Ikut Seminarnya Ibu Elly Risman “Disiplin dengan Kasih Sayang”di Bogor

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Berawal dari ajakan seorang sahabat yang sangat baik (sesama anak ‘kolong’ yang secara nggak sengaja hobby nge-blog dari jaman doeloe/teman blogging) dan akhirnya kami dipertemukan di Jakarta (rumah kami terbilang cukup dekat). Ia  adalah seorang ibu dari 2 orang anak laki-laki yang lucu dan pintar, terlihat dari tulisan blognya, ia adalah ibu yang sangat mendedikasikan hidupnya sebagai seorang ibu dan istri yang solehah. Ia yang mengajak saya ikut seminarnya Ibu Elly Risman.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempet posting di blog ini resume salah satu seminarnya Ibu Elly Risman, maka menerima tawaran ini alangkah gembairanya hati ini, meskipun lokasinya di Bogor (sempet bingung, mo naek apa ya ke Bogornya *blank soal Bogor*). Pertama, ijin dulu donk sama suami, ternyata suami ku tercinta mengijinkan dan mendukung sekali istrinya ikut seminar yang judulnya ” Disiplin dengan Kasih Sayang”. Mengingat si istri aliyas saya ini mempunyai beberapa karakter pengasuhan yang kurang baik (saya ngaku aja nih yaaa *gak mau munafik* saya itu sering keras terhadap anak, kurang sabar, dan seperti sersan pelatih dalam menghadapi anak) #Naufal, Radit, kalau kalian baca ini suatu hari nanti, ketahuilah Nak, ibu kalian ini hanya manusia biasa yang banyak khilafnya, tapi ibu ingin belajar dan nggak pernah mau berhenti berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, terutama menjadi ibu yang baik untuk kalian :)#

Suami saya semangattt sekali sampai-sampai bersedia mengantar saya ke Bogor termasuk mengasuh kedua buah hati kami selama saya mengikuti seminar ini.

Catatan materi akan saya tulis di blog ini, namun itu adalah catatan lengkap dari Mbak Yuli Sukri (thanks for sharing Mbak Yuli, semoga Allah membalas amalan Mbak Yuli berlipat ganda dan tiada putusnya, amin). Kenapa catatan Mbak Yuli? Bukan catatan dari saya sendiri? Karena waktu ngikutin seminarnya, saya kurang konsen, jumlah peserta 500 orang, duduk agak di belakang dan agak sulit membaca slide dari jauh *kaca mata nggak dibawa*.

Selama mengikuti seminar Ibu Elly ini, mata saya meleleh berkali-kali, mengingat apa yang selama ini saya lakukan terhadap anak-anak. Rasa menyesal dan ingin memperbaiki diri tentu saja kian tebal, sumbernya nggak lain dan nggak bukan karena saya mencintai anak-anak. Apa yang dijelaskan oleh Ibu Elly, sebenarnya semua sudah dipraktekkan oleh suami saya, maka saya pun bersyukur memiliki suami yang super duper baik *thanks Papa* dan hati saya pun lebih  terbuka lagi ketika mengikuti seminar ini.

Kalau selama ini saya sering mengeluh karena perubahan status saya yang tadinya ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, justru sekarang saya merasa bersyukur sekali, suami saya sebetulnya telah memposisikan saya di posisi yang paling baik, aman dan banyak sekali ladang ibadahnya.

Saya pikir, di jaman sekarang ini ortu tuh banyak sekali menuntut terhadap anaknya, karena semua ortu ingin anaknya bisa survive dan berhasil menghadapi tantangan hidup jaman sekarang. Maka dari itu banyak yang memaksakan kehendak terhadap anak, salah satunya mengabaikan kepentingan dan kemampuan dasar si anak, malah sebaliknya mengikuti trend * nggak peduli anaknya suka or tidak, mampu or tidak, pokoknya HARUS!*

Hal yang sama ketika menerapkan disiplin pada anak, dalam seminar ini sebelum masuk ke bahasan mengenai disiplin, kami justru diajak untuk memahami dan mengkoreksi diri sendiri sebagai orang tua “mulailah dari diri sendiri”.  Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi ortu yang baik, dan untuk menjadi ortu tidak membekali diri dengan ilmu parenting, selama ini menjadi ortu adalah proses alami, menggunakan insting dan rasa marah. Didikan dari ortu kita dijadikan acuan untuk kemudian mendidik anak-anak kita, padahal jaman sudah berubah, anak-anak jaman sekarang nggak bisa dididik dengan cara yang sama seperti 20 atau 30 tahun yang lalu. Inilah hal yang pertama kali harus kita putus. Parenting is about talk to our self , kita harus melihat diri kita dulu baru bisa bicara tentang anak. Disiplin sendiri merupakan masalah terumit di dunia, salah satu faktor rumitnya menerapkan disiplin pada anak adalah karena ibu dan bapaknya berasal dari latar belakang yang berbeda dan sulitnya konsistensi antara ibu dan bapak. Di lain pihak, anak punya kepribadian sendiri yang unik, tidak sama dengan ortunya juga tidak sama dengan anak-anak yang lain. Selama ini kebanyakan ortu mendidik anaknya disiplin dengan cara yang instan, yaitu ditakut-takuti dengan hukuman atau disogok dengan hadiah. Sedangkan pengasuhan anak itu sendiri tidak bisa instan. Ortu sering lupa dengan efek jangka panjangnya. Oh iya, pada pengasuhan anak juga yang tidak boleh dilupakan adalah PERAN AYAH. Selama ini tugas menddik dan mengasuh anak semata-mata hanya dibebankan kepada IBU SAJA, atau kalau ibunya bekerja (sibuk) tugas pengasuhan anak disubkontrakkan kepada : nenek/kakek, pembantu, sekolah. Duhhh, padahal jaman sekarang ini nih….kita sebagai ortu nggak boleh lengah dan menganggap sepele tentang pengasuhan anak. Ibu Elly Risman berulang kali meneriakkan kata-kata : “Your family under attack!”…. Berawal dari pola pengasuhan yang salah, penerapan disiplin yang salah, kurangnya penanaman ilmu agama pada anak itu semua akan berakibat kedepannya anak-anak kita tercemar oleh kecanggihan teknologi jaman sekarang, mereka tidak menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, tidak berjiwa kepemimpinan dst dst…So, kita sebagai ortu (Ayah dan Ibu) harus bahu membahu berusaha memberikan pengasuhan yang baik terhadap anak-anak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s