DKS (4): Langkah Pertama: Pikirkan Perasaan Anak

(ditulis oleh Yuli Sukri)

1. Melihat Tingkah Laku dalam konteks perasaan

 

Perkembangan bagian otak berupa  Pre-Frontal Cortex (PFC) atau Direktur baru akan menjalankan fungsi sepenuhnya pada saat anak berumur 19-25 tahun. PFC ini merupakan tempat dibuatnya moral dan nilai, dan bertanggung jawab untuk:

1. Perencanaan masa depan.

2. Organisasi.

3. Pengaturan emosi tanda kepuasan.

4. Pengontrolan diri – konsekuensi.

5. Pengambilan Keputusan

 

Pada saat seoarang anak < 19 tahun,  bagian otak yang memegang peranan adalah “sistem limbik” atau “responder”. Responder merupakan:

1. pusat perasaan/emosi, motivasi, hubungan dengan memori.

2. bersifat protektif dan reaktif

3. pendukung PFC dalam merasakan kenikmatan/ke-kini-an.

4. pusat motivasi.

5. pengontrol sistem syaraf simpatik: jantung, paru-paru, usus, organ seks.

 

Jadi, selama anak berada diusia < 19 tahun, anak belum “terampil” untuk melihat sebab akibat dari suatu kejadian, karena memang otaknya belum berfungsi sempurna. Pada masa itu, anak lebih banyak bereaksi akibat emosi yang dirasakannya! Apalagi untuk anak balita, mereka belum mampu berbicara dengan diri sendiri untuk melakukan hal yang benar. Kebanyakan anak-anak melakukan apa yang mereka suka, dan melakukan sesuatu secara tidak sadar.

 

Sayangnya, orangtua sering salah “menterjemahkan” kelakuan “buruk” anak. Orangtua sering berpikir bahwa tingkah laku “buruk” itu adalah disengaja. Orangtua percaya bahwa anak yang sudah diajarkan sesuatu yang benar akan selalu mengingatnya sehingga akan berkelakuan baik. Pada saat anak berkelakuan buruk, orangtua “kaget”, dan menyimpulkan bahwa kelakuan “buruk” tersebut merupakan bentuk ketidakpatuhan yang disengaja sehingga pantas untuk dihukum.

 

2. E-P-A vs E-A-P

E = Emosi

P = Pikiran

A = Aksi

 

Kebanyakan dari kita, akan bereaksi sesuai dengan emosi yang dirasakan. Pada seorang anak (yang memang fungsi PFC-nya belum sempurna), maka kebanyakan tingkah laku didorong oleh emosi yang diterimanya. Anak langsung bereaksi sesuai dengan emosi yang dirasakan, boro-boro memikirkan sebat akibat dan lain-lainnya.

 

Maka perlu diingat:

  1. Pada saat balita, yang berlangsung adalah E-A-P.
  2. Emosi berkaitan dengan kebutuhan, dimana “Pikiran” akan dikesampingkan.
  3. Anak belum mempelajari keterampilan berakhir dari E menjadi P.
  4. Maka untuk tingkah laku “buruk”, apakah pantas untuk dihukum?

Saat ini, yang “biasa” terjadi adalah:

  1. Kelakuan anak dianggap tidak pantas, karena disengaja.
  2. Orangtua “ceramah”: bahwa anak tidaj punya pikiran (padahal memang PFC belum berfungsi dengan sempurna).
  3. Anak harus menderita karena kesalahannya.
  4. Orangtua merasa capek dan frustasi karena harus mengulang-ngulang perintah (gw banget :()
  5. Anak belajar untuk tidak berespon (karena langsung diberi hukuman).
  6. Orangtua mengatakan dalam nada “terntentu”, agar didengar.
  7. Hal diataslah yang menyebabkan remaja terbiasa untuk acuh.

Harusnya, orangtua:

  1. Menyadari perbedaan antara mengatakan dan mengajarkan.
  2. mengajari diskusi tentang proses pengambilan keputusan, bagaimana sesuatu terjadi bukan hanya, apa yang terjadi.

Bagaimana melihat tingkah laku dalam konteks perasaan?

  1. Orangtua butuh menjaga disiplin agar fokus pada hubungan emosi dan pikiran.
  2. Anak diajarkan untuk menghargai proses berpikir, sehingga anak belajar apa yang akan dilakukan apabila terjadi hal yang serupa.
  3. Orangtua memberikan REFLEKSI kejadian penyebab kecelakaan.

Dua Aspek yang perlu diperhatikan dalam meilihat Tingkah Laku dalam konteks perasaan:

PERTAMA,

Perasaan apa yang mendorong kelakuan/perbuatan anak?

KEDUA,

Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi? Tidak apa-lah anak merasa tidak bahagia sebentar, asal jangan sampai anak merasa terhina, bodoh dan takut hanya karena baru berbuat salah, karena perasaan negatif akan mendorong anak untuk melakukan tingkah laku negatif lagi dikemudian hari. Yang harus diperhatikan adalah orangtua membantu anak untuk belajar dari kesalahannya dan mengembangkan kendali diri (autoritas internal).

 

Mengapa orangtua perlu memperhatikan perasaan?

  1. Kasih sayang dan kepercayaan merupakan alat yang sangat efektif untuk kedisplinan. Mengapa? Karena anak akan mengembangkan keyakinan tentang kepercayaan orangtua terjadapnya, baik untuk dirinya maupun orang lain.
  2. Kasih sayang dan pengakuan terhadap perasaan anak akan membantu anak untuk memperhatikan perasaannya sendiri dan menyadari perbedaan pikiran dan perasaan.
  3. Perasaan dan pikiran penting dan perlu untuk proses pengambilan keputusan yang baik, emosi menandai awal dan akhir rangkaian peristiwa.
  4. Perasaan merupakan indikator yang penting tentang apa yang terjadi.
  5. Kemampuan untukmenyelaraskan emosi dengan orang lain adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dimulai dengan kesadaran dan emosi kita sendiri.
  6. Setelah kita (anak) mengerti emosi diri sendiri, maka kita (anak) akan belajar untuk sadar akan perasaan orang lain.

 

3. Tiga hal yang dipertimbangkan untuk menghukum anak

Pertama, Apakah anak menyadari perasaan yang mendorong mereka melanggar peraturan.

Kedua, Apakah anak mampu memikirkan apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi akibat perbuatannya?

Ketiga, Apakah anak mampu memperhitngkan bagaimana caranya tidak semata-mata bereaksi karena dorongan perasaan?

 

Apabila anak belum mampu melakukan ketiganya, hukuman tidak akan berarti, karena anak malakukan tingkah laku “buruk” karena mereka suka (tanpa memikirkan apa akibatnya).

 

Jadi, apa yang harus dilakukan orangtua?

  1. Gali apa perasaan  anak pada saat anak berkelakuan buruk.
  2. Orangtua mengajari, dan melakukan diskusi mengenai proses pengambilan keputusan. Anak perlu dibantu dan dilatih bagaimana perasaan dan pikiran dapat bekerjasama, sehingga anak memiliki keterampilan internal untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Pada akhirnya tanpa kehadiran orangtua secara fisik, anak dapat memiliki pengendalian diri yang baik, karena anak telah memiliki autoritas internal yang telah diasah sejak kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s