Berdamai dengan Diri Sendiri

Hidup tentunya harus seperti meniti anak tangga. Seiring bertambahnya usia harus semakin naik, bukan jalan di tempat atau malah sebaliknya turun tangga. Dalam kehidupan berbagai perubahan pun terjadi silih berganti. Siap nggak siap, maun ggak mau harus bisa mengikuti perubahan yang ada. Nggak cuma mengikuti sih, harus juga bisa menerima setiap perubahan. Kali ini curhat mengenai diri sendiri. Terus terang tahun ini banyak hal yang nggak sesuai target. Ditambah lagi rasanya masih berat menerima kenyataan bahwa sekarang banyak hal telah berubah. Rumah udah nggak di Bandung lagi, udah nggak kerja lagi, makin tuir (hehehehe), dst,dst. Sampai di suatu titik, akhirnya saya menyadari saya HARUS menerima keadaan apa adanya (ini ni yang rada telattt terjadi dalam hidup saya).

Bukan, bukan menyerah pada keadaan. Hanya saja saya harus men-switch ‘kepala’ saya dan membuang segala ‘andai-andai’ saya, untuk kemudian berdamai dengan diri sendiri, menerima semuanya dengan ikhlas lillahi ta’ala, dan yang paling penting menjalankan apa yang ada di depan mata saya dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras.

Dulu waktu masih sekolah dan kuliah, setiap tahun saya menulis target-target yang harus saya capai dalam waktu setahun ke depan. Alhamdulillah semuanya terpenuhi, lulus UMPTN, lulus kuliah dengan nilai baik, langsung bekerja, menikah di usia yang sesuai dengan cita-cita, punya anak, bisa menabung (meskipun terpaksa hidup terpisah selama 5 th dengan suami), dan ada satu target saya ketika masih bekerja dulu, yaitu resign, menjadi ibu rumah tangga, dan tinggal serumah dengan suami. Alhamdulillah juga Allah memuluskan target saya yang terakhir. Yang bagi suami, ortu, mertua adalah sebuah keputusan yang sangat posititf dan disambut sangat baik oleh mereka, dengan dukungan 1000% .

Lalu saya pun sampai pada tahap selanjutnya yaitu resign, menjadi ibu rumah tangga dan tinggal mendampingi suami tercinta. Sejuta angan-angan berebut menggelayuti kepala saya. Saya akan menjadi ibu yang baik, akan menjadi istri yang solehah, mempunyai bisnis sebagai pembuat kue, aktif dalam kegiatan ini dan itu (termasuk meneruskan kegiatan yang pernah saya geluti sewaktu saya masih bekerja dulu).

Namun, kenyataan berkata lain. Mengurus anak tidak semudah yang saya bayangkan, urusan sepele saja contohnya masalah makan, ya Allah….sulit sekali, saya nggak tau anak-anak itu maunya makan apa? Perasaan saya sudah berusaha membeli bahan makanan yang sebaik-baiknya untuk mereka, berusaha memasak sendiri *meskipun waktu awal-awal itu saya masih belajar memasak ==>orang yang bisa bikin kue belum tentu bisa masak loh ya!*, saya berusaha melakukan yang TERBAIK untuk mereka, tapi apa hasilnya…ketika saya ajak makan, susahnya bukan main, perlu waktu berjam-jam untuk menyuapi mereka, itu pun sering kali diiringi suara saya dengan intonasi tinggi😦 hiks.  Kemudian hal-hal lain yang membuka mata saya bahwa menjadi ibu rumah tangga itu nggak semudah yang saya bayangkan. Jujur ya, rasanya seperti pembantu, tapi nggak dapet gaji. Kerja 24 jam nonstop 7 hari dalam seminggu. Ya, saat itu saya ‘berteriak!’ , hati saya bergejolak, bukan seperti ini yang saya inginkan!!!

