Hidup Sebagai Pengungsi

Prolog : Lama banget baru update, ada aja hal-hal yang bikin nggak jadi nulis, diantaranya : sudah niat nulis dengan mood yang bagus ehh..internetnya error, jadi aja tulisan malah nggak bisa dipublish bahkan nggak ter-save…giliran semuanya okeh…ehhh ni anak-anak nggak bisa disambi….Nah, baru kali ini *sebenernya internetnya lagi lemot, kebetulan anak-anak lagi tidur, yah mari kita coba menulis, semoga nggak pake error-erroran lagi.

———————————————————————————————————————

Rasa sedih tidak terelakkan lagi. Siapa yang gak bakalan sedih dan kaget dalam sekejap dan diluar dugaan musibah datang menghampiri kita. Dalam sekejap dari yang ada bisa menjadi tiada. Saat itu suasana di sekitar rumah ramai sekali dikunjungi orang-orang. Dibantu oleh para tetangga, kami membersihkan puing-puing kebakaran dari dalam rumah. Air sempet sekitar 30 cm menggenangi rumah karena habis disemprot oleh pemadan kebakaran. Semua yang ada di dalam rumah dalam keadaan basah kuyup. Kamar depan hanya atapnya saja yang bolong, ketika saya buka pintunya, dipenuhi oleh asap, gelap, menyedihkan sekali. Saya mengambil koper, dan mengemasi baju anak-anak, saya dan papanya anak-anak (alhamdulillah baju semua masih terselamatkan, hanya lemari Naufal basah kuyup, karena atapnya bolong, posisi kamarnya dekat dengan dapur). Rumah sudah tidak layak dihuni. Apalagi saat itu hujan terus mengguyur wilayah Cibubur. Kami harus mengungsi.

Kami ditampung sementara di rumah tetangga persis depan rumah saya. Di sana hanya tinggal Ibu dan Bapak saja *anaknya ikut dengan suaminya*. Rencananya kami akan segera mencari kontrakan yang tidak jauh dari rumah, karena pada saat itu kami harus stay di Cibubur bersiap menghadapi Naufal yang mau UAS. Namun, sampai hari Minggu sore kami belum juga menemukan rumah yang bisa kami kontrak. Akhirnya kami minta ijin untuk tinggal di rumah Ibu dan Bapak depan rumah kami itu. Alhamdulillah mereka mengijinkan kami.

KOndisi anak-anak, saat itu memprihatinkan. Mereka harus beradaptasi dengan suasana baru. Raditya selama 3 hari masih demam tinggi, nggak sempet ngukur berapa derajat demamnya, saya treatment dengan paracetamol dan air putih saja. Sempet saya pikir Radit kena campak atau rubella, karena pada saat demam tinggi muncul ruam merah di muka dan badannya. KOndisi umum masih biasa, masih mau makan, pipis banyak sekali *soalnya minumnya juga buanyakkk sekali, sampai saya suapi pakai sendok setiap saat*. Nggak sampai saya bawa ke dokter, karena hari ke-4 demam reda, disambung dengan mencret 3 hari, tetap saya treatment dengan memberikan cairan sebanyak-banyaknya. Alhamdulillah nggak lama setelah mencret-mencret, Radit pun sembuh. Giliran Radit sembuh, Naufal mulai demam tinggi. Padahal saat itu Naufal sedang pekan ulangan sebelum UAS. Naufal sempet nggak mau sekolah sampai nangis-nangis, tapi akhirnya bisa dibujuk untuk tetep sekolah.

Saat itu rasanya waktu berjalan sangat sangat lambat sekali. Padahal kepengennya mengungsi ke Bandung, tapi apa daya harus sabar menunggu Naufal ujian.

Oh iya, sesaat setelah api padam…..keadaan di sekitar rumah masih dipenuhi oleh banyak orang. Nggak sedikit orang yang enggak saya kenal berburu mencari saya. Bahkan ada yang memfoto rumah yang habis dilalap api. Saya pada waktu itu nggak ‘ngeh siapa mereka. Untungnya Ibu yang menampung saya, berusaha mendampingi dan menyuruh saya masuk ke dalam rumah, menjauhkan saya dari mereka. Setelah keesokan harinya baru saya tahu, yang mencari-cari saya adalah wartawan. Karena beritanya kemudian pada malam itu juga sudah dimuat di detik.com. Bukan apa-apa ya, saya rasa mereka kok nggak punya perasaan tenggang rasa gitu ya. Mereka nggak bantuin apa-apa, hanya menguber-nguber saya, dan tanpa persetujuan saya, berita sudah dimuat di internet dan koran-koran. Untungnya semua beritanya nggak ada yang akurat. Bayangin aja, saya dalam keadaan kalut begitu dipaksa-paksa untuk menjawab pertanyaan mereka…haduhhh…tega ya!

