otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh
duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak
kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu
duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD
(Attention Deficit Disorder).

Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar
membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari
bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih
berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau
tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik.

Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di
punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti
sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.Sistem proprioseptif menjadi
kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak
mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput,
atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain.

Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot,
tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak
kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai
memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka. Dampaknya, saat
nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu
mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu.

Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas
terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf
ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai
panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2
dan 3.

Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup) dan Taman
Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar baca-tulis-eja.
Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah mereka? Mari kita kaji
dari aspek perkembangan otak anak.Jika anak belajar membaca pada usia 4-7
tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan.

Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf
dan angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf
pertama dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan
tergambarlah kata itu di benaknya. Kelemahannya, kalau cara membaca dengan
otak kanan itu terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan
mengalami berbagai problem belajar.

Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia melihat huruf
pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas menebak “kata apa
itu?”. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika Anda pampangkan kata
ARJOLI ia akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa sadar bahwa ia telah salah
mengeja. Kata-kata seperti SIAP, SOP, dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT
akan terlihat sama saja.

Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan sangat
melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak yang membaca
dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa
alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap
makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji mental yang timbul sementara
mereka membaca buku cerita. Ini akan membatasi pemahaman menyeluruh mereka.
Akibatnya, saat harus meringkas atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung
mencontek atau menyalin teks apa adanya.

Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar,
cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf
atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh
gambar dua puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk
menggambar seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau
wafer untuk huruf “W”. Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan
mengaitkannya ke benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama
dari kata “Mama”.

Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk hurufnya.
Dari sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal mengharap anak hafal
bagaimana menulis huruf B dengan bilang, “Babi, Nak, babi!” karena huruf B
sama sekali tidak mirip dengan babi, atau huruf A dengan apel, dsb.Tetapi
untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain.
Pertama, berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata
terjadi usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada
anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di
otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara
fonetis (dari huruf ke huruf). Sekarang mereka dapat mengingat lebih akurat
bagaimana mengeja kata-kata.**

Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual,
sementara belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari huruf
ke huruf). Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk kata-kata
pendek, sementara metode fonik efisien untuk kata-kata panjang. Jika kedua
belahan otak itu telah berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses
keduanya secara bersamaan. Akibatnya, anak akan mampu membaca kata pendek
maupun panjang dengan efisien.

Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung
(integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral
skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki
kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi.

Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung dengan belahan otak kiri,
sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri terhubung dengan belahan otak
kanan. Kalau anak dapat menggerakan tangan dan kaki yang berseberangan
bersama-sama, berarti belahan otak kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau
terhubung satu sama lain. Kalau anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki
yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena
mereka belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.

Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan
kanan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa
menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak
terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh
menceritakan kembali, mereka mampu menguatakannya dengan kata-kata mereka
sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak mereka. Mereka jadi
lebih mudah memahami makna di balik cerita dan buku yang mereka baca.
Belajar mengeja pun akan jadi lebih mudah.

Saya kuatir melihat makin banyaknya siswa kelas 4, 5, 6, bahkan 7 di sekolah
negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau masih membaca secara
visual. Pernah saya memberi tes. Saya minta sejumlah anak membaca kalimat
ini: Enam boach pergi brllibur berasma naik preahu mnemacing ikon. Ternyata
banyak yang tidak sadar bahwa kalimat itu mengandung salah eja.

Saat saya suruh mereka membaca kertas lain berisi kalimat yang sama namun
dieja dengan benar, mereka bilang kalimat kedua ini sama saja dengan yang
pertama. Paling banter mereka hanya menyadari 1-2 kata saja yang berbeda
ejaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s