#1 Pentingnya Belajar Ilmu Kesehatan Anak

Tanpa disadari, kepanikan orang tua pada saat menghadapi anak sakit justru akan menjerumuskan anak ke dalam pengobatan yang tidak rasional. Penyakit langganan anak seperti demam,batuk, pilek, diare, muntah yang dialami oleh anak-anak 80% disebabkan oleh virus. Artinya penyakit tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa harus minum obat, apalagi antibiotik.

Dikutip dari “Smart Patient” karya dr Agnes Tri Harjaningrum, WHO dalam konferensi tahun 1985 di Nairobi menyampaikan bahwa penggunaan obat rasional itu artinya pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dengan dosis tepat serta dalam periode yang tepat juga dan dengan biaya yang paling terjangkau. Pengobatan yang tidak rasional menurut WHO  antara lain : polifarmasi (pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan pada kondisi yang tidak memerlukan beberapa obat sekaligus), pemberian antibiotika yang berlebihan, pemberian steroid yang berlebihan, tingginya pemakaian obat non generik, tingginya tingkat pemakaian obat injeksi, tingginya pemakaia obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan (sumber : http://purnamawati.wordpress.com).

Obat sendiri seperti koin, mempunyai dua sisi, satu sisi sangat dibutuhkan utuk menyembuhkan penyakit di sisi lain memiliki efek samping buruk bagi tubuh jika dikonsumsi tidak tepat sasaran. Dalam hal ini anak-anak banyak yang menjadi ‘korban’ kepanikan orang tua ketika mereka sakit. Misalnya saat si kecil demam, apa yang tercetus pertama kali dalam pikiran ortu? Pasti pada umumnya para orang tua berpikir untuk segera menghilangkan demamnya. Lalu tergopoh-gopohlah meminumkan obat penurun panas, jika panas tak kunjung turun ortu tambah panic dan segera ke dokter atau rumah sakit, di sana si anak yang sedang dalam keadaan sangat tidak nyaman harus mengantri berpuluh menit, berkumpul dengan pasien lain yang bukannya tidak mungkin bisa menularkan penyakitnya pada anak kita. Tiba di ruang dokter, ortu mendesak dokter agar memberikan obat yang ‘ces pleng’ agar anaknya cepat sembuh, memiinta dokter agar anaknya dites darah karena takut kena DB atau Thypus. Selesai konsultasi dengan dokter, ortu harus menebus resep yang jumlahnya ratusan ribu rupiah. Sampai di rumah obat-obatan segambreng tersebut langsung diminumkan pada anak, dengan harapan supaya anak cepat sembuh, namun pada kenyataannya tidak jarang banyak ortu mengeluh : sudah ke dokter yang terkenal, sudah nebus obat ratusan ribu rupiah, kok anakku nggak sembuh-sembuh ya? Lalu ortu kembali gelisah, dan bermaksud mencari dokter yang lebih terkenal lagi dan meminta obat yang lebih ‘dewa’ lagi supaya anaknya sembuh. Tes darah berulang kali dilakukan, karena diagnose dokter bias antara gejala DB dan gejala thypus. Tapi tetap saja sampai akhirnya si demam reda masih tidak jelas apa sebetulnya penyakit yang dialami anak (padahal sudah minum banyak obat-obatan dan berulang kali harus ditusuk jarum….hiyyy kasihan banget yah).

Contoh lain : ketika anak diare atau muntah-muntah, saya yakin yang ada dalam pikiran kebanyakan ortu adalah : segera menghentikan diare dan muntahnya. Maka tergopoh-gopohlah ortu ke dokter meminta resep obat penyetop diare dan muntah. Begitu juga ketika anak mengalami batuk-pilek, nggak tahan mendengar anak batuk terus menerus, akhirnya membeli obat batuk yang katanya super ‘ces pleng’ yang isinya mengandung codein semacam obat penenang yang sudah tidak direkomendasikan lagi diminum oleh anak-anak. Ada teman saya yang dengan bangganya cerita pada saya bahwa anaknya kena sakit cacar air (varicella), berobat ke dokter diberi resep yang ketika ditebus di apotek harganya sampai setengah juta rupiah…wow!!! Padahal cacar air penyebabnya virus bisa sembuh sendiri tanpa harus minum obat -_-“.

Dari contoh-contoh di atas bisa terlihat bahwa ketika menghadapi anak sakit, tindakan orang tua lebih banyak dilakukan untuk ‘mengobati’ kepanikan dirinya sendiri, tanpa mau melihat dan menimbang, kira-kira apa efek sampingya untuk anak jika diberikan obat-obatan yang seharusnya tidak perlu diberikan.

