“Menjadi Cahaya”

Sampai sekarang Naufal masih galau di sekolah barunya. Alasannya karena temannya nakal-nakal. Baru kelas 2 SD ngomongnya bahasa yang kotor-kotor gak sopan, belum lagi sikap dan tingkah lakunya yang engga baik, misal dikit-dikit berantem, ngejailin temen, berbuat curang dst.

Ini semua bikin Naufal gak nyaman. Dia selalu bilang ke saya kalau dia nggak suka dengan teman-temannya. Saya sebagai orang tua sebetulnya jujur yaaa….merasa was-was banget, karena takut anak saya ketularan nakal. Kadang cara dia ngomong di rumah pun suka ikut-ikut kasar dan ga sopan.

Saya berfikir keras gimana nih cara mengatasi masalah ini. Saya banyak diskusi dengan Papanya Naufal mengenai hal ini. Mungkin beginilah jika anak di sekolahkan di sekolah umum, meskipun sekolahan swasta, karena bukan SDIT, pendidikan akhlak agak terabaikan. Masalahnya, anak saya kan udah terlanjur dimasukkan ke sekolah yang sekarang.Sebetulnya sekolah ini cukup berprestasi di kota ini, tapi sisi jeleknya ya ini dia.
Setelah membuat analisa dan diskusi panjang x lebar x tinggi dengan suami tercinta, sampai pada kesimpulan, bahwa kita tetap mempertahankan Naufal sekolah di situ dengan banyak sekali pertimbangan.

#Sebagai orang tua saya dan suami harus kompak merapatkan barisan untuk memotivasi anak-anak supaya mereka tetap survive dimanapun mereka berada.

# Menyadari sepenuhnya bahwa kewajiban dan tanggung jawab terbesar dalam mendidik akhlak seorang anak terletak pada orang tuanya, bukan pada sekolah, maka disini kami harus ambil peranan besar.

Seandainya kondisi kami adalah sangat berkecukupan, sehingga bisa memilih sekolah yang terbaik buat anak dan tidak harus pindah-pindah kota, mungkin kami masih punya banyak pilihan. Tetapi kondisi kami yang harus pindah-pindah, iya kalau di setiap daerah bisa bertemu dengan sekolahan yang sesuai dengan hati nurani, lalu kalau tidak tersedia, masa iya lantas dijadikan alasan anak tidak bersekolah? Kami nggak ambil opsi home schooling karena kami berpendapat dengan anak bersekolah di sekolahan dia akan mendapatkan pelajaran hidup, pelajaran survival bekal dimasa depannya.

Saya dan suami sadar banget, arus informasi dan teknologi yang sangat deras sekali menimbulkan banyak efek negatif kepada anak-anak yang tidak dipersiapkan untuk menerimanya. Menurut kami, inilah tantangan kami sebagai orang tua, inilah JIHAD kami. Bagaimana caranya agar kami tetap bisa mendidik anak-anak menjadi generasi yang cerdas dan soleh ditengah-tengah kondisi seperti ini.

Setiap hari arus pertanyaan dari Naufal semakin deras saja, dia bertanya tentang banyak hal, bukan lagi hanya bertanya tentang arti sebuah kata tapi sekarang dia sudah mulai mempertanyakan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, pertanyaan logika, pertanyaan sebab akibat. Saya sempet kewalahan menjawab cecaran pertanyaan dari Naufal, sampai-sampai saya belikan dia kamus populer bahasa Indonesoa😀. Dia girang banget dapet kamus itu, dibawa kemana-mana dan rajin dibaca…hahaha….
Tapi untuk pertanyaan logika dan sebab akibat ini yang agak susah cari jawabannya, apalagi jawaban harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak, bukan bahasa orang dewasa. Dilain pihak,kegemaran Naufal banyak bertanya saya gunakan sebagai kesempatan menyisipkan dasar-dasar tuntunan agama. Misalnya pertanyaan dia tentang orang yang berbeda agama dengan kita, maka saya masukkan dalil “bagiku agamaku bagimu agamamu” lalu saya beri penjelasan singkat mengenai ayat tersebut. Demikian juga ketika dia bertanya tentang kenapa dia nggak boleh nonton film/sinetron orang dewasa (sedangkan teman-teman sekelasnya banyak yang nonton film/sinetron orang dewasa….duhhh *gubrak* deh!), saya jawabnya karena anak kecil belum mengerti dengan isi ceritanya, dalam film itu banyak kata-kata serta adegan yang tidak sepantasnya diucapkan&dilakukan, dan memang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk anak kecil, kemudian saya kaitkan dengan tuntunan agama bahwa Allah tidak menyukai hal yang mubazir atau sia-sia, yah pokoknya disambung-sambungin deh😀. Hal-hal seperti itulah contohnya, alhamdulillah sih dia cukup mengerti dengan penjelasan yang saya berikan.

Sekarang, Naufal sudah bisa memilih mana teman yang baik mana yang tidak baik. rata-rata anak laki-laki menurutnya tidak baik, karena mereka sering ngomong jorok, kalau cerita juga cerita tentang orang dewasa tentang konflik rumah tangga (selingkuh dsb sampai adegan bunuh-bunuhan), sering menyanyikan lagu-lagu atau yel-yel yang kata-katanya jorok, dan seneng sekali berantem,jahil dan curang.

Itulah alasannya Naufal lebih memilih bermain dengan anak perempuan, karena anak perempuan baik-baik, tidak ngomong jorok, tidak menceritakan hal-hal yang aneh, bisa diajak belajar bareng, ke perpustakaan bareng, diskusi dan tidak suka berantem+tdk jahil.

Naufal pun sekarang kalau main kebanyakan dengan anak perempuan, kemudian lama-kelamaan ada beberapa orang anak laki-laki yang bergabung, tentaunya anak laki-laki yang masuk katagori anak baik menurut versi Naufal. Naufal cukup rajin datang ke perpusatakaan dengan teman-temannya. Di sana dia membaca buku “Tuntunan Agama Islam” dan menonton Metro tv lihat berita terkini😀 hahaha…..baguss Nak!!!

Suatu hari dia bertanya pada saya “Bu, aku nggak suka sama temen-temenku yang laki-laki, mereka nakal-nakal, jahat-jahat Bu. Kenapa mereka nakal-nakal ya?” Jawaban saya “Karena orang itu nggak sama kondisinya Nak, di dunia ini memang ciptakan ada yang baik dan ada yang gak baik, semua orang bebas memilih, Aa kan udah tau apa manfaatnya kalau memilih jadi orang baik apa ruginya kalau jadi orang yang gak baik. Aa silahkan berteman dengan siapa aja,tapi jangan ikutan menjadi anak ga baik.

Kalau bisa Aa menjadi cahaya buat temen-temen Aa, kasih contoh menjadi anak yang baik, siapa tau temen Aa bisa mengikuti Aa menjadi baik juga. Inget Aa…’Sebaik-baiknya manusia adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain’.”

2 thoughts on ““Menjadi Cahaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s