Selamat Jalan Umi….

“Selamat jalan si pemilik tilawah yang lembut dan menyejukkan hati…Innalillahi wa innailaihi roji’un”

24 Desember 2012, adalah takdirmu menghadap Sang Pencipta.

Belum lama kita berkenalan, satu setengah tahun yang lalu, ketika saya pindah ke komplek ini. Kita bertetangga, sering bertemu disetiap acara arisan komplek atau di acara kumpul ibu-ibu di sini. Salah satu istri pegawai pajak, sama seperti kami lainnya. Nama panggilannya yang populer di komplek ini adalah “Umi”, mulai dari anak-anak sampai sesama ibu memanggilmu dengan sebutan itu. Dikenal sebagai wanita yang memiliki tilawah Al-Qur’an yang sangat lembut dan menyejukkan hati. Meskipun memiliki 7 anak yang masih kecil-kecil, semangatnya untuk berda’wah luar biasa. Langkah kakinya selalu ringan, tidak pernah khawatir meniggalkan anak-anaknya, dan anak-anaknya pun meski mereka masih kecil, semua mengerti Umi mau berjihad. Umi adalah guru mengaji, dia mengajar ngaji dimana-mana. Saya termasuk salah satu murid Umi. Sejak pindah ke sini, saya belajar mengaji dengan Umi. Sikapnya selalu rendah hati dan ringan tangan membantu sesama. Dengan yang berbeda agama pun Umi tetap bersahabat sangat baik. Semua warga menyayangi Umi dan keluarganya.

Kurang lebih setahun yang lalu, ketika Umi datang ke rumah saya untuk mengajar ngaji, kebetulan saat itu saya baru kembali dari Bandung, karena suaminya kakak Ipar meninggal. Saya membawa buku “Tanda-Tanda Orang Akan Mati” karyanya Imam Qurthubi dan buletin yang dibuat oleh keluarga kakak ipar untuk mengenang almarhum selama hidupnya. Umi tertarik dengan kedua buku yang saya miliki itu, dia sempat meminjamnya pada saya. Bahkan sempat ingin titip foto copy bukunya Imam Qurthubi, tapi saya usulkan untuk memesan saja langsung ke penerbitnya di Bandung. Umi pun mengajak ibu-ibu lain untuk ikut memesan buku tersebut agar ongkosnya kirimnya lebih ringan. Akhirnya saya pesan buku tersebut, dan beberapa ibu-ibu di komplek ikut membelinya. Ketika buku pesanan sudah tiba di Balikpapan, Umi sempat membahas isi buku tersebut di tadarusan rutin ibu-ibu komplek setiap jumat malam di mesjid. Salah satu yang saya ingat dari penjelasan Umi adalah ” Nyawa manusia itu seperti daun yang berguguran, lalu malaikat pencabut nyawa mengambil daun yang gugur itu, lalu terbang ke bumi untuk melaksanakan tugasnya” , “Orang yang soleh, setahun sebelum kematiannya, Allah akan menjaganya dengan mengirimkan malaikat, malaikat tersebut akan selalu menjaga agar jalan orang tersebut selalu lurus sampai pada tanggal yang sudah ditetapkan maut menjemputnya.”

Tahun ini Umi sedang hamil anak ke-9, di usianya yang ke-42 tahun. Sepertinya sejak awal kehamilan Umi kurang sehat. Saya sudah tidak belajar ngaji dengan Umi, tapi dengan temannya Umi, karena banyak ibu-ibu lain juga ingin belajar ngaji dengan Umi, jadwal Umi bertambah padat, ditambah Umi sering sakit. Meskipun demikian Umi masih tetap berusaha hadir di setiap kegiatan komplek.