Demam bukan penyakit, tapi merupakan gejala suatu penyakit, demam  bermanfaat bagi tubuh untuk mematikan kuman-kuman penyakit. Pada saat demam, justru fokus kita seharusnya pada pemberian cairan, karena pada saat demam cairan tubuh menguap dan harus segera diganti supaya tidak dehidrasi. Ya, bahaya dari demam bukanlah tinggi atau rendahnya suhu tubuh, tapi waspada dengan DEHIDRASI atau kekurangan cairan tubuh. Ganti segera cairan tubuh dengan sering memberikan anak minum air putih. Buat catatan demam, ukur suhu tubuh dengan thermometer bukan dengan telapak tangan kita, dan berikan obat penurun panas yang paling aman untuk anak yang mengandung paracetamol sesuai dosis, yaitu 10-15mg/berat badan anak. Jika sudah diminumkan paracetamol suhu badan tak kunjung turun, atau sudah turun lalu naik lagi, jangan panic…karena paracetamol fungsi utamanya bukan untuk menurunkan panas tapi lebih untuk memberikan kenyamanan pada anak.

Diare dan muntah adalah salah satu cara tubuh untuk mengeluarkan racun, ketika anak mengalami diare dan muntah, jangan berfikir untuk segera menghentikannya dengan meminumkan obat anti muntah or anti diare. Kasihan dong kalau gak bisa keluar, racunnya terjebak dalam tubuh. Hal yang harus dilakukan pada saat anak terkena diare dan muntah adalah segera gantu cairan tubuh yang keluar. Sama seperti demam, diare dan muntah bisa menyebabkan DEHIDRASI. Berikan anak minum sesering mungkin ditambah ORS (oral rehydration solutions) misalnya oralit..

Demikian dengan batuk-pilek juga merupakan cara tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang ada di saluran nafas, obatnya juga berikan minum yang banyak, agar dahak bisa terpancing keluar dan tenggorokan tidak kering. DEHIDRASI adalah bahaya yang sering tidak disadari oleh para ortu ketika anaknya sakit, cegahlah dengan sering memberikan anak minum *bukan panic dan harus memberikan anak obat*

Jika pradigma diubah menjadi : Anak Sakit = Wajar, maka yang diperlukan oleh orang tua menghadapi anak sakit adalah : memperbanyak stok SABAR. Tentu saja tidak lupa ortu juga wajib dibekali dengan pengetahuan seputar penyakit anak dan tanda-tanda kegawatdarutan pada anak yang harus segera ditangani di rumah sakit. Seperti halnya kita sebagai orang dewasa, ketika demam misalnya, badan rasanya sakit semua, kepala nyut-nyutan, tulang seperti ditusuk-tusuk, inginnya berbaring istirahat di rumah. Coba bayangkan dalam keadaan demikian kita harus mengantri di rumah sakit….duhh bakalan tambah sakit rasanya. Belum lagi harus minum obat-obatan yang rasanya pahit dan jumlahnya banyak….belum lagi harus berulang kali ditusuk jarum untuk diambil darah…aduhhh . Tapi sebaliknya jika istirahat di rumah, banyak minum dan makan makanan yang enak dan bergizi, hanya dengan istirahat yang cukup, beberapa hari kemudian badan kita akan sehat kembali. Hal yang sama dirasakan oleh si kecil, ketika sakit pastilah dia rewel, ingin digendong terus, nafsu makan pun berkurang karena mulutnya pahit. Yang diinginkan si kecil ketika sakit adalah pelukan, kasih sayang dari ortu.

Mengutip quote dari dr. Purnamawati, SpAK : “The real pediatrician is the parents themselves” .  Menurut saya hal  ini adalah salah satu alasan kuat kenapa orang tua harus wajib mempelajari ilmu kesehatan anak. Karena ortulah yang paling tahu segalah hal tentang anak, ketimbang dokter atau tenaga kesehatan dan keputusan terbaik untuk anak ada di tangan ortunya.  Mempelajari tata laksana penyakit dan menghafalkan tanda kegawatdarutan pada anak tentunya akan sangat menguntungkan bagi keluarga kita. Saat ini ilmu kesehatan anak bisa dipelajari melalui situs yang terpercaya seperti :

http://milissehat.web.id

http://kidshealth.org

http://mayoclinic.com

http://who.int

http://aap.org

Selamat Belajar Ya !

2 thoughts on “#1 Pentingnya Belajar Ilmu Kesehatan Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s