JANGAN BURU-BURU MENGAJARKAN ANAK MEMBACA&MENULIS (2)

Andri Nugroho <http://www.facebook.com/andri.nugroho1>  November 10 at
5:12pm Reply<http://www.facebook.com/ajax/messaging/composer.php?thread=1211042173925&msg_id=0&id=1551251067>

Report<http://www.facebook.com/ajax/report.php?type=9&cid=1211042173925&rid=1551251067&h=AQCuKVG49-NaKKzm>
Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya otak
kanan mereka yang sudah siap. Mereka menutupinya dengan belajar membaca
segala sesuatu hanya dengan ingatan visual. Saat pusat baca di belahan otak
kiri mereka akhirnya siap, mereka masih terbiasa membaca dengan otak kanan.
Baru ketika kata yang mereka baca terlalu sulit, mereka memakai pusat baca
otak kiri. Tetapi mereka belum bisa memakai pusat baca di otak kiri dan otak
kanan bersama-sama.

Banyak dari anak-anak ini masih belum memiliki integrasi bilateral dalam
gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka. Sebagian
anak membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain punya ingatan
visual begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat tetapi tingkat
pehamaman dan ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini sama-sama tidak bisa
membayangkan dengan mudah adegan-adegan dari teks yang mereka baca atau
mengingat bagaimana cara mengeja tiap kata satu persatu.

nak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca perlu
diberikan terapi sesuai kasusnya. Ada banyak opsi terapi yang bisa dipilih.
Oh ya, mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan silang untuk
menguatkan integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya lewat permainan
tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan,
semua terapi ini jangan dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres
mengganggu pembentukan jalur syaraf. Setelah itu, mereka harus dilatih ulang
membaca fonik dengan otak kiri.

Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar anak
lewat penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar, dengan
menghindari minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak trans. Tidur
yang cukup – yang berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM) –
akan membantu anak mencerna pelajaran yang ia terima di hari sebelumnya.
Yang tak kalah pentingnya adalah cinta kasih tanpa syarat. Anak yang
merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk
kemampuan akademisnya.

Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games
komputer), bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan
membebaskan pikiran anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan elektronik itu
akan membombardir otak anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses
berpikir. Irama yang teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta
kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem syaraf yang rileks dan anak pun
lebih siap belajar.

Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf pun tak
berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis, membaca, dan
mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini (tidak sesuai
dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku bermasalah dan
problem-problem belajar, terutama pada anak laki-laki. Mereka bisa benci
sekolah, juga benci belajar.

Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan berbagai
gambar bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang dijadikan
gambar. Mereka berlatih tulis bersambung (kursif), setiap huruf ditulis
berulang kali (misalnya, bentuk kursif “c” disambung seperti ombak lautan).

Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki
dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya,
lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang – artinya, otak kanan
dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung – pelajaran
formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.

Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman
kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan yang melatih
integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual,
keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan
emosional anak.

Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan
satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap,
melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik,
merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka
untuk belajar. Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis, ritmis,
dan tak kompetitif ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab gerakan tubuh
itulah, bersama-sama dengan kecintaan mereka pada proses belajar, yang
menciptakan jalur-jalur syaraf di otak mereka, agar mereka bisa membaca,
menulis, mengeja, berhitung matematis, dan berpikir kreatif. (habis)

Notes By Navita Kristi Astuti
http://www.facebook.com/profile.php?id=556597962&v=info

4 thoughts on “JANGAN BURU-BURU MENGAJARKAN ANAK MEMBACA&MENULIS (2)

  1. Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan
    satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap,
    melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik,
    merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka
    untuk belajar…

    Susah juga yach tuntutan skrg harus bs baca tulis pas SD..padahal dulu gak begitu….moga bs menyeimbangkan anak dengan kegiatan seperti kutipan diatas…

    • betul Mbak, artikel ini sebagai info untuk ortu yg punya balita, soalnya banyak anak2 balita yang DIPAKSA unt bisa baca tulis, dan di-push sama ortunya unt bisa, padahal inilah sebetulnya yang sedang dialami oleh anak2 usia itu

      parahnya lagi, sebagian besar TK yg ada juga mengajarkan hal yg sama, tapi minimal dengan membaca artikel ini diharapkan menjadi bekal bagi ortu unt membimbing anaknya sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai anak usia balita

  2. hi mbak, salam kenal ya …
    Bagus banget artikelnya., kejadian di sekolah TK anak saya tuh … belajar baca tulis berhitung, di tambah les pula.
    Tapi anak saya ngga mau ikut les, bosen katanya. Ya sudah, ngga saya paksain. Biar aja deh ..

    Mudah2an kita bisa jadi ortu yang bijak buat anak2 ya …

    • Salam kenal Mom Dey
      Pengalaman anak pertama saya Mbak, maklum masih belum ada pengalaman. Saya sempet panik krn dia blum bisa baca, apalagi di TK nya diajarkan calistung nggak pake konsep/asal banget. Anak sy jadi antipati, akhirnya kami carikan SD yang ramah anak, tes masuk nggak pake harus bisa baca tulis, trus meskipun blum bisa baca, nggak harus dipaksa, tapi akan dibimbing o/ gurunya. ALhamdulillah…prestasinya lumayan, akhirnya bisa baca lancar dan mengerti apa yg dia baca kok. Yg sering dilupakan o/ kebanyakan ortu adl…mrk terlalu menekankan pada HARUS BISA BACA TULIS. Memang sih tuntutan masuk SD skr kan begitu, tp kl saya, tp kita sbg ortu kan punya pilihan, kl saya akan cari sekolah yg benar2 ramah anak. Makanya hrs banyak2 menabung nih…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s