DKS (6): Langkah ketiga: Ajarkan Keterampilan untuk tidak mengulangi Tingkah Laku Negatif

(ditulis oleh Yuli Sukri)

*Dari Pelatihan Disiplin dengan Kasih Sayang, Sesi Tambahan, 22  Nov 2010, Ibu Elly Risman*

 

Selama ini orangtua sering mengabaikan ke-kurang-terampilan seorang anak,  biasanya orangtua hanya “mengucapkan” tanpa memberi contoh yang nyata. Padahal orang dewasa harus membantu anak (dan remaja) untuk mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah anak (dan remaja) mengulangi tingkah laku negatifnya.

 

Anak melakukan “kesalahan” yang berulang-ulang, karena anak tidak mengetahui adanya “alternative” tingkah laku yang lain. Alternatif tingkah laku adalah mengkaji ulang tingkah laku yang ada, dan mengajari cara lain untuk menangani situasi pada kesempatan selanjutnya.

 

Orangtua harus mengajari anak agar:

  1. Tidak bereaksi atas dasar emosi.
  2. Memikirkan konsekuensi, dan
  3. Bagaimana anak dapat membantu diri sendiri untuk melakukan apa yang mereka tidak suka.

 

Keterampilan  yang dibutuhkan untuk tidak mengulang tingkah laku negative adalah:

  1. Keterampilan untuk mengatasi emosi

Tujuannya untuk:

–          tetap dijalur yang benar dan hidup sehat secara produktif.

–          menenangkan diri saat mereka sangat marah/sedih.

–          menggunakan kata-kata, bukan aksi

–          mentaati aturan yang mereka tidak setuju/suka

–          memperhatikan perasaan orang lain.

–          Tetap focus

–          Berhenti saat mereka tidak ingin berhenti

–          Menangani frustasi/kecewa

–          Memperhatikan ruang orang lain.

 

2.       Keterampilan kendali diri/sosial.

Tujuannya untuk:

–          merespon orang yang berwenang

–          bekerjasama dengan orang lain

–          mengambil gilirannya

–          tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar

–          berkata “tidak” kepada teman sebaya

–          meminta bantuan pada saat mereka membutuhkannya.

 

Bagaimana cara mengajarkan keterampilan?

–          Keterampilan harus diajarkan berulang-ulang

–          Mendiskusikannya dengan anak, termasuk menjelaskan secara terinci kepada anak bagaimana cara melakukan keterampilan tersebut.

–          Membiarkan anak berlatih apa yang perlu dilakukan (orangtua harus sabar, belum tentu berhasil dalam waktu yang singkat).

–          Membuat kesepakayan untuk melakukan tingkah laku yang baru.

 

 

Cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi dan kendali diri/keterampilan sosial:

1. Bertanya lebih dahulu.

  • Mengapa orangtua harus bertanya? Orangtua suka keliru, menganggap anak tahu yang lebih baik
  • Pertanyaan yang diajukan kearah keterampilan apa yang paling diperlukan anak untuk memperbaiki tingkah lakunya.

 

2. Anak belajar melalui permainan.

 

3. Orangtua memberikan contoh yang baik.

Anak adalah peniru ulung, tidak mungkin mengajarkan kendali diri kepada anak-anak, apabila orangtua yang mengajarkannya tidak memiliki kapasitas tersebut dalam dirinya.

 

4.  Memberikan pengertian tentang cara kerja otak (Emosi – Pikiran – Aksi).

Seorang anak  belum dapat diberikan pemahaman tentang cara kerja otak. Seorang anak perlu diawasi dengan hati-hati sehingga mereka mampu membuat pilihan dan respon terhadap perintah. Namun,  seorang anak dapat diajari untuk “sadar” pada saat mereka sedih,  marah , lelah atau emosi lainnya.

 

5. Mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak.

Orangtua menjelaskan bahwa “salah” adalah hal yang wajar, namun mereka harus dapat belajar dari kesalahan yang mereka lakukan. Adalah hal yang penting untuk mendiskusikan kesalahan bersama anak-anak. Orangtua tidak mengkritik atau mencaci maki anak, karena hanya akan membuat anak merasa bodoh, terluka dan marah.

 

Mengkaji ulang adalah membicarakan bagaimana kelakukan tersebut dapat menyebabkan kesalahan, sehingga orangtua dapat membantu anak untuk memikirkan apa yang perlu mereka lakukan untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

 

6. Menemukan keterampilan yang hilang.

Kadang-kadang anak perlu untuk menerung untuk menemukan apa yang mendorong terjadinya tingkah laku negative tadi. Tuntun anak untuk mengamati dirinya asendiri setelah kejadian.

 

Panduan pertanyaan:

  • Apa yang terjadi saat segala sesuatunya masih baik-baik saja sampai kamu mendapat masalah ?
  • Apakah kamu tahu ada hal lain yang berbeda, yang dapat kamu lakukan?
  • Menurutmu, apa yang dapat kamu lakukan lain kali apabila kamu merasakan perasaan ini, sehingga kamu bisa terhindar dari masalah?

Ketiga pertanyaan tersebut dapat membuat orangtua mengetahui “Keterampilan apa yang perlu dipelajari oleh anak”.

 

7.   Orangtua mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan oleh anak.

  • Orangtua menjelaskan secara rinci mengenai cara menggunakan keterampilan tersebut.
  • Orangtua mencontohkan keterampilan tersebut dan mengajak anak untuk melakukannya bersama-sama.
  • Orangtua mengajarkannya dengan berulang-ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s