Disiplin dengan Kasih Sayang(III): Apa sih Disipin dengan Kasih Sayang?

(ditulis oleh Yuli Sukri)

*Dari Pelatihan Disiplin dengan Kasih Sayang, 26- 28 Oktober 2010*

 

Orangtua sering merasa bahwa disiplin itu sangat sulit diterapkan, dan melihat bahwa anak tetap melakukan tingkah laku yang tidak diharapkan. Berikut beberapa faktor mengapa displin sulit diterapkan:

  1. Disiplin tidak dimulai dari orangtua. (anak adalah peniru ulung)
  2. Orangtua tidak berhasil mengenali akar masalah (ada alasan mengapa anak bertingkah laku yang tidak diharapkan).
  3. Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing.
  4. Orangtua sering kehilangan kesabaran dan kontrol diri (apalagi dalam keadaan capek, pada saat bertemu anak yang berkelakuan tidak diharapkan, langsung esmosi jiwa ).
  5. Orangtua “terbatas” pada yang itu-itu juga (anak berkelakuan tidak diharapkan: langsung diberi hukuman).
  6. Orangtua melihat anak yang berkelakuan tidak baik sebagai masalah, bukan tantangan.

Okeee, sekarang kita tinggalkan cara-cara “lama” pendisiplinan, kita mulai dengan sebuah pendekatan baru, yaitu DISIPLIN DENGAN KASIH SAYANG (DKS).

 

Sekarang kita buka hati dan sama-sama berangkat dari dasar-dasar bagaimana dapat menerapkan disiplin dengan kasih sayang:

  1. Orangtua menyadari dan benar-benar meresapi bahwa anak merupakan anugrah dan amanat dari Allah. Orangtua harus merasakan kembali rasa kebanggaan bahwa kita mendapat kesempatan untuk mengasuh anak, sehingga orangtua dapat “memperlakukan” mereka sebaik mungkin. Bagaimana cara memperlakukannya? yaitu dengan “memuliakan anak dan mengajarkan akhlak yang baik).
  2. Orangtua harus menyadari bahwa perkembangan otak anak belum sempurna (ingat fungsi PFC baru matang diusia 19 – 25 tahun), dimana anak memiliki egosentris dan memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang dewasa (anak akan berespon sesuai dengan emosi yang mereka rasakan dan belum memiliki kemampuan untuk menggabungkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya, dan tentu saja belum bisa menarik hikmah/kesimpulan).
  3. Orangtua harus membuat anak merasa “lengkap” dengan dirinya. Orangtua harus menghilangkan kebiassan untuk memperbandingkan “kelebihan” dan “kekurangan” dari masing-masing anak terhadap anak lainnya.
  4. Orangtua harus menghargai DIRI anak, bukan dari apa yang dilakukannya (anak tidak bermaksud untuk menyakiti orangtua, mereka hanya bereaksi sesuai dengan apa yang mereka rasakan).
  5. Orangtua harus menghindari pemberian hukum dan/atau hadiah, didik mereka dengan refleksi. Pemberian hukum/hadiah merupakan pembangunan autoritas eksternal (padahal yang harus kita kembangkan adalah autoritas internal). Refleksi dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada anak, misalnya: apa yang kamu rasakan kalau kamu sendiri dipukul? (gali dan dali terus sehingga orangtua menemukan apa masalah sebenarnya yang mendorong si anak untuk memukul (misalnya)).
  6. Orangtua harus meresapi jiwa anak dengan kasih sayang (orangtua berusaha menyelami perasaaan anak, anak akan merasa nyaman apabila orangtua mengerti perasaannya, orang dewasa juga merasa nyaman kan apabila orang lain berempati kepada kita? :D).
  7. Orangtua membantu anak untuk percaya pada kekuatannya sendiri, orang tua membantu anak untuk merasa bahwa mereka “berharga” dan bermakna untuk orang lain).
  8. Orangtua menyadari bahwa disiplin bukan peraturan, tapi PENGASUHAN mengantar anak untuk seukses dengan tetap BAHAGIA.

Jadi, fungsi disiplin itu apa sih?

Disiplin adalah memberitahukan anak mengenai apa yang orangtua:

(1) inginkan (dari anak) dan alasan mengapa orangtua menginginkannya.

(2) tidak inginkan (dari anak) dan alasan mengapa orangtua tidak menginginkannya.

sehingga akan membentuk suatu kebiasaan yang meninggalkan kenangan.

 

Disiplin dengan Kasih Sayang digunakan oleh orangtua dalam mengambil keputusan bagaimana:

  1. Orangtua mencegah atau berespon terhadap “tingkah laku buruk anak” atau tingkah laku yang “tidak diinginkan”.
  2. Orangtua mempertimbangkan perasaan dibalik prilaku anak, membantu anak untuk memiliki kesadaran diri, sehingga secara perlahan-lahan anak dapat menggunakan pikirannya untuk mengambil tindakan yang menguatkan harga diri dan rasa tanggung jawab anak.
  3. Orangtua menekankan pada proses belajar (pengulangan), sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata DISIPLIN.

Langkah apa yang harus diambil dalam menerapkan Disiplin dengan Kasih Sayang?

LANGKAH PERTAMA, mengajari anak untuk mengerti petunjuk, peraturan dan perintah orang dewasa. LANGKAH TERAKHIR, mengajari anak untuk melakukan hal yang benar tanpa pengawasan dan hukuman dari orang dewasa.

 

Pendekatan penerapan Disiplin dengan Kasih Sayang adalah sebagai berikut:

1. Orangtua memikirkan perasaan anak.

2. Orangtua mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku anak.

3. Orangtua mengajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku buruk.

4. Orangtua menggunakan kalimat singkat dan membuat aturan dalam dua kalimat.

5. Orangtua harus fokus pada hal yang positif.

 

Apabila orangtua melakukan langkah-langkah Disiplin dengan Kasih Sayang, maka manfaat yang akan diperoleh adalah:

  1. Orangtua memahami cara berpikir anak untuk dapat mendisiplinkannya.
  2. Orangtua beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri anak.
  3. Orangtua memahami mengapa anak menjadi “nakal kronis” (biasanya karena anak merasa bahwa orangtua tidak mengerti apa perasaannya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s