20

Notebook Tipis Asyik Diajak Mobile Dan Online

(gambar diambil dari : www.acerid.com)

(gambar diambil dari : http://www.acerid.com)

Hidup di jaman serba canggih seperti sekarang ini, kebutuhan online bukan hanya didominasi oleh para pelajar, mahasiswa atau pekerja kantoran semata. Emak-emak seperti saya juga nggak mau ketinggalan loh! Karena ada banyak manfaat positif bagi kehidupan yang dapat saya ambil ketika online dan berselancar di dunia maya. Saya berkenalan dengan dunia online di internet sejak tahun 2000 ketika saya mulai bekerja. Tetapi baru benar-benar eksis sekitar akhir 2006, yaitu ketika saya memiliki blog pribadi. Sejak memiliki blog pribadi saya bertemu dengan teman-teman dari dunia maya, kami saling mengunjungi atau istilah kerennya ‘blogwalking’ dan tak jarang sampai janjian untuk bertemu alias ‘kopi darat’ atau disingkat ‘kopdar’.

Gara-gara online ini juga saya yang tadinya nggak bisa masak jadi bisa masak plus bikin kue dan menerima pesanan kue….ho…ho…ho… Yup, saya bergabung di beberapa milis klub masak dan sampai saat ini saya masih menjadi anggota meskipun sekarang hanya jadi anggota pasif. Dan lagi-lagi gara-gara online di internet, saya bertemu dengan seorang teman dunia maya yang ‘menyeret’ saya untuk nyemplung di milis kesehatan anak. Dua hal yaitu dunia dapur dan dunia kesehatan anak ini yang banyak sekali memepengaruhi kehidupan saya dan keluarga. Tentunya perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Memang sih pada dasarnya saya itu senang belajar. Dan yang namanya belajar dari internet itu terasa lebih praktis serta fleskibel buat saya. Sehingga sampai sekarang tidak hanya urusan dapur dan kesehatan saja yang menjadi perhatian saya, tatapi saya pun mendalami beberapa hobby saya dengan mendapatkan informasi melalui internet, contohnya menulis, membaca,crochet dan masih banyak lagi yang saat ini menghiasi hari-hari saya sebagai emak yang setiap hari menunggu anak di sekolah.

Hal ini pada akhirnya membuat saya setiap hari harus online. Karena saya ingin belajar setiap hari untuk mengisi waktu luang saya yang ada. Sayang sekali rasanya kalau setiap hari di sekolah sekian jam menghabiskan waktu hanya dengan ngobrol ngalor ngidul nggak jelas juntrungannya atau cuma dipakai untuk arisan di sana-sini. Online itu nggak selalu negatif kok, bagaimana kita menyikapinya. Dapat menjadi positif jika dilakukan pada saat yang tepat, seperti yang saya lakukan yaitu ketika sedang menunggu anak di sekolah. Dan ketika kegiatan online yang dilakukan pun dapat membawa perubahan hidup kita kearah positif sehingga hidup kita lebih berkualitas dan lebih baik lagi.

Jadi, karena saya ingin mengisi hidup saya dengan hal-hal positif dan tidak mau membuang-buang waktu dengan hal-hal yang sia-sia, saya setiap hari harus online sesuai dengan jadwal yang telah saya tentukan. Jika harus online, maka media untuk online pun harus tersedia. Saat ini untuk online memang tersedia berbagai macam gadget, mulai dari handphone pintar sampai notebook.

Saya lebih memilih notebook untuk media online, karena notebook memiliki fitur yang lebih lengkap dibandingkan handphone pintar. Dan untuk saya yang sangat mobile ini, kebutuhan akan notebook ringan dan tipis mutlak saya dapatkan. Tentu saja harus tipis