DKS(5): Langkah Kedua:Mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku (1)

(ditulis oleh Yuli Sukri)

Dari Pelatihan Disiplin dengan Kasih Sayang, 26-28 Oktober 2010, Ibu Elly Risman*

 

Setelah orangtua dapat “memahami” perasaan anak (langkah pertama), langkah selanjutnya adalah “mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku”.

 

Bertanya?.. Kenapa kok orangtua harus “bertanya” dalam urusan pendisiplinan?

  1. Pertanyaan membutuhkan respon, sehingga memicu proses berpikir.
  2. Agar dapat menjawab pertanyaan, anak memeriksa dirinya.
  3. Menjawab pertanyaan, membuat anak: (a) memperhatikan tingkah laku dan menyatakan sesuatu tentang diri mereka sendiri; dan (2) memungkinkan anak mengakui kesalahannya (kalo bumi, malah jawabnya disalah-salahin, sambil nyengir).

 

JENIS BERTANYA:

  1. Bertanya untuk mengajarkan kesadaran diri dan mengarahkan tingkah laku.
  2. Bertanya untuk tujuan “penaksiran”. Yaitu menemukan emosi dan pola pikir yang mendorong timbulnya tingkah laku negatif yang kronis.

Dengan bertanya, ternyata akan membuat anak “berpikir” (tujuan orangtua adalah memindahkan emosi ke pikiran), sehingga orangtua dapat mengarahkan anak untuk membentuk  autoritas internal-nya.

 

1. BERTANYA UNTUK MENGAJARKAN KESADARAN DIRI DAN MENGARAHKAN TINGKAH LAKU

 

Bertanya, mengapa penting?

1. Anak memperhatikan yang dilakukan.

2. Anak berpikir dahulu sebelum berespon.

3. dapat menggugah kesadaran diri

4. anak dapat mengendalikan dirinya

5. Anak tahu apa yang akan dilakukannya dikemudian hari.

6. tanggung jawab ada ditangan anak.

7. membentuk autoritas internal.

 

Empat Langkah Dasar: Bertanya untuk mengajarkan kesadaran diri dan mengarahkan tingkah laku.

A. Buat prioritas dan  batasan tingkah laku positif yang kita harapkan.

B. Ajukan pertanyaan untuk mengundang perhatian terhadap tingkah laku

C. Tunggu jawaban

D. Arahkan pada tingkah laku yang benar.

 

A. Buat prioritas dan batasan yang penting

Mengapa prioritas dan batasan penting?

  • Kalau tidak ada prioritas, orangtua dan anak sama-sama capek (semuanya ingin didisiplinkan dalam waktu yang singkat).
  • Batasan adalah harapan khusus yang dibuat orangtua untuk anaknya mengenai prilaku tertentu.
  • Dengan batasan yang masuk akal, menunjukkan bahwa orangtua cinta dan perduli kepada anaknya.
  • Melalui batasan, orangtua mengajarkan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua
  • anak perlu contoh yang membuat peraturan tentang sesuatu yang penting (anak adalah peniru ulung dari tingkah laku orangtuanya.. :D).

Prinsip dalam menentukan Batasan Tingkah Laku:

  1. Buat batasan untuk hal yang penting-penting saja (tentukan prioritas).
  2. Buat Batasan JPA: Jelas, Positif dan Adil.
  3. Bantu anak mengerti ALASAN dari batasan.
  4. Libatkan anak dalam membuat batasan tertentu.
  5. Orangtua konsisten dengan batasan yang dibuat (kalau tidak konsisten –> hilang wibawa,ehem, pengalaman pribadi).
  6. Ubah batasan sesuai dengan umur anak.
  7. Tentukan batasan yang sanggup diterapkan.

 

B. Ajukan Pertanyaan untuk mengundang perhatian terhadap tingkah laku

Mengapa?

  1. Pertanyaan yang mengajarkan tanggung jawab adalah yang menjaga foku tetap pada tingkah laku anak, bukan pada kewenangan ortu.
  2. Bila anak tidak sadar apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka bisa mengubah tingkah laku mereka?
  3. Tanggung jawab tidak akan muncul kecuali anak sadar apa yang mereka lakukan dan yang seharusnya/perlu mereka lakukan.
  4. Cara yang paling berhasil –> biarkan anak belajar melakukannya!

C. Tunggu Jawaban

Mengapa perlu?

  1. Anak bukan saja perlu sadar untuk apa yang mereka lakukan , tetapi anak juga harus punya rasa memiliki terhadap tiingkah laku mereka.
  2. Pertanyaan yang diajukan bukan pertanyaan retoris.
  3. Pertanyaan memerlukan jawaban, dan jawaban yang mengharuskan mereka mengakui apa yang sedang mereka lakukan.
  4. Jawaban mengingatkan anak bahwa tingkah laku mereka dalam kendali mereka sendiri.
  5. Jadi dengan bertanya, orangtua terus menerus meminta anak mengendalikan tingkah lakunya sendiri.

D. Arahkan anak ke tingkah laku yang tepat

  1. Setelah mengundang perhatian pada tingkah laku dengan bertanya dan menunggu jawaban, memberi orantua kesempatan mengarahkan kembali ke tingkah laku yang tepat.
  2. Cara ini memberikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri.
  3. Orangtua dapat menangani tingkah laku tanpa harus menghukum karena anak melanggar peraturan.
  4. Orangtua bertanya untuk mengajari anak memperhatikan dan mengikuti petunjuk serta meminta anak untuk menyatakan apa yang seharusnya dilakukan.
  5. Cara ini lebih efektif daripada “memeirntah”.
  6. Mengajukan pertanyaan dan menunggu jawaban dengan jelas akan membuat harapan yang disampaikan orangtua penuh kekuatan.
  7. Penting menjadikan harapan positif sebagai bagian dari interaksi orangtua-anak sehari-hari.

 

Pembahasan mengenai butir kedua: (2) Bertanya untuk tujuan “penaksiran”. Yaitu menemukan emosi dan pola pikir yang mendorong timbulnya tingkah laku negatif yang kronis. (dibahas pada postingan selanjutnya)

—————

Lesson learned:

Selama ini, kebanyakan dari kita mengembangkan autoritas eksternal. Hasilnya? Begitu anak  dewasa dan punya kekuasaan, kadang-kadang hilang arah. Kenapa bisa terjadi? Karena dari kecil tidak berlatih untuk mengembangkan autoritas internal dan bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan. Selama ini hanya “tau” untuk “patuh” terhadap sesuatu tanpa mengetahui makna/artinya kenapa perintah/larangan itu diberikan.

 

Anak-anak kita masih dibawah 19 tahun kan? masih ada beberapa tahun lagi untuk menyiapkan mereka. Mari bergandengan tangan untuk membentuk mental anak-anak kita yang lebih baik. Pada masanya nanti, bukankah mereka juga yang akan membangun Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s