Saya bertemu Umi terakhir hari Sabtu, di kegiatan posyandu, saat itu Umi ga banyak bicara. Dan terakhir saya bercakap-cakap dengan Umi hari Jumatnya waktu saya sedang membagikan undangan posyandu. Sore itu saya bertemu Umi di jalan, Umi dan anaknya sedang jalan sore. Umi memanggil-manggil saya dari kejauhan, lalu bertanya, saya bawa kertas apa? Saya bilang, ini undangan posyandu, besok Umi datang ya, lalu saya berikan selembar undangan untuk Umi. Waktu saya mau pamit melanjutkan bagi-bagi undangan, tiba-tiba Umi memanggil saya lagi…”Teh Ira” (panggilan Umi ke saya), “Maaf yaa…saya punya hutang sama Teh Ira.” Saya kaget sekali…hutang?? Hutang apa ya? Perasaan Umi nggak punya hutang apa-apa ke saya. “Hutang apa Umi?” tanya saya. “Saya punya hutang kasih Teh Ira foto copy skema pelafalan huruf hijaiyah,maaf ya Teh,” kata Umi dengan penuh penyesalan. Ya Allah….itu kan sudah lamaaa sekali, iya saya ingat dulu waktu saya masih belajar ngaji sama Umi, Umi pernah mau kasih saya foto copy itu, karena udah lama berlalu, saya juga sampai lupa,dan mengabaikannya. “Umi, nggak apa-apa itu kan sudah lama, saya juga sudah lupa,”kata saya. “Tapi saya sudah janji sama Teh Ira, maaf ya Teh saya belum menepati janji saya, nanti saya siapkan foto copynya untuk Teteh,” lanjut Umi. “Iya Umi, santai aja,” jawab saya. Jujur, hampir tiga bulan belakangan saya lalai mengaji,alasannya adaaaa aja, yang sibuk lah, yang anak lagi pada ujianlah. Saya memang sudah nggak belajar ngaji privat dengan Umi, saya belajar ngaji dengan temannya Umi, setiap hari libur nasinal, sabtu dan minggu saya dan anak-anak pergi ke mesjid yang cukup jauh jaraknya dari komplek untuk belajar ngaji. Tapi tiga bulan terakhir….saya udah jarang ngaji, udah nggak pernah ikut tadarusan rutin di mesjid😦.

Rupanya….itu saat terakhir saya bercakap-cakap dengan Umi😦. Minggu malam saya dapat kabar Umi sedang kritis di RS, anaknya sudah lahir, tapi meninggal😦. Saya sempat jenguk ke RS, Umi sedang di ICU, saya nggak bisa masuk ke dalam, tapi saya bisa lihat Umi dari jendela😦. Umi masih tidak sadarkan diri, ditemani suaminya. Umi mengalami pendarahan ketika melahirkan bayinya. Malam itu warga komplek turut membantu mengurus jenazah anaknya Umi. Saya sekeluarga baru pulang lagi ke rumah menjelang tengah malam.  Jam 3 subuh, dapat kabar kalau Umi meninggal dunia…innalillahi wa innailaihi roji’un.

Saya mengantarkan Umi dan putranya sampai ke Samarinda, tempat peristirahatannya terakhir. Belakangan saya baru tahu, Umi adalah putri seorang ulama besar di Kutai Kartanegara, ayahnya yang sudah almarhum adalah juga mantan anggota DPRD. Subhanallah…..meskipun seorang anak ulama besar, pembawaan Umi sangat sederhana sekali.

Terima kasih ya Allah…telah mempertemukan saya dengan seorang wanita solehah, memberi kesempatan pada saya untuk belajar mengaji padanya, belajar meneladani kesolehannya.

Umi sudah tenang sekarang…..Umi telah syahid…meninggal ketika melahirkan…sungguh ending yang sangat manis, pantas dimiliki oleh orang yang solehah seperti Umi. Kemarin, berbondong-bondong ratusan orang datang untuk melihatmu terakhir kali. Sungguh itu merupakan amalan ibadahmu selama hidup. Percakapan kita yang terakhir kalinya itu Umi, mengingatkan saya untuk tidak melalaikan ibadah, untuk tidak lalai mengaji, alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Semoga Allah SWT menerima semua amalan ibadahmu selama hidup, semoga anak-anak dan suami yang kau tinggalkan diberi kesabaran, ketabahan dan keikhlasan,amin.

 

2 thoughts on “Selamat Jalan Umi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s