#4 “Me Time” ??

Jujur, sering kali saya merindukan saat-saat dahulu ketika saya masih kerja di kantor. Masih nebeng tinggal di rumah ortu dan punya pembantu yang khusus mengasuh anak-anak. Saya masih punya begitu banyak waktu untuk melakukan “Me Time”, jalan-jalan sama teman, melakukan perawatan ke salon, nguplek seharian di dapur bikin aneka kue, atau sekedar membaca novel sambil mendengarkan musik tanpa banyak diganggu oleh urusan anak dan rumah tangga. Ya, karena saat itu masih banyak yang membantu saya.

Hidup saya mulai berubah ketika kami pindah ke Cibubur dan saya sendiri yang memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan bertekad mengasuh anak-anak sendiri tanpa asisten. Apa yang saya bayangkan tak seindah kenyataan. Ternyata harus mengurus anak itu luar biasa….luar biasa….deh! Saya tiba-tiba menjadi orang yang terkungkung dengan rutinitas domestik rumah tangga dalam kurun waktu 24 jam 7 hari dalam seminggu, sungguh membosankan. Sedangkan ‘masa lalu’ saya adalah bekerja di luar rumah selama 8 jam 5 hari dalam seminggu. Bisa pergi ke luar rumah setiap hari untuk bekerja membuat saya happy, karena setiap hari saya akan bertemu dengan teman-teman kantor, mengerjakan suatu pekerjaan yang baru yang penuh dengan tantangan, berhubungan luas dengan banyak orang dan kadang bahkan saya harus ditugaskan ke luar kota. Buat saya hal-hal tersebut sungguh menyenangkan, karena buat saya hal-hal tersebut adalah bagian dari “Me Time” saya. Meskipun di hati kecil ada sedikit perasaan sedih karena waktu bercengkrama dengan anak-anak menjadi terbatas, namun tidak menjadi masalah besar, karena saya masih punya weekend untuk bisa full ngurus anak-anak.

Apa mau dikata, akhirnya saya sendiri yang  membuat keputusan untuk resign. Dari yang tadinya lebih banyak waktu di luar rumah dan lebih punya banyak waktu untuk “Me Time”, saya berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang cuma mengurusi urusan domestik. Tahap awal adalah tahap penyesuaian dengan suasana baru, waktu selama 24 jam habis hanya untuk ngurus rumah tangga dan anak-anak. Kadang makan dan mandi pun terlewatkan begitu saja. Baju yang dipakai sehari-hari hanyalah daster butut atau setelan piyama yang sudah usang, itu adalah baju kerja saya sehari-hari. Padahal dulu, dari hari senin-jumat, sejak pagi saya sudah rapi jali, dengan seragam kerja ke kantor dengan aroma wangi yang selalu terjaga.

Setahun pertama menjadi ibu rumah tangga saja, membuat saya terlihat acak-acakan nggak terurus. Wajah saya kok semakin hari semakin kusam dan berminyak. badan juga nggak keurus, kelihatan tambah gendut. Saya nggak ada waktu untuk mengurusi diri saya sendiri😦 . Semua waktu tersita hanya untuk masak, mandiin anak, nyuapin anak, nyiapin makanan untuk bekal suami, nyapu, ngepel, nyikat kamar mandi, bersihin dapur, nyuci perabotan…..ya seputar itu-itu saja.

Sampai pada suatu waktu saya merasa sangat be-te dan bosan dengan rutinitas hidup seperti itu. Kenapa semuanya begitu nggak menyenangkan untuk saya? Apa yang saya bayangkan tentang menjadi ibu rumah tangga sejati, ternyata ujungnya justru membuat saya kurang bahagia, dibandingkan ketika dahulu saya bekerja.

Ternyata jawabannya adalah karena saya nggak punya “Me Time”. Lalu, apakah betul seorang ibu rumah tangga sejati memang nggak bisa dan nggak boleh punya “Me Time”? Lalu untuk apa saya menjalani semua ini kalau saya merasa tidak bahagia?

Kemudian saya pun mencari tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Ternyata harusnya meskipun menjadi ibu rumah tangga, tetap harus memiliki “Me Time” , karena salah satu fungsi “Me Time” adalah untuk me-recharge mood si ibu supaya happy tetap terjaga. Lalu bagaimana dengan jadwal yang super duper sibuk ini, mana ada waktu untuk “Me Time”? Lagi-lagi….seorang ibu rumah tangga itu wajib hukumnya bisa me-manage waktu dengan baik. Apalagi ibu model seperti saya ini, yang nggak pernah bisa ngeliat rumah berantakan. Kalau mau diikutin kan bisa 24 jam kerjanya bersih-bersih terus, nanti ujungnya capek, dan be-te aja.

Karena nggak mau terus-terusan terkungkung dalam situasi yang nge-be-te-in seperti ini, saya pun mulai belajar menata ulang kehidupan saya. Sama seperti ketika saya membuat cake ultah pesanan teman, saya harus me-manage waktu dengan baik agar pekerjaan efisien dan mendapatkan hasil yang bagus. Meskipun seharian saya bekerja di kantor, tengah malam saya tetap bisa membuatkan cake ultah, dan cake tersebut bisa jadi tepat waktu dan bagus hasilnya.

Saya sekarang memiliki “Me Time”, sederhana saja, “Me Time” saya adalah ‘mandi’🙂 . Cukup singkat tapi bisa membuat saya happy, karena ketika saya mandi saya merasa guyuran air membuat saya fresh, belum lagi kalau menggunakan sabun dan shampo yang wangi, kadang-kadang saya sempatkan luluran sendiri, setelah mandi pakai body lotion dan body spray….wah segar sekali rasanya. Saya nggak muluk-muluk deh, untuk “Me Time” yang lain jujur belum bisa saya lakukan, karena jadwal saya tetap padat merayap setiap harinya.

Bagaimana dengan menulis dan membaca? Bukankah hal ini termasuk “Me Time” yang saya sukai juga? Ya, saya memang suka baca dan suka menulis, tapi untuk sekarang sepertinya saya menemukan banyak sekali kendala untuk melakukannya, nggak sempet, nanti kalau saya asyik baca….waktu untuk masak terlewat, kasihan anak-anak harus jadi korban “Me Time” ibunya. Belum lagi kalau laptop lagi rusak saya nggak bisa ngetik, nggak bisa OL. Belum lagi kalau lagi ada buku baru yang sudah lamaaa jadi inceran saya, tapi saat buku itu terbit, eh saya sedang nggak punya uang….bikin be-te. Jadi saya pilih “Me Time” yang paling sederhana aja, yaitu ‘mandi’….murah meriah, asal jangan mati air aja ya!🙂

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s