Saya pun merasakan hidup sebagai pengungsi, masih beruntung karena rumah tempat mengungsi kami sangat layak, hanya kami kesulitan untuk menyediakan makanan, karena banyak hal yang nggak bisa saya ceritakan di sini, untung kami masih bisa memesan catering rantangan. Yang paling kasihan Naufal, dia kan rada susah makan, sempet beberapa kali makan hanya dengan nasi dan kecap. Tapi tetep aja saya merasa stress karena anak-anak yang nggak bisa dikendalikan, belom lagi pada sakit dan harus membimbing Naufal yang saat itu sedang pekan ulangan harian plus akan menghadapi UAS. Ada satu episode, dimana saya akhirnya dilarikan ke UGD RS terdekat karena mendadak nggak bisa bernafas. Untungnya nggak harus sampai diopname, hanya observasi beberapa jam saja di UGD lalu saya pulang. Dokter mengatakan kalau saya terlalu stress.

Akhirnya Mama saya dan adik saya diimpor dari Bandung,karena  melihat kondisi saya yang kurang sehat itu. Selama 5 hari mereka menemani saya dan anak-anak di Cibubur. Setelah Naufal selesai UAS (akhir desember tuh…paling telat UAS nya), saya, ortu, dan anak-anak mengungsi ke Bandung…huffffhhhh….finally. Sementara Papa ditinggal di Cibubur karena harus mengawasi perbaikan rumah.

Dari semua kejadian ini, tentu saja memberikan pengalaman yang luar biasa buat saya, membawa saya masuk pada episode berikutnya dalam hidup saya. Yang harus saya catat adalah, ketika ada yang tertimpa musibah, lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka, apa pun, jangan hanya diam atau cuma nanya-nanya kronologis kejadian, apalagi kemudian menjadi sumber gosip. Waktu itu pas kejadian ada seorang ibu masih tetangga saya, tapi saya nggak kenal siapa beliau, saya kagum karena dia langsung datang dan menyerahkan kresek, dia bilang ke saya, ini baju silahkan dipakai. Saya pikir yang ibu itu berikan adalah baju bekas, ternyata setalah saya buka, isinya 2 potong baju baru (masih ada labelnya)…subhanalloh (semoga Allah SWT melipatgandakan pahala untuk ibu tersebut, amin).Lalu kalau bisa kita dampingi orang yang sedang tertimpa musibah itu, suruh ybs menenangkan diri, jangan biarkan dia sendirian dan menjawab pertanyaan dari orang-orang yang tidak dikenal. Dalam kondisi seperti itu nggak mungkin kita menjawab pertanyaan dengan akurat, apalagi nanti malah jadi salah persepsi atau disalahgunakan. Kita bantu untuk menyelamatkan harta bendanya, mengurus anak-anaknya, dsb.

Tak lupa saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dan perhatian dari para tetangga, ortu, sodara-sodara dan para sahabat. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala amal kebaikan semuanya, amin ya Rabb.

Sungguh, semua ini ada hikmahnya. Alhamdulillah saat ini jalan 3 minggu kami mulai menempati rumah yang telah diperbaiki.

“Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan….”

-tamat-

4 thoughts on “Hidup Sebagai Pengungsi

  1. Alhamdulillah akhirnya bisa menempati rumah yang sudah di renovasi, mudah2an kejadian itu ngga terulang lagi. Untungnya masih ada tetangga yang peduli yachh…..Mudah2an mrk mendapat pahala yg setimpal. amiin

  2. ya Allah iraaaaaaaaaa… aku baru baca ceritamu ini… astaghfirullah… ya ampuun, ikut prihatin iraaaaaaa… mudah-mudahan semuanya dimudahkan oleh Allah ya ra… pasti ada hikmah di balik semua ini… alhamdulillah semuanya selamat gag ada korban jiwa… duuuh… bacanya deg-degan banged…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s