#2 Botram Part 1

Untuk sebagian orang Sunda pasti tahu apa artinya botram. Istilah botram kemungkinan besar berasal dari kata Bahasa Belanda “boterham” yang berarti “irisan roti isi mentega dan ham”. Dulu, pada masa penjajahan Belanda, orang-orang Belanda sering piknik di taman dan membawa bekal berupa roti, makanan tersebut di makan pada saat piknik. Orang-orang Sunda melihatnya dan akhirnya kata ‘boterham’ berubah menjadi “botram” yang memiliki arti “makan bersama di luar rumah sambil menggelar tikar.”

Orang Sunda gemar sekali melakukan botram. Botram bagi orang Sunda memiliki arti kebersamaan dalam kesederhanaan. Hal ini tercermin dari menu makanan yang disediakan untuk botram. Menu makanan yang dibawa untuk botram biasanya : nasi timbel (nasi putih dibungkus daun pisang), atau nasi liwet (nasi yang diberi bumbu dan ikan asin yang dimasak dalam kastrol), sambel lalap, ikan asin, tumisan, tahu/tempe, ayam goreng atau gepuk.

Jika botram dilakukan bersama teman atau keluarga besar biasanya setiap anggota akan urunan membawa makanan, misalnya ada yang hanya membawa nasi timbelnya, atau hanya membawa sambel lalap dan seterusnya. Nanti makanan tersebut akan dikumpulkan dan dimakan bersama-sama. Di sinilah terletak kebersamaannya. Jenis makanannya pun sederhana saja, yang penting ada nasi, sambel lalap dan ikan asin juga cukup.

Hari Rabu, 27 Februari 2013 kemarin, di sekoalh Raditya ada acara jalan-jalan ke tambak ikan di daerah Gunung Empat. Saya sendiri tahun lalu pernah ikut ke sana dengan rombongan anak-anak TK nya Radit. Jadi saya sudah tau bagaimana lokasinya. Sehari sebelumnya, ketika sedang ngobrol dengan Teh Fuji (salah satu teman menunggu di sekolah yang kebetulan orang Sunda juga), tiba-tiba tercetus ide untuk nge-botram di tambak ikan. Langsung kita bagi-bagi tugas dan mengumumkan rencana dadakan ini ke teman-teman lain sesama wali murid. Saya kebagian membawa nasi timbel dan lalap daun singkong rebus dan timun, Teh Fuji membawa ayam goreng dan oseng tempe, sisanya teman-teman lain ada yang membaw sambel, ikan dan seterusnya.

Siang itu saya dan Teh Fuji langsung jalan ke pasar, beli ayam, daun pisang dan daun singkong. Seru juga ke pasar dengan Teh Fuji, saya jadi tau dimana tempat langganan dia membeli ayam pejantan yang masih hidup, cukup murah loh harganya Rp 20.000/ekor masih dalam keadaan hidup, nanti oleh penjualnya dipotong dan dibersihkan, kita tinggal pesan mau dipotong jadi berapa. 1 ekor ayam pejantan ukurannya kecil, biasanya ukuran normal hanya dipotong menjadi 4 bagian. Setelah itu ke tempat bumbu yang sudah digiling, lalu membeli daun pisang dan daun singkong. Tidak lupa, saya juga menanyakan resep ayam goreng yang akan dimasak oleh Teh Fuji, dan cara merebus daun singkong supaya cepat empuk tapi daunnya tetap berwarna cerah.

Sampai di rumah sudah sore, saya istirahat sebentar, kemudian ke dapur membersihkan daun pisang dan daun singkong. Daun singkong saya masak malam itu juga, sementara daun pisang sudah saya siapkan sebelumnya, yaitu dibersihkan, dilap dan dibakar, supaya daunnya lemes dan tidak sobek ketika digunakan untuk membungkus.

Paginya pukul 2 subuh saya sudah bangun, masak nasi 6 cup beras. pukul 3 nasi matang dan saya mulai membuat timbel. Ternyata 6 cup beras hanya jadi 10 bungkus nasi timbel, karena daun pisangnya juga masih banyak, saya memasak lagi 6 cup beras. Pagi itu saya membawa 20 buah nasi timbel ke sekolah, lalap daun singkong yang sudah dibuat bola-bola kecil dan irisan timun segar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s