Menanam Pohon Menanam Harapan

Bibit Mangga

Bibit Mangga


Mencangkul

Mencangkul


Menanam

Menanam


pohon Ibu-Papa

pohon Ibu-Papa


Pohon : Raditya, Ibu-Papa, Naufal

Pohon : Raditya, Ibu-Papa, Naufal

Ceritanya di depan rumah dinas yang sekarang kami tempati ini ada sepetak tanah nganggur. Tanah tersebut hanya ditumbuhi rumput liar. Karena tidak memiliki pagar, para tetangga dan orang yang lalu lalang di depan rumah dengan bebasnya menginjak-injak tanah tersebut, bahkan tidak segan mereka membuang sampah di tanah itu. Sempat terbesit dalam pikiran mau disemen aja, tapi niat itu urung dilaksanakan mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan kalau di semen, nanti tidak ada resapan air. Jika tidak ada resapan air maka ketika hujan deras bukannya tidak mungkin air bisa masuk ke dalam rumah.

Cukup lama sepetak tanah di depan halaman rumah kami itu dibiarkan begitu saja. Jika banyak hujan, rumput akan tumbuh lebih subur dari biasanya, dan kebetulan di Balikpapan ini hujan dan kering datang silih berganti setiap hari. Menyebabkan tumbuhan tumbuh dengan subur. Demikian juga rerumputan yang tumbuh di halaman depan rumah kami, dalam satu bulan sudah terlihat panjang dan halaman depan rumah terlihat seperti padang ilalang. Kalau sudah terlihat seperti padang ilalang, nggak ada orang yang berani menginjak-injak halaman kami dengan seenaknya. Sepertinya orang-orang pada takut ada binatang buas yang bersarang di dalamnya.

Ketika rerumputan sudah menyerupai padang ilalang, kami dihadapkan pada dua dilema. Di satu sisi merasa beruntung karena orang-orang nggak seenaknya menginjaki halaman rumah. Tapi di sisi lain rupanya rerumputan panjang seperti itu diminati oleh kucung-kucing tetangga yang setiap hari semakin rajin numpang pup di halaman kami😦. Efeknya….kami harus mencium bau tak sedap setiap saat ketika keluar rumah atau sekedar membuka pintu😦.

Biasanya setiap bulan tukang kebun komplek secara rutin membabat rumput di setiap halaman rumah warga komplek pajak. Nanti kalau sudah dibabat dan tampak bersih, mulai lagi orang-orang seenaknya menginjak-injak halaman kami, dan ketika si rumput sudah tumbuh panjang seperti ilalang, mulailah kucing-kucing tetangga rajin mendatangi halaman kami untuk pup, begitulah setiap waktu silih berganti.

Namun demikian, kami belum berniat untuk menyemen tanah tersebut, karena kami lebih memikirkan dampaknya bagi lingkungan. Selama setahun setengah tinggal di sini, kami berusaha sabar menerima kondisi halaman depan rumah yang seperti itu. Sabar sambil terus berpikir akan dijadikan apa tanah kosong ini? Sampai suatu ketika di awal tahun baru kemarin, saya membabat sendiri rerumputan yang sudah panjang-panjang di halaman depan, dengan maksud ingin membuat perubahan di awal tahun. Menggunakan gunting biasa, saya habiskan si rumput dengan memakan waktu 2,5 jam saja, yang menyebabkan badan saya sakit semua.

Setelah melihat istrinya bersusah payah membabat habis rerumputan, halaman terlihat bersih dan kece, suami pun tergerak hatinya untuk segera menanami tanah kosong tersebut. Berbekal tanya ke tetangga, akhirnya ada tetangga yang berbaik hati memberikan kami bibit pohon mangga yang berasal dari bijinya. Pak Asep, nama tetangga yang memberikan kami biji pohon mangga itu, memberi kami tiga buah bibit pohon. Karena tanah yang ada di halaman kurang bagus untuk ditanami, maka kami harus membeli tanah hitam dan pupuk organik terlebih dahulu di tukang tanaman di daerah Jl Ruhuy Rahayu.
Setelah persiapan untuk menanam lengkap, pertama-tama kami mencangkul tiga buah lobang. Lalu kami mencampur tanah hitam yang sudah mengandung pupuk dengan pupuk organik. Setelah dicampur, kami masukkan campuran tanah dan pupuk tersebut ke dalam lobang, lalu kami tanam bibit mangga yang sudah keluar batang dan daunnya. Selesai menanam, tanah di sekitar bibit dirapihkan dan disiram.

Anak-anak turut serta ambil bagian dalam proses menanam ini. Mereka senangnya bukan main, setiap pohon diberi namanya masing-masing, yaitu pohon : Naufal, Raditya dan Ibu-Papa. Kami memberi tugas pada anak-anak untuk tidak lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Kami juga mengajari anak-anak untuk menyayangi pohon yang baru saja ditanam bersama-sama, karena menanam pohon adalah menanam harapan untuk masa depan. Meskipun mungkin ketika tiga pohon mangga itu tumbuh besar dan menghasilkan buah kami sudah tidak ada di sini, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat untuk orang yang menempati rumah dinas ini nantinya dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah ini, amin.

One thought on “Menanam Pohon Menanam Harapan

  1. Pingback: Belajar Dari “Ibu Kucing” | Coretan IraI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s