Berkah Semangkuk Soup

from google

from google

Paling sebel kalau udah masak untuk makan di rumah, dapet komentar dari anak-anak : “Aku nggak suka masakan yang Ibu buat.” Hadeuuuh…😦

Dua anak saya ini selera makannya berbeda satu sama lain. Yang satu suka sama rasa gurih dan berkuah, sedangkan yang satu lagi suka rasa manis dan tidak berkuah. Yang satu nggak suka sayur, tapi suka banget makan buah, yang satunya lagi nggak suka buah tapi mau makan sayur. Nah loh, kalo harus nurutin kemauan masing-masing selera kan repot ya belanja dan masaknya. Jadi saya membiasakan mereka untuk mau makan apa aja yang sudah saya masak untuk mereka.

Tapi resikonya ya seperti tadi itu, nggak semua masakan yang sudah saya buat cocok dengan mereka, apalagi kalau ditambah mereka lagi males makan.

Saya kalau masak di rumah nggak pernah banyak-banyak, sesuai standar aja untuk porsi 4 orang anggota keluarga. Menunya divariasikan sehari yang gurih dan berkuah, sehari agak manis dan keringan (sayurnya ditumis). Menu yang saya hidangkan di meja makan untuk makan kami sehari-hari juga biasa aja, yang simple banget. Hanya ada nasi, sayur dan lauk….tiga macam saja. Saya jarang sekali bikin makanan tambahan temannya lauk, seperti tahu,tempe,perkedel atau mie/bihun goreng, karena makanan tambahan tersebut nggak bakalan dimakan sama anak-anak. Jadi saya cukup memasak tiga jenis masakan untuk dihidangkan di atas meja, simple kan🙂.

Eh, lalu bagaimana kalau sudah masak lalu dapat tanggapan nggak enak dari anak-anak. Ya tentulah be-te dan bikin mood hilang, jadi suka males masak kalau anak-anak liat makanannya aja udah pada gak semangat apalagi menyantapnya.

Makanan sisa yang tidak habis kami makan biasanya nggak saya buang, karena Acil pembantu saya yang tiap hari datang ke rumah, melarang saya membuang makanan sisa,lebih baik makanan sisa tersebut dia bawa ke rumahnya untuk dimakan dia sekeluarga. Sebetulnya saya nggak tega, kalau Acil harus bawa makanan sisa, tapi saya pikir dari pada dibuang, alangkah lebih baiknya makanan sisa saya simpan di kulkas dan saya berikan pada Acil keesokan harinya.

Ceritanya hari ini saya dan anak-anak sedang menikmati liburan di rumah. Sepeti biasa saya masaknya pagi ketika Acil sedang kerja di rumah. Hari ini saya memasak sayur sop satu panci ukuran sedang, cukup untuk makan siang dan malam kami sekeluarga. Sayur sop yang saya buat sudah matang, dan Acil belum pulang. Saya aduk-aduk sebentar si sayur sop dalam panci, sambil dalam hati berkata “Anak-anak suka nggak ya sayur sop ini? Kalau nggak suka, rasanya kecewa juga nih jadinya. Kalau saya kasih sebagian untuk Acil, kira-kira cukup nggak ya buat dua kali makan kami sekeluarga?”….hmmm…… Saya masih mikir aja sambil saya lihat lagi banyaknya sayur sop yang ada dalam panci itu. Ditimbang-timbang lagi….”Ah, saya kasih aja deh 1/4 nya untuk Acil, kasihan…masa dia makan sisa makanan kita terus, sekali-kali saya kasih yang baru dimasak kan nggak apa-apa,” gumam saya dalam hati.

Kemudian saya mengambil kantong plastik, saya tuang beberapa centong sayur sop ke dalam plastik, kira-kira cukup untuk sekali makan Acil sekeluarga (anggota keluarganya tiga orang).
Sayur sop jatah kami sekeluarga tinggal 3/4 panci, bismillah…semoga cukup untuk dua kali makan kami sekeluarga.

Waktunya makan siang, nasi, ayam goreng, tempe goreng dan sayur sop siap saya hidangkan di atas meja. Si bungsu yang saat itu sedang main di kamar, lari keluar melihat hidangan yang tersedia di meja makan, melihat sayur sop dia langsung minta “Bu, aku mau makan sayur sop dan nasi ya sekarang.” Saya terkejut mendengarnya, biasanya kan dia yang paling rajin komentar “Aku nggak suka masakan Ibu.” Tapi hari ini, tanpa saya panggil, dia datang sendiri ke meja makan dan minta makan….”Woww!!!” Segera saya siapkan permintaan si bungsu,beberapa menit kemudian si bungsu sudah lahap makan nasi dan sayur sop🙂. Nggak berapa lama,belum sempat saya memanggil si sulung untuk makan siang, dia yang lagi di dalam kamar keluar, melihat hidangan di atas meja, dan melihat adiknya makan dengan lahap dia pun meminta saya sepiring nasi dan sayur sop. “Woww…kejutan lagi buat saya!”, teriak saya dalam hati sambil tersenyum lebar pada anak-anak dan segera menyipakan permintaan si sulung. Siang itu kedua anak saya makan dengan lahapnya.🙂

Saya dan suami makan siang sambil tersenyum-senyum melihat kedua anak yang lahap menyantap makan siangnya. Sayur sop yang tersisa siang itu tinggal 1/4 nya lagi, itu adalah jatah makan malam kami berempat. Agak pesimis melihat ke panci, “Cukup nggak ya, sayur ini untuk makan malam? Mau masak lagi udah nggak ada sayuran di kulkas.” “…..Ah semoga cukup, Bismillah.”

Sorenya, bangun tidur si bungsu lagi-lagi minta makan nasi dan sayur sop, “Anak kecil ini doyan rupanya.” Sore itu kami makan malam sayur sop sisa tadi siang. Sayur sopnya habis, cukup untuk kami berempat. Malam ini, saya lagi-lagi tersenyum puas…senang rasanya melihat anak-anak lahap memakan masakan yang saya hidangkan hari ini. Anak-anak terlihat antusias makan sayur sop🙂. Mungkin ini berkahnya dari sayur sop yang saya bagi sebelumnya dengan Acil.
Alhamdulillah🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s