Disiplin dengan Kasih Sayang (1)

(ditulis oleh Yuli Sukri)

Hari ini adalah hari pertama”, Ibu Elly mengajak kita untuk mendalami, mengapa kita butuh “disiplin”?

Disiplin adalah sesuatu yang kronis. Harus dimulai dari diri sendiri.

Lihat saja kemarin (tanggal 25 Oktober 2010), telah terjadi kemacetan yang hebat. Pemicu-nya adalah hujan. Namun, tidak terlepas dari prilaku kita sehari-hari. Jalanan Stuck, akibat kita “tidak sabar” mengantri, bahkan ada yang “tega” meninggalkan mobilnya ditengah jalan (tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa ketakutan akan kehilangan mobil), lalu begitu saja pulang!

 

Bagaimana cara menerapkan disiplin yang efektif kepada anak-anak?

First things first, Kita – orangtua-, harus mendisiplinkan diri sendiri terlebih dahulu. Baru menerapkannya kepada anak-anak. Anak-anak yang telah kita “disiplinkan” akan menjadi “berbeda” dengan anak-anak lainnya. Anak kita akan dicap sebagai anak yang berasal dari “planet” lain. Apapun itu – kondisi diluar-, jangan dihiraukan. Kita “benarkan” diri kita terlebih dahulu. Mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil. Ilmu yang didapat diamalkan dalam lingkungan terdekat dulu: lingkungan rumah dan lingkungan sekolah.

 

Apa sih sebenarnya tujuan pelatihan kali ini?

Orangtua diharapkan untuk:

  1. Mengenali latar belakang pendisiplinan diri sendiri dan pasangan, serta dampaknya dalam mendisiplinkan anak yang dilakukan pada saat ini.
  2. Mampu mengambil keputusan yang penuh percaya diri dalam mendisiplinkan anak berdasarkan pengetahuan mengenai tehnik disiplin yang tepat.
  3. Meningkatkan kemampuan bereaksi yang penuh pertimbangan dalam menghadapi tingkah laku “nakal” anak dan menurunkan kecenderungan reaksi yang impulsif atau otomatis.
  4. Meningkatkan kemampuan untuk “mencegah dan mengarahkan”, dan menurunkan kecenderungan untuk menghukum secara fisik.
  5. Merasakan menurunnya stress dalam upaya mendisiplinkan anak.
  6. Agar kita tidak memelihara untuk menjadi autoritas eksternal anak, dan dapat membangun autoritas internal anak agar anak dapat survive menjalankan tantangan yang akan dihadapinya.

MASALAH KITA…..

Disiplin bukan sesuatu yang mudah, disiplin itu rumit, dimana kadang-kadang orangtua – ayah dan ibu- tidak sepakat dalam menentukan aturan, ditambah dalam penerapan disiplin yang tidak konsisten. Apa yang akan dihadapi akibat ketidakkonsistenan?

Anak akan bingung, anak akan memiliki “celah” sehingga memegang kartu truf orangtuanya (it happen to me!..), dan anak akan merasa memiliki “hero” yang akan memberikan pertolongan, dan akhirnya anak yang memegang kendali!

 

Kita sebagai orangtua ingin memiliki suatu kewenangan orangtua terhadap anak

Apa yang diharapkan oleh orangtua? Memiliki anak yang patuh terhadap semua aturan yang ditetapkan oleh orangtua?

 

Pengaruh masa kecil orangtua mempengaruhi gaya disiplin yang diterapkan kepada anak.

Bagaimana pendisplinan ayah dan ibu? Apakah sama? Gaya disiplin apa yang diterapkan? Apakah gaya pendisiplinan ayah dan ibu sama?

Bagaimana ayah dan ibu dibesarkan, akan tercatat dengan rapih dalam otak dan akhirnya diturunkan pada saat mendisiplinkan anak

 

APAKAH PEMBERIAN HUKUMAN DAN HADIAH EFEKTIF DALAM USAHA PENDISPLINAN?

Pemberian hukuman dan hadiah tidak memberikan kesempatan pada anak untuk membuat pilihan dalam belajar bertanggungjawab. Pemberian hukuman dan hadiah membuat anak berpikir bahwa yang mengendalikan dan yang bertanggung jawab adalah orangtua.

 

Hukuman dan hadiah hanya efektif diberikan untuk anak berusia dibawah 7 tahun. Hukuman dan hadiah kurang efetif karena datang dari luar (anak), dan tidak mengajarkan keterampilan internal agar prilaku itu tidak terulang dan juga tidak mengajari bagaimana anak belajar menangani emosi. Dilain pihak, pemberian hadiah membuat anak mengharapkan “pembayaran” bagi kerjasamanya. Pemberian hadiah tidak pada tempatnya akan membentuk anak yang demotivated, dimana pada suatu titik tertentu, hadiah akan dianggap “basi” oleh anak, karena terlalu gampang untuk mendapatkannya (weeewww…)

 

Apa sih tujuan orangtua dalam memberikan hukuman?

  1. Orangtua berharap anak akan menyesal (kapok) karena telah berkelakuan tidak baik dengan harapan anak tidak akan mengulangi perbuatannya.
  2. Orangtua berpikir agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulang kelakukannya.

Apakah hukuman tersebut efektif?

Biasanya orangtua memberikan hukuman yang tidak berkorelasi dengan penyebab diberikannya hukuman tersebut, sehingga hasilnya hukuman tidak efektif (terlalu sering), sehingga proses pendisiplinan tidak dapat berlangsung dengan baik. Hukuman dapat merusak harga diri anak karena menyakitkan secara fisik dan perasaan anak. Biasaya dasar orangtua memberikan hukuman adalah karena marah, rasa takut dan bingung (hehehe.. gw bangeeet).