Karena sibuk mengurusi rumah tangga dan anak-anak, saya pun lama menghilang dari ‘peredaran’. Ketika saya mulai eksis, ternyata begitu banyak teman-teman saya dulu akrab dengan saya , sekarang menghilang entah kemana, meninggalkan saya *atau mungkin sebenarnya sayalah yang menginggalkan mereka?!?*. Hidup terasa seperti dalam kotak kardus, terkungkung sendiri dengan rutinitas menjemukan yang nggak ada habis-habisnya.

Mulailah saya berangan-angan….saya kembali kangen dengan rutinitas bekerja kantoran, semua kelihatan hidup, meskipun banyak tantangannya, tapi justru saya suka tantangan itu. Sebuah kehidupan yang dinamis yang pernah saya jalani. *Kebayang nggak dulu waktu masih ngantor, saya masih sempet menerima pesanan kue dari teman-teman saya, saya mengerjakannya dengan sepenuh hati, dengan perasaan riang gembira dan rasanya nggak ada kata capek*. Tapi sekarang????? Saya nggak ngantor, tapi rasanya capekkkkkk sekali, perasaan pekerjaan saya ya ini-ini saja, tapi rasanya berat…hiks.

Maafkan ibu ya Nak, ibu sering kali emosi pada kalian, maafkan ibu ya Pa, sering menuntut ini itu.  Barangkali niat ibu kurang kuat. Niat untuk menjadi ibu yang baik, istri yang solehah, ternyata berattttt banget!!! Ya Allah………

Orang boleh punya cita-cita setinggi langit. Saya pun demikian, namun cita-cita yang saya miliki kali ini berbeda, bukan lagi masalah ingin sekolah, ingin mencapai target karier yang bagus, ingin punya gaji yang besar, punya kedudukan, dst, dst.

Sejuta angan saya lepaskan, dan saya ganti dengan yang baru. Saya merasa capek harus berperang terus menerus dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri adalah jalan keluarnya. Karena umur manusia adalah rahasia Illahi, kita nggak akan pernah tau kapan kontrak dengan Sang Pencipta berakhir. Menyia-nyiakan waktu dengan berkeluh-kesah hanya akan menyakiti diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

Kali ini cita-cita saya sangat sederhana : saya ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, mampu mendidik mereka dengan sejuta cinta dan kasih sayang, memberikan bekal ilmu agama yang cukup agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang soleh, menjadi istri yang solehah bagi suami saya, dan mengabdi pada Allah SWT Sang Pencipta.

Ya ALlah…semoga Engkau meluruskan niat hamba, berikanlah hamba kemudahan dan kemampuan untuk menggapainya, amin.

4 thoughts on “Berdamai dengan Diri Sendiri

  1. wahhh hebat si mama, resign dari kantor jadi IRT….aku juga sebenarnya mau, tapi apa daya keuangan tidak mencukupi kalo saya hrs resign dalam waktu dekat. Insya Allah pada saatnya nanti Allah memberikan rejeki dari pintu lain dan saya bisa bekerja sambil jaga anak2 dr rumah.

    Pasti berat yach biasa di kantoran trus harus 24 jam di rumah, belum lagi lihat tingkah anak2 yg kadang bikin orangtua jengkel, kayak dsuruh mandi susaahnya minta ampuun, pake baju maunya itu2 aja, dsuruh makan susah….wah pasti stress yachh awal2nya…..mudah2an nanti aku bisa menhadapai itu semua dengan baik.

    • alhamdulillah Bun, semua harus matang persiapannya, terutama persiapan mental…hehehehe…
      apalagi skr biaya sekolah anak muahallll sekali, wuihhh…kl gak kuat iman mah udah kelaut aje kali…*sabar-sabar-sabar*

  2. Amin… Memang ya, cita-cita/impian kita itu mengikuti prioritas kita pada saat itu. Dulu waktu masih kuliah, cita-cita saya mau kuliah pascasarjana sampai S3, mau ini mau itu. Sekarang prioritas sama sekali sudah bukan di studi, tapi pingin nyangkul aja banyak-banyak demi bisa beli rumah dengan keringat sendiri🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s