Obrolan di Dapur

Empat tungku api dari kompor gas sedang menyala, dua diantaranya ditangkringi panci-panci berukuran besar, dan dua lagi sebuah pan kecil berisi makroni yang sedang direbus dan sebuah wajan berwarna hitam berisi minyak panas untuk menggoreng kerupuk.

Meja di tengah dapur penuh dengan ketupat dan baskom besar berisi beras. Sejak subuh berlalu, ruangan dapur menjadi hiruk pikuk. Tangan-tangan cekatan sedang memasukkan beras ke dalam cangkang ketupat.

Dari atap fiber berwarna putih terlihat langit saat itu masih gelap, suhu udara kota Bandung hanya 18C. Namun suasana di dapur Mama terasa hangat, bukan karena Mama menyalakan empat tungku kompor gas, tetapi karena di dapur ini sedang berkumpul empat perempuan yang saling bertukar cerita, melepas rasa rindu satu sama lain.

Anak perempuan Mama ada dua, saya dan adik bungsu saya, sedangkan yang satu lagi adalah adik ipar. Saya sudah empat tahun pindah dari rumah Mama, adik ipar saya tidak tinggal serumah dengan Mama, dan adik bungsu saya setiap harinya sibuk bekerja di luar rumah.

Di penghujung Ramadhan, biasanya kami berkumpul di rumah Mama . Salah satu moment yang saya kangeni adalah suasana di dapur seperti subuh ini. Kami bergotong royong membantu Mama menyiapkan ketupat untuk dikirim ke tetangga dan kerabat. Mama punya kebiasaan setiap menjelang Idul Fitri mengirim ketupat lengkap bersama teman-temannya (opor ayam, balado telor, kering kentang dan kerupuk) untuk tetangga yang beragama non Islam dan para besan.

Di dapur kita saling bertukar cerita tentang apa saja, nggak jarang kita berempat sampai tertawa terkekeh-kekeh. Mulai dari soal resep makanan, tips-tips memasak, soal parenting, kelucuan-kelucuan anak-anak, cerita-cerita tentang kekonyolan kita, semua tumpah di dapur. Mama yang rajin mengikuti kajian Islam dari radio, majelis taklim dan pengajian rutin juga sering mengajarkan kami ilmu-ilmu agama, disampaikannya dengan bahasa yang mudah dicerna dalam obrolan santai seperti ini, tetapi ajaib isinya bisa melekat kuat di kepala kami masing-masing.

Tidak terasa enam paket ketupat lengkap siap dikirim. Sinar matahari sudah mulai terlihat terang menyinari atap fiber di atas dapur. Pekerjaan kami sudah hampir selesai dan ditutup dengan membersihkan perabotan dapur.

2 thoughts on “Obrolan di Dapur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s