Cara Saya Mengajari Naufal

Mbak Ina kemarin sempet tanya tentang cara belajarnya Naufal, saya tulis di sini aja sekalian ya Mbak🙂

Sama seperti emak-emak yang lain, mengahadapi anak yang mau seoklah ke jenjang SD ribetnya bukan main (padahal baru SD loh ya….gimana ntar ke jenjang berikutnya…heuu). Apalagi Naufal dulu usianya masih 6 tahun kurang. Terjadi perdebatan yang panjang x lebar x tinggi antara saya dengan Papanya. Akhirnya kami membuat kesepakatan bersama, yaitu memasukkan Naufal ke SD ketika usianya 6 tahun kurang itu. Kenapa faktor usia menjadi masalah utama kami, karena memang pada usianya saat itu secara psikologis Naufal masih kurang matang untuk masuk ke jenjang SD. Kok bisa? Darimana menilainya? Kami menilai dari sikap dan perilaku dia sehari-hari. Papanya pun memasukkan Naufal ke SD swasta yang telah kami selidiki jauh-jauh hari sebelumnya. Ya, kami mencari SD swasta yang ‘ramah’ anak. Sistem belajarnya active learning, banyak praktek, diskusi, duduknya pun melingkar, kadang duduk di karpet, bukan duduk berjajar ke belakang seperti sekolah pada umumnya (SD Negeri maksudnya). 1 kelas ada 30 orang anak, didampingi 2 orang guru, nggak banyak kasih anak PR, tapi menuntut anak untuk kreatif. Eh, ada yang komentar…”Halah…nyari SD aja kok segitu ribetnya!” (iiih dia nggak tau ya, jangankan SD, nyari TK aja kami mah ribet).

Buat kami, harus selektif ya, selain dipikirkan masalah kemampuan biaya, juga jaraknya jangan terlalu jauh dari rumah, lingkungan sekolah harus baik dan yang terutama bagaimana sistem mengajar di sekolahnya. Beruntung jaman sekarang data tentang sekolah sudah bisa diakses dari internet, ada yang namanya situs Depdodik, BAN (badan akreditasi nasional), bahkan beberapa sekoalh memiliki situs sendiri yang bisa kita akses. Kami berpendapat, dari sinilah dasar anak kita dididik, jadi sedini mungkin kami harus selektif mencari sekolah yang terbaik untuk anak-anak.

Alhamdulillah, anak-anak bisa sekolah di sekolah yang baik (ramah anak). Hal ini selaras dengan metode kami mendidik anak-anak di rumah. Untuk urusan mengajar dan mendidik anak, tentu saja harus dilakukan oleh kedua orang tuanya. Suami saya disini berperan besar dalam mendidik anak-anak, meskipun sesibuk apapun bekerja, ketika berada di rumah, selalu meluangkan waktu untuk anak-anak, contoh kecil : kalo weekend nih, suami yang ngurusin anak mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Kami adalah team work udah sepaket : PAPA,IBU,ANAK.

Khususnya ketika mempersiapkan Naufal masuk SD, di luar sana hampir semua ortu panik dan riweuh menyiapkan agar anaknya BISA BACA,TULIS,HITUNG, bahkan ada yang (kalau menurut saya ngawur) memaksa anaknya belajar sampai perkalian dst, padahal si anak masih TK dan kelihatannya semua ortu merasa bangga kalau anaknya bisa perkalian di usia dini. Alasannya satu : Masuk SD jaman sekarang harus sudah bisa BACA TULIS HITUNG TITIK.

Nah, kalo saya dan suami enggak seperti itu. Yang kami siapkan adalah UANG! (soalnya masuk SD swasta kan mahal), berikutnya adalah kesiapan mental baik ibu, bapak dan si anaknya sendiri. Sejak Naufal dinyatakan diterima di SD swasta, kami langsung membuat program akan bagaimana nanti menghadapi si anak yang akan sekolah SD. Kami bikin analisa sendiri mengenai tingkah laku si anak dan bagaimana  cara mengatasinya agar dia mampu mempersiapkan dirinya menjadi anak kelas 1 SD.

Lalu kalau ada pertanyaan : “Gimana kalau hanya mampu masukin anak ke SD negeri, yang mengharuskan bisa CALISTUNG?” Loh bukannya syarat masuk SD adalah umur 7 tahun ya? Jadi, masukkan aja anaknya ketika usia 7 tahun. Menurut saya, calistung itu insyaAllah mudah diterapkan pada anak ketika usianya sudah cukup. Bisa aja sih ngajarin calistung, tapi pakai cara-cara yang ramah anak lah, gak usah maksa-maksa ikut les ini itu apalagi kudu harus anaknya bisa menghafal perkalian…ooooh nggak aku banget itu mah!

