Aku, Mama dan Hobby Membaca

Mama adalah sumber inspirasiku. Beliau yang mengenalkan aku pada buku di usia dini. Kalo nggak salah sejak aku kelas 1 SD Mama sudah berlangganan majalah Bobo untukku (dulu harganya masih Rp 700).  Mama sendiri hobby membaca buku dan majalah.

Buku favorit Mama adalah tentang sejarah, terutama sejarah Sunda, novel, dan sampai sekarang tetap setia berlangganan majalah Mangle (majalah berbahasa Sunda). Kebiasaan membaca ini ternyata diturunkan juga dari alm. Nenek ku (ibunya Mama). Beliau juga suka membaca, dan berlangganan majalah Mangle. Kebiasaan turun temurun berlangganan majalah Mangle dilanjutkan oleh Mama. Dimana pun Mama tinggal (waktu Bapak masih aktif dinas, sering pindah-pindah ke daerah di luar Bandung), Mama selalu setia dengan majalah Mangle, sampai detik ini.

Sayang, aku nggak mengerti membaca majalah berbahasa Sunda, jadinya aku kurang tertarik dengan majalah Mangle (Bapak aseli dari Jawa Tengah, nggak bisa bahasa Sunda, meski sudah lama tinggal di tatar Sunda, di rumah kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia). Kecuali dulu, waktu aku masih sekolah di Cimahi, aku menyempatkan diri untuk membaca Mangle karena ada sedikit rasa penasaran dan karena terpaksa harus membaca supaya aku bisa mengikuti pelajaran Basa Sunda di sekolah. Ketika mulai ikut Bapak pindah ke luar daerah Sunda, seiring dengan itu juga aku mulai jarang membaca Mangle. Dan lama kelamaan membacanya aku semakin tidak mengerti arti kata-kata dalam bahasa Sunda, apalagi untuk mengerti isi bacaan yang aku baca. Aku pun menyerah untuk tidak lagi membaca majalah Mangle. Entah siapa yang nanti akan mewariskan berlangganan majalah Mangle pada generasi kami selanjutnya, karena adik-adikku pun tidak ada yang suka membaca Mangle.

Ketika beranjak ABG, aku mulai berkenalan dengan majalah Gadis, Hai, Kawanku, Aneka Yes serta novel serial Lupus, Olga, 5 Sekawan, STOP, buku-bukunya Enid Bylton, Nina, Pippi si Kaus Kaki, Noddy, Pasukan Mau Tahu, St. Clare, Mallory Towers, serial karya Agatha Cristie dst. Aku dibikin sakaw dengan buku-buku itu. Bapak dan Mama mendukung sekali hobby ku ini. Kebetulan Bapak juga hobby baca dan ke toko buku, setiap kali kami ke toko buku pasti aku dibelikan buku baru. Apalagi dulu harga buku masih murah, sebagian uang saku kuhabiskan untuk membeli buku.

Beranjak dewasa, aku mulai membaca majalah Femina & Kartini (kebetulan Mama langganan majalah ini). Jaman dulu masih sedikit majalah yang beredar, nggak seperti sekarang, suka bingung kalau mo pilih majalah. Dulu isi majalah masih full artikel, sekarang banyak iklannya😦. Aku kurang suka dengan majalah serius seperti Tempo dkk.

Sekarang kegemaranku dengan buku masih berlanjut, aku masih sakaw oleh buku. Buku yang paling sering aku baca adalah novel. Sebetulnya aku tidak mau memilih-milih novel jenis apa yang ingin aku baca, karena dulu jaman SMA dan kuliah, aku lahap semua jenis novel. Di kepala ini rasanya kaya dengan berbagai macam hal. Kebetulan aku kuliah di jurusan Sastra Jepang. Buku-buku Jepang juga aku suka, tapi lama-kelamaan aku jadi kurang menyukainya karena rata-rata sastrawan Jepang menghakhiri hidupnya dengan bunuh diri (bertentangan dengan ajaran agama yang aku yakini).

Sampai akhirnya aku beranjak dewasa, seiring dengan bertambahnya usia..aku mulai memilih bacaan apa yang harus kubaca. Novel bertema relegi aku pilih untuk memperkaya batin dan pengetahuan ku tentang agama.  Novel yang membangkitkan semangat, tentang petualangan, yang bahasanya santun, yang tidak vulgar dan tidak ekstrim, bahkan aku masih suka sekali dengan novel bertema komedi romantis, beberapa dari genre metropop masih aku baca.

Membaca aku jadikan sebagai sarana untuk relaksasi dan berwisata  :).  Oh iya toko buku favorit ku adalah BBC (Bandung Book Center) Palasari, rumah ku di Bandung dekaaaaat sekali dengan Pasar Palasari, kalau ke sana aku menyempatkan diri untuk mengunjungi BBC. Harganya murah, bukunya sekalian disampul juga. Kalau kesana aku sudah membawa catatan buku apa saja yang akan aku beli, jadi nggak perlu lama.

Mama, Bapak, aku dan adik-adikku semua hobby membaca. Warisan turun temurun yang tak ternilai harganya.

Aku pun menurunkan hobby membaca buku ini kepada anak-anakku. Sejak usia dini mereka aku kenalkan pada buku. Waktu aku masih bekerja, aku selalu minta pada bos Jepang ku yang sedang mudik ke Jepang untuk memberikan aku oleh-oleh buku cerita anak (biasanya mereka selalu bertanya ingin dibawakan oleh-oleh apa dari Jepang). Buku anak dari Jepang itu kualitasnya bagus, gambarnya menarik, kertasnya pun tebal. Koleksi buku anak asal Jepang lumayan banyak. Dari pada membelikan anak-anak mainan, aku lebih royal dan lebih sering membelikan mereka buku. Sekarang Naufal (kelas 2 SD) punya hobby setiap jam istirahat sekolah main ke perpustakaan untuk membaca. Dia juga sudah mulai membaca novel anak-anak tentang detektif.

Terima kasih ya Ma, karena Mama, aku senang membaca, dan akan aku wariskan kebiasaan baik ini kepada anak-anak ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s