 

Hukuman hanya melatih anak untuk takut pada orangtua, melawan orangtua, membuat anak menjadi berbohong, membuat anak melakukan sesuatu tanpa ketahuan dan menjadikan anak memiliki double standard (dirumah berkelakuan baik, diluar rumah kebalikannya… dan ini yang saat ini terjadi, anak tak jarang memiliki tingkah laku yang berbeda 180 derajat dengan yang  ia tampilkan didepan orangtuanya).

 

Apa makna hukuman?

Hukuman hanya menunjukkan pada anak bahwa ia nakal atau jelek. Hukuman tidak membantu anak untuk sadar diri, mengontrol kelakuan dan belajar apa yang harus dilakukan. Hukuman yang diberikan tidak berhubungan dengan kelakukannya, dan tidak masuk akal (menurut si anak). Hasilnya? hukuman tidak efektif karena kelakuan tersebut akan terus diulang…

 

Apa sih makna hadiah?

Hadiah mengajarkan anak apa yang harus dilakukan dan mengajarkan anak untuk menuntut hak untuk mendapatkan bayaran untuk kerjasama yang dilakukan. Makna hadiah harusnya bukan sogokan dan tidak dijanjikan.

 

JADI, MENGAPA TIDAK DIPAKSA SAJA AGAR ANAK PATUH?

Orangtua menganggap hasil dari pendisiplinan akan melahirkan anak yang patuh, sehingga orangtua berusaha sekuat tenaga untuk membuat anaknya patuh. Orangtua tidak sadar, bahwa kepatuhan yang dipaksakan akan membawa dampak negatif terhadap anak, diantaranya:

1. Kemapuan berpikir anak menjadi kurang berkembang (orangtua yang menetapkan aturan).

2. Anak tidak akan pernah belajar berpikir apa yang baik untuk dirinya sendiri.

3. Anak jadi tidak punya kesempatan untuk mengambil keputusannya sendiri (semuanya dipikirkan ditetapkan oleh orangtua).

4. Anak jadi mudah menjadi pengikut, bukan menjadi pemimpin (anak tidak dapat menentukan apa yang harus ia lakukan)

 

BAGAIMANA DENGAN PUKULAN?

Pukulan tidak mengajarkan anak apa yang seharusnya ia lakukan, pukulan hanya mengajarkan apa yang tidak boleh dilakukan. Pukulan membuat anak merasa jelek dan akan tidak bermakna apabila sering dilakukan. Dalam keadaan terpaksa, pukulan boleh dilakukan, tapi sebelumnya jelaskan alasannya (orangtua sebelumnya memberikan “peringatan”, apabila tindakan tersebut diulang sampai 3 kali, ibu terpaksa memukul karena tindakan itu (yang dilakukan oleh anak) berbahaya.

 

Anak yang biasa mendapat pukulan akan belajar bahwa ia boleh menggunakan pukulan untuk menyelesaikan masalah (anak mencontoh tingkah laku orangtuanya).

 

ENAM KESELAHAN ORANGTUA

  1. Orangtua tidak “mengenal” anak secara utuh. Orangtua tidak paham mengenai tahapan perkembangan anak dan keunikannya. Dampaknya? orangtua memiliki harapan tidak wajar dan menetapkan standar yang tinggi.
  2. Orangtua tidak sabar dan selalu terburu-buru. Orangtua mengharapkan anaknya cepat pintar, cepat bisa, cepat ….., agar semuanya selesai.
  3. Orangtua tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan benar, sehingga mengeluarkan 12 gaya populer (lihat postingan Pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak) dengan menggunakan kata-kata yang bersifat intimidasi.
  4. Orangtua tidak mengenal zona waktu. Orangtua mengkotak-kotakan dan menyamakan jadwal anak dengan jadwalnya. (zona anak adalah lurus dan terus menerus, dalam otak anak-anak hanya ada main, main dan main, sedangkan orangtua mengkotak-kotakan menjadi waktu makan, waktu mandi, waktu tidur, dll).
  5. Orangtua memiliki “hasrat” yang terpendam. Orangtua memiliki ambisi (agar anak mencapai yang dulu tidak ia capai), gengsi (tidak mau kalah dengan oranglain) dan menetapkan standar yang tidak rasional.
  6. Orangtua tidak konsisten mengenai penetapan hak dan kewajiban orangtua, hak dan kewajiban anak.

Kesimpulannya: orangtua tidak memuliakan anak dan tidak mengajarkan adab yang baik.

 

MENGAPA ANAK SAYA BERTINGKAH LAKU TIDAK SEPERTI YANG DIHARAPKAN?

  1. Anak mungkin hanya ingin tahu, capek, sakit, lapar, bosan, canggung, atau sekedar minta perhatian!
  2. Anak sedang menge-test saja.
  3. Anak bingung akibat aturan yang tidak jelas.
  4. Anak telah diberi hadiah untuk tingkah laku yang tidak baik (pada saat anak nangis, langsung dikasih hadiah/upah).
  5. Anak sekedar meniru orangtuanya. (speechless)
  6. Anak sedang ingin menunjukkan diri dan kemandiriannya.
  7. Anak dalam rangka melindungi dirinya.
  8. Anak merasa dirinya tidak berharga.

Apa yang harus pertama dibereskan?

1. Orangtua menyelami bagaimana dulu ia di-disiplinkan, tempatkan diri kita pada posisi anak. Apa yang kita rasakan?

2. Bagaimana kompak dengan pasangan. Orangtua harus konsisten dan memiliki satu peraturan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s