Disiplin dengan Kasih Sayang (2): Mengapa harus dengan kasih sayang?

(ditulis oleh Yuli Sukri )

*Pelatihan Disiplin dengan Kasih Sayang, 26-28 Oktober 2010*

 

Ibu Elly Risman mengajak kita melihat disekitar kita bahwa pada saat ini banyak terdapat Peterpan dan Cinderella. Pada saat menikah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, lalu mereka memutuskan untuk berpisah pada usia pernikahan yang sangat dini. Mengapa ini terjadi? Dari kecil, mereka terpenuhi dengan segala hal dan selalu dengan mudah mendapatkannya, dan mungkin dari kecil mereka tidak dilatih untuk menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

 

Apakah kita ingin anak kita mengalami hal yang sama?

 

Saat ini proses pendisplinan dilakukan dengan memberikan autoritas eksternal kepada anak. Orangtua langsung memberikan doktrin-doktrin yang tinggal ditelan oleh anak. Misalnya:

1. Jangan lari-lari didalam rumah.

2. Kamu kalau tidak belajar, tidak boleh main games.

3. Pulang sekolah tidak boleh terlambat.

 

Apa yang terjadi?

Apakah anak akan melakukan hal yang sama pada saat orangtua tidak ada disampingnya? Bagaimana pada saat anak tersebut dewasa, apakah anak mempunyai suatu insting atau naluri untuk menentukan apa yang baik untuk dirinya?

 

Saat ini proses pendisplinan dilakukan dengan siksaan fisik, pemaksaan (mulai dari kata-kata sampai pada tindakan),teriakan, menuntut reaksi cepat/memerintah,terus menuntut, ceramah dan memberi saran, melampiaskan kemarahan pada anak, mempermalukan dan meremehkan, menjebak atau membebani anak dengan rasa bersalah yang berlebihan.

 

Dalam benak orangtua dengan melakukan 10 hal diatas, anak akan “kapok”, mendapat pelajaran dan dapat mengambil hikmahnya sehingga tidak melakukan “tingkah laku yang tidak diharapkan, (please refer to the previous notes). Namun kenyataannya? Tingkah laku yang tidak diharapkan tersebut terus muncul lagi. Mengapa? Karena selama ini, orangtua membangun autoritas eksternal dalam proses pendisplinan, bukan membangun autoritas internal! (dibahas pada note berikutnya ya, Insya Allah)

 

Sesuai dengan tahapan perkembangannya, otak mengalami perkembangan. Pre Frontal Cortex (Direktur) yang merupakan pusat koordinasi baru akan matang pada usia 25 tahun (19 tahun apabila sang anak terus dirangsang dengan diberikan stimulus pertanyaan: Bagaimana Menurut Pendapatmu). PFC  merupakan tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai, bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengukuran emosi tanda kepuasan, pengontrolan diri dan Pengambilan keputusan.

 

Mengingat bahwa PFC baru matang pada usia 19-25 tahun, pada usia 0-7 tahun otak anakpun belum bersambungan sehingga belum dapat menjalankan fungsi Direktur secara maksimal. Untuk itu, seharusnya orangtua menetapkan V-of-Love kepada anaknya, dimana pada saat kecil harus menetapkan batasan-batasan terhadap segala sesuatunya, dan batasan-batasan tersebut makin longgar pada saat anak tersebut semakin dewasa. Tujuannya adalah anak mengenal aturan dari kecil. (bagaimana membuat aturan yang baik, insyaallah akan dibahas pada note berikutnya).

 

Anak-anak yang pada saat dewasa bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan biasanya memiliki V-of-Love yang terbalik, dimana pada saat kecil anak tersebut tidak pernah diberi aturan, namun pada saat besar banyak aturan yang harus diikuti (bayangkan, betapa susahnya si anak, dari yang tidak pernah dilarang, lalu banyak mendapatkan larangan pada saat besar).

 

Dalam proses pendisplinan, harus dilakukan secara dual parenting. Ayah dan ibu harus bekerjasama dan hadir. Peran ayah tidak boleh diabaikan. Namun, kadang-kadang Ibu memiliki kesulitan untuk menyampaikan pesan kepada ayah agar terlibat dalam proses ini. Berikut tips yang dapat diterapkan:

  1. Cari waktu yang tepat untuk berbicara pada ayah (jangan coba berbicara pada saat ayah sedang membaca koran atau pada saat pulang kantor,.. pesan mungkin tidak akan tersampaikan).
  2. Cari isu kritis –> buat kalimat tajam
  3. rumuskan dalam kalimat pendek tidak lebih dari 15 kata (KISSS:  Keep the Information Short, SImple and Sharp).
  4. Setelah ayah “tertarik”, baru sampaikan.
  5. Buat seolah-olah ayah yang akan menentukan (berhubungan dengan kebutuhan laki-laki untuk dihargai, diakui).

 

Lalu, apa itu displin?

Disiplin berasal dari kata discipline dan discipulus = instruction & student = petunjuk dan murid.

Disiplin itu bukan merupakan hukuman, latihan atau kepatuhan.

Disiplin adalah mendidik, terutama mendidik prilaku.

 

Jadi, disiplin adalah:

  • Bagaimana mengajari seseorang untuk mengelola tingkah laku dan membantu anak untuk mengembangkan kendali diri (autoritas internal).
  • sadar diri, mengutamakan pikiram dan mengesampingkan perasaan, sehingga menghasilkan pertimbahan yang baik.
  • mengembangkan dan menggunakan kontrol diri
  • trampil membuat keputusan yang bagus dan mandiri
  • tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri.

Sehingga akhirnya tujuan akhir dari displin adalah pribadi yang menyenangkan. Jadi, disiplin membutuhkan proses yang panjang, bukan instant.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s