Tetanggaku Keluargaku

Hidup merantau jauh dari keluarga membuat saya belajar tentang satu hal, yaitu belajar hidup bertetangga.

Aslinya saya kurang suka beramah tamah dengan tetangga, karena saya juga orangnya gak hobby ngerumpi dan nggak terbiasa hidup bertetangga. Nah loh, emang selama ini hidup di hutan sendirian ya?…xixixixi…..

Di Balikpapan ini saya merasakan suka dukanya hidup bertetangga. Sebagai pendatang baru saya merasa kikuk sekali karena dulu kurang bisa bersosialisasi dengan tetangga. Apa boleh buat, sekarang saya hidup merantau jauh dari sanak-saudara mau nggak mau dan suka nggak suka saya harus bisa menyesuaikan diri.

Salah satu cara untuk memupuk keakraban antar tetangga adalah adanya acara arisan komplek. Males banget, karena memang nggak hobby ikut arisan dan males karena harus kumpul-kumpul dengan ibu-ibu, harus ngobrol beramah tamah dengan mereka….bisa-bisa membuat saya tambah kikuk. Tapi nggak enak kalau nggak ikut, nanti pasti dikira sombong dan sebagainya. Akhirnya saya terpaksa ikut arisan komplek.

Rumah dinas yang saya tempati ini halamannya tidak berpagar dan rumah saya menghadap ke jalan umum. Karena tidak ada pagarnya, orang-orang seenaknya berjalan menginjak-injak teras rumah. Apalagi kalau sedang hujan, orang menghindari hujan dengan berjalan di atas teras rumah saya. Tapak sepatu dan sendal penuh tanah becek memenuhi teras rumah kami. Sementara orang-orang cuek saja, nggak peduli kalau teras rumah selalu disapu dan dipeloleh si empunya.

Anak-anak kecil juga sering bermain di teras rumah, sampah bekas makanan dan mainan mereka tinggalkan begitu saja di teras rumah saya. Pekarangan depan rumah pun selain jadi tempat favorit para kucing tetangga untuk buang hajat, juga sering diinjak-injak oleh para tetangga, sehingga tanaman yang saya tanam selalu gagal tumbuh.

Atau sering juga setiap malam di depan rumah saya persis dijadikan tempat kongkow-kongkow para anak muda sampai tengah malam. Kadang-kadang mereka menggelar meja untuk tenis meja persis tepat di depan rumah. Suasana malam di depan rumah ramai mengganggu tidur kami.

Pernah ada tetangga yang protes karena pohon jambu di pekarangan belakang rumah daunnya mengganggu dan minta segera ditebang. Padahal saya sengaja tidak menebang pohon jambu yang daunnya memang lebat itu dengan alasan supaya rumah kami agak teduh tidak terlalu panas.

Tentunya hal-hal tersebut sangat menjengkelkan kami sekeluarga. Mau protes, nggak enak karena tetangga dekat. Kami pun memilih untuk mengalah dan berusaha menjalin hubungan baik dengan mereka.

Hal yang nggak kami sangka sebelumnya pun datang menghampiri. Ketika suami sedang dinas keluar kota, tinggal saya bertiga dengan anak-anak di rumah. Tadi siang pulang nganter anak-anak ke mesjid saya parkir mobil di depan rumah. Saya kurang hati-hati sehingga ban mobil saya masuk parit. Perasaan bingung dan panik langsung menyergap…bagaimana ini suami sedang berada jauh di luar pulau pula. Tiba-tiba ibu tetangga depan rumah langsung datang menghampiri berusaha mencari bantuan untuk saya. Selesai shalat jumat, bapak-bapak sudah pulang ke rumah, langsung bergotong royong membantu saya mengeluarkan ban mobil dari parit. Alhamdulillah….beruntung para tetangga sigap memberikan bantuannya, coba kalau enggak…mungkin sekarang mobil saya masih masuk parit.

Kalau saya mudik ke Bandung, tetangga saya dengan senang hati membantu menjaga rumah, Atau kalau saya sedang butuh bantuan menjaga anak-anak, tetangga saya akan senang hati juga membantu saya menjagakan anak-anak. Saya juga menerima lungsuran soal-soal dan buku-buku sekolah untuk anak-anak. Belum lagi kalau ada yang bikin masakan saya juga suka kebagian mencicipi.

Saking perhatiannya, tetangga saya suka panik kalau kami sekeluarga malam-malam keluar rumah pakai mobil. Mereka menyangka kami pergi ke rumah sakit (karena dulu saya pernah tengah malam ke UGD).

Meskipun jarak saya dan keluarga ribuan kilo meter dan dipisahkan oleh lautan, tetapi saya tidak merasa kesusahan di sini. Karena di sini saya memiliki keluarga baru, yaitu tetangga-tetangga saya. Ya, kini tetanggaku adalah keluargaku.

Apapun yang terjadi, kami harus saling memahami satu sama lain. Kalaupun ada hal-hal yang sangat mengganggu, saya dan suami berusaha mencari jalan keluar yang baik-baik.

Mengambil hikmah dari kisahnya Imam Hasan al-Bashri :

Salah satu kisah dari buku Di Atas Sajadah Cinta, Habiburrahman El Shirazy, Republika-Basmala-MD, Mei 2007.

Imam Hasan Al Bashri adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di kota Basrah, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Beliau juga dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat kecil.

Imam Hasan Al Bashri memiliki seorang tetangga nasrani. Tetangganya ini memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan Al Bashri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Beliau menyuruh istrinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam Hasan Al Bashri tidak membicarakan atau memberitahukan hal itu kepada tetangganya sama sekali. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Suatu hari Imam Hasan Al Bashri sakit. Tetangganya yang nasrani itu datang ke rumahnya menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Tetangganya itu langsung mengerti bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Dan yang membuatnya bertambah heran kenapa Imam Hasan Al Bashri tidak bilang padanya.

“Imam, sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini ?” tanya Si Tetangga.

Imam Hasan Al Bashri diam tidak menjawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak. Namun …

“Imam, katakanlah dengan jujur sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ? Jika tidak kau katakan maka kami akan sangat tidak enak,” desak tetangganya.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu,” jawab Imam Hasan Al Bashri dengan suara parau.

“Kenapa kau tidak memberitahuku ?”

“Nabi mengajarkan untuk memuliakan tetangga, belaiu bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya !” (SayyidahDjauharMuthafiah)

 

 

 

 

3 thoughts on “Tetanggaku Keluargaku

  1. Pingback: Belajar Dari “Ibu Kucing” | Coretan IraI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s