Lanjut ya! Kami kumpulkan kelebihan dan kekurangan si anak, Naufal ini waktu TK masih susah makan aliyas raja GTM (gerakan tutup mulut), nggak bisa diem seperti yang kelebihan energi…aktif bangettt, nggak bisa fokus, masih belum bisa membedakan mana khayalan dan  kenyataan, belum bisa menyampaikan sesuatu secara lisan dengan baik. Kelebihannya : mudah bergaul, tidak pundungan (apa ya bahasa indonesianya?? ngga mudah mara kali ya), disiplinnya lumayan dan cepat menangkap pelajaran.

Berdasarkan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki Naufal itu, kami membuat target di awal-awal masuk sekolah. Targetnya bukan CALISTUNG yaaa….hehehe… Targetnya itu adalah : bagaimana agar kami bisa mengupayakan mengurangi kekurangan yang dimiliki oleh Naufal dan menggali potensi yang dimilikinya agar lebih bersinar lagi.

Ketika kami sudah menerima buku murid yang berisi mengenai segala hal tentang ketentuan belajar di sekolah itu, kami jelaskan hal ini kepada Naufal (Papanya yang menjelaskan, dengan bahasa anak-anak tentunya yaa…dengan diskusi juga). Untuk urusan nggak mau makan, kami pesan catering sekolah untuk makan siang, sebetulnya pihak catering  menerima request kalo misalnya ada makanan yg gak disukai anak, bisa diganti sesuai keingingan, tapi kami tidak, kami tau Naufal banyak gak sukanya, tapi karena mungkin suasana makan bersama dengan teman-temannya, trus terpaksa karena lapar, dan di rumah saya sengaja nggak menyediakan nasi/makanan ketika dia pulang sekolah (huhuhu…maafkan ibumu berbuat seperti ini ya Nak, semoga kamu faham ini untuk kebaikanmu juga) akhirnya semester 2 kemarin menunjukkan progress yang memuaskan, yaitu : Naufal bisa makan apa saja (sayuran,daging sapi, daging ayam sudah bisa dia kunyah dan telan) dan dapet laporan dari pengurus catering bahwa isi kotak makan Naufal selalu habis HORREEEEE !!! Alhamdulillah🙂. Untuk urusan disiplin, meskipun jarak antara rumah dan sekolah dekat, tapi kami memutuskan untuk memakai jasa antar jemput sekolah. Naufal ini dijemput paling pagi dan diantar paling terakhir, dengan adanya jemputan ini, dia nggak bisa seenaknya karena jam 6 teng harus udah berangkat dari rumah, juga mengajarkan dia untuk patuh pada aturan jemputan (di mobil jemputan kan bukan cuma dia aja penumpangnya), mengajarkan dia bergaul dan tata krama dalam jemputan. Kemudian untuk masalah kelebihan energi aliyas nggak bisa fokus, nggak mau diemnya, kami mengatasi dengan cara memasukkan dia ekskul futsal, les renang dan gitar. Dengan futsal dia belajar mengenal aturan dalam permainan bola, melatih motorik kasarnya dan bagaimana itu team work. Dari les renang dia belajar motorik kasarnya, belajar konsentrasi dan menempa kekuatan fisiknya (oh iya lupaaa Naufal ini anaknya ringkih, dikit-dikit sakit). Dari les gitar dia belajar konsentrasi dan fokus dan melatih motorik halusnya. Kebetulan waktu ekskul futsalnya itu ada jeda 2 jam setelah jam belajar dan kebetulan pada jam jeda itu ada jadwal ekskul Bahasa Inggris, daripada bengong nunggu futsal saya masukkan dia ekskul Inggris, kebetulan anaknya mau-mau aja sih. Di rumah seminggu dua kali les ngaji. Weitsss sibukk yaaa…tiap hari ada les.

Trus belajarnya gimana???? Belajar mah tiap hari rutin, kan waktu Papa menjelaskan tentang buku murid itu sekalian dijelaskan ke Naufal bahwa kalau sudah SD harus rutin belajar. Belajarnya seperti apa? Kan Naufal ini anaknya ga bisa diem. Belajarnya serius tapi santai dan yang penting rutin plus tidak boleh lama-lama (ananya cepet bosen dan error). Papanya nih yang jagoan membimbing Naufal belajar. Belajarnya bisa sambil diskusi, cerita, orang kalo lagi belajar dia bisa sambil jumpalitan. Kalau Naufal lagi belajar sama Papa, Ibu dan adik nggak boleh masuk kamar, bisa merusak konsentrasinya, bisa buyar. Musti sabarrrr buangettt (saya masih belum bisa sabar, nggak kayak Papanya yg super sabar). Kebetulan sekolah nggak banyak kasih PR, jadi membimbing Naufal lebih banyak berdiskusi dan cerita. Berutung Naufal ini cepat sekali nangkep pelajaran, soal hafalan dan logika pun alhamdulillah bagus dan gampang, cuma gak bisa diemnya itu bikin geregetan sekali…hehehe. Lamanya belajar juga bertahap, awal-awal banyak diskusi dan cerita, trus kita yang bacain buku,soalnya dia baca belum lancar, udah lancar pun belum ngerti apa yang dibacanya. Secara bertahap waktu belajar kami tambah. Waktu kelas 1 kemarin dia sangat tidak bisa fokus, tulisan di buku tulis masih acak-acakan sekali, nggak seperti teman-teman sekelasnya yang udah pada mulai rapi, kalau mewarnai juga sangat acak-acakan, apa-apanya masih acak-acakan bikin rendah diri deh kalo membandingkan dengan anak orang. Nah, kalo udah begini ortunya yang harus sabar menerima anak apa adanya dan terus menerus melatihnya. Oh iya alhamdulillah saya juga rajin komunikasi dengan wali kelasnya, kalo bisa dibilang saya ini cerewet, dikit-dikit tanya ke wali kelas tentang Naufal,untung wali kelasnya baik mau menerima saya kapanpun…hehehe, makasih ya Ms Mia & Ms Yuni.

Jangan dikira mudah yaa pada awalnya…..wuihhhh super duper deh. Nulisnya mah gampang yaa….hehehe🙂 ya kitanya musti sabar, musti rajin&tekun, musti tega juga. Alhamdulillah, secara bertahap seiring dengan waktu, mulai kelihatan hasilnya. Nilai-nilainya di sekolah alhamdulillah jarang dapet nilai 80, biasanya 90 ke atas (padahal kami nggak menekankan BACA TULIS HITUNG loh!!!). Mendapat panghargaan pada Amaliyah Ramadhan tahun lalu. Bisa tampil sebagai tim Tahfiz pada acara Puncak Tema kelas 1. Dan di kelas 2 ini mulai bisa fokus belajar, mengerjakan soal math bisa duduk selama 30menit anteng, gak sambil ajrut-ajrutan seeprti dulu. Tulisannya di buku tulis juga mulai rapi. Mewarnai juga bisa rapi. Sudah bisa berenang. Gitarnya juga lumayan kata gurunya dia termasuk yang cepat mengerti dan hafal not balok (paadhal emaknya aja gak bisa). Ngaji juga udah bisa baca Al Qur’an, meskipun belum lancar. Untuk urusan disiplin alhamdulillah anaknya kooperatif. Badannya udah mulai kuat nggak ringkih kayak dulu, mungkin karena rajin olah raga. Kebetulan saya dan Papanya anak-anak nggak suka main game baik komputer atau yang  lainnya, namanya anak sih pasti minta ya …minta PS lah minta PSP lah dst, nggak dikabulkan oleh kami, kecuali beli komputer untuk belajar itu juga, tapi kalo beli bola, sepeda, raket bulu tangkis mah hayuuuk pasti dibeliin.

Nah, sedikit tapi pasti…semuanya menunjukkan hasil. Dan dari hasil ini kita evaluasi lagi untuk menentukan langkah dan terget selanjutnya. Kelas 1 dan 2 SD masih dalam tahap pembentukan karakter anak, nanti mulai kelas 3 baru kami akan serius ke pelajaran di sekolah, karena kelas 3 kan beban pelajarannya sudah mulai berat.

Lain Naufal lain juga dengan Raditya. Setiap anak punya keunikan masing-masing. Nggak bisa dipukul rata. Sering kali kita hanya melihat kelebihan yang dimiliki oleh anak lain, dan melupakan bahwa anak kita sebenernya punya potensi yang tidak kalah baiknya (saya banget nih, suka panik kl lihat kok anak orang bisa, anak saya nggak bisa? untung Papanya anak-anak sangat bijaksana, selalu mengingatkan saya bahwa SETIAP ANAK ITU UNIK). Kita sebagai ortu harus jeli menemukan kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya kita poles lagi supaya semakin berkilau, dan kekurangannya kita cari cara melatihnya agar dia bisa berkembang dengan baik.

Mudah-mudahan bermanfaat🙂

4 thoughts on “Cara Saya Mengajari Naufal

  1. wah saya juga tipe yang suka panik, kalo ada anak lain dah bisa begini, bisa lebih rapi dsb tapi anak kita blm bisa.
    Nabila 31 agust ini baru 6 tahun, dan dia masuk sd n percontohan 1, ga ada sd lain yg lebih baik. Namanya juga di daerah mbak. Ga ada sekolah2 swasta yang bagus2. Nah masuk disini harus udah bisa calistung.
    Nah begitu masuk, kelasnya bermetode bilingual. Awalnya masih di acak. Nah di semester kedua ntar baru akan dibikin kelas inti / akselerasi gitu lah. Jadi kayaknya saya nya malah yg sutris mikirin moga Nabila masuk kelas inti, kelas yg anak2nya ber-IQ tinggi2 *katanya*.
    Sementara ini, Nabila masih blm semangat belajar. Kalo ngerjain PR, dikaish tahu dg nada tinggi dikit aja dia nangis. Saya percaya nabila ini bisa, dan belum mengoptimalkan kemampuannya, hehe anak sendiri gitu ya dipuji😀. Cuman yg saya lihat kalo ngerjain PR aja, sukanya buru2. Pasti ada yg kurang hurufnya, dan jadinya ga rapi. Kalo dikasih tahu baik2 dan penuh senyuman, sabar baru dia mau ngerti.Huaaa … panjang banget ya ina commentnya …

    • Mbak Ina, sebetulnya dulu waktu mau masukin Naufal ke SD, ada option lain yaitu kalau kita memang gak menemukan SD yg sesuai dengan kebutuhan Naufal atau misalnya ada SD swasta tapi biayanya nggak terjangkau, jadi mau nggak mau harus masuk SD negeri, kami berencana menunda memasukkan Naufal ke SD sampai usianya cukup matang. Ini mah kebetulan dekat rumah ada SD yg bagus (bagus di sini artinya ramah anak, nggak memaksa harus bisa ini itu), biayanya terjangkau, dan kebetulan si Naufal lulus tes masuknya (tesnya bukan tes calistung loh!). Jadilah kami masukkan Naufal ke SD yg skr ini. Andaikata dulu Naufal gak lulus tes, kami gak akan memaksakan dia masuk SD di usianya yg masih kurang dari 6th, malah kami akan mencarikan TK lain untuk dia.

      Kemarin ini juga di sekolahnya ada tes kelas bilingual, meskipun di kelas dia termasuk anak yg masuk saringan untuk ikut tes, tapi kami ortunya nggak memaksa dia HARUS masuk kelas bilingual. Kalau diundang ikut tes ya kami dukung si anak unt ikut, sekalian mengajarkan dia untuk berkompetisi, kami ajarkan dia untuk berusaha sekuat tenaga agar nilai tesnya bagus (karena kami harus ngajarin dia bahwa usaha / ihktiar itu wajib, nanti setelah kita berusaha baru hasilnya kita pasrahkan pada Allah dengan berdoa), Naufal lulus dalam 3x tes dan gak lulus dalam tes terakhir karena dia lagi sakit cacar. Ya sudah, kami ortunya mah nggak apa2, toh sejak awal niat ikut tes juga karena ada kesempatan ikut, mau diterima syukur…berarti sekolah menilai anak saya mampu, nggak diterima ya nggak apa2. Nggak ada beban. Nah, pas dia tau dia nggak lulus…ini adalah pelajaran lagi buat kami dan si anak, kami harus mengajarkan si anak menerima hasil tes dengan lapang dada, menjelaskan bahwa hasil tes ini bukan akhir dari segala2nya (Naufal sempet sedih krn ga lulus), dan tetep mensupport dia spy tetep semangat belajar.

      Intinya, kalau kami sih Mbak, kami nggak mau menuntut/memaksakan apa2 sama anak, karena sadar betul tantangan yg mereka hadapi jauh lebih berat dari pada yg pernah kita hadapi dahulu kala waktu kita masih SD. Yang sekolah kan si anak, bukan kita🙂. Jadi kami mempersiapkan mental anak terlebih dulu, membangun karakternya dulu, ketimbang akademisnya.

      Buat apa nilai bagus,kalau akhlaknya gak bagus, buat apa nilai tinggi kalau anaknya stress dan gak happy

      🙂

      Nah, skr nih mau pindahan, sedih juga harus meniggalkan sekolahnya anak2, dan gak gampang cari sekolah yg sesuai dengan keinginan kami di temapt yg baru nanti. Dari sekarang udah mulai menjelaskan sama Naufal bahwa sekolahnya nanti kira2 spt apa,yg jelas beda banget dgn sekolahnya yg skr. Yang lebih penting lagi menyiapkan kami ortunya unt bisa menerima anak apa adanya.

      hihihi…bales commentnya panjang juga🙂

  2. Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..pokoknya T O P deh…
    Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
    Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
    banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
    dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
    Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
    Mari berkunjung di blog saya
    Di http://lagu2anak.blogspot.com
    Kalau mau bertukar link, silakan lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s