Ketika Mama Mertua Memuji Sambel Buatan Ku

Jaman dulu, jauh sebelum saya menikah dengan suami, saya adalah salah satu perempuan yang awam dengan urusan dapur. Saya nggak bisa masak. Eh, sebetulnya sampai sekarang pun saya nggak bisa masak, rutinitas masak saya lakukan karena “terpaksa”, soalnya kalau harus beli terus menerus bisa jebol anggaran rumah tangga kita.

Mama saya sendiri sudah gak tau gimana lagi caranya supaya anak gadisnya ini mau belajar masak. Mungkin Mama akhirnya cuma bisa mendoakan agar anak gadisnya ini suatu hari bisa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Rupanya doa Mama dikabulkan. Saya menikah dan mendapatkan Mama Mertua yang agak-agak cerewet…nah loh!

Sejak menikah, hidup saya berubah 180 derajat. Koreksi, sebetulnya saya yang mengubah gaya hidup saya. Demi menyesuaikan diri dengan suami dan keluarganya. Mereka kurang bisa menerima gaya saya yang cuek bebek. Gak pinter masak, ngurus rumah tangga, anak dan seterusnya.

Berat banget deh penyesuaian di awal-awal menikah itu. UNtungnya suami saya sebetulnya orangnya easy going, dia pribadi sih nggak pernah menuntut saya harus begini atau begitu. Suami saya gak pernah rewel harus dilayanin ini itu, mungkin karena dia terbiasa hidup mandiri. Kalau saya masak dia makan, kalau saya lagi males masak ya udah cari makanan di luar…gampang aja gak ada masalah buat dia. Atau dimasakin telor ceplok sama nasi panas aja suami mah udah pasti seneng dan bakalan melahapnya sampai habis, asyik-asyik aja buat dia.

Tapi nggak demikian dengan keluarganya. Keluarga suami tergolong sangat konservatif. Menurut mereka, yang namanya perempuan itu harus pintar masak, mengurus suami, anak-anak dan rumah. Dan semua itu nggak ada pada diri saya saat itu.

Sebel rasanya pada saat itu, rasanya pulang kantor aja sudah capek banget, ini masih harus dituntut bisa ini-itu…hiks. Titik balik perubahan terjadi pada saat saya mendapatkan teguran langsung dari Mama Mertua. Beliau menegur saya karena saya dianggap tidak becus mengurus rumah tangga.

Setelah ditegur seperti itu rasanya nggak enak sekali, ya malu…ya sebel…campur aduk rasanya. Tapi bukan saya namanya, kalau nggak punya rasa penasaran yang besar. Masa sih apa betul saya nggak bisa ngurus rumah tangga? Masa sih saya nggak bisa masak?

Saya berusaha menanggapi positif teguran dari Mama Mertua, karena tiba-tiba saya teringat nasehat dari Mama saya dulu yang selalu saya abaikan itu. Sejak saat itu saya belajar mengenai urusan perdapuran.

Oke, singkat cerita akhirnya saya sekarang sudah bisa dan mengerti urusan dapur *meskipun rasa masakan saya biasa aja*.

Yang bikin saya surprise, Mama Mertua sering memuji sambel buatan saya di depan saudara dan kerabat kami. Kenapa saya surprise? Karena Mama Mertua saya punya keistimewaan, yaitu lidahnya sangat peka dengan rasa. Jadi kalau beliau makan sesuatu, beliau bisa menebak bumbu apa saja yang dipakai dan takaran bumbunya seberapa. Nah, buat saya yang awam urusan dapur dan nggak punya lidah sepeka lidahnya Mama Mertua, surprise banget kan kalau sambel buatan saya dipuji-puji sama beliau.

Tadinya saya nggak sadar, saya pikir…ah, ini kan bisa-bisanya Mama Mertua aja memuji saya supaya saya semangat belajar masak. Eh, ternyata enggak loh! Setiap kali ada kami berada di tengah-tengah saudara dan kerabat, beliau pasti ngomong ke orang-orang bahwa sambel buatan saya enak.

Terima kasih ya Ma, mungkin kalau dulu Mama nggak menegur saya, nggak mungkin saya bisa bikin sambel yang kata Mama rasanya enak itu.
Ada yang penasaran dengan sambel buatan saya? …hehehe🙂

2 thoughts on “Ketika Mama Mertua Memuji Sambel Buatan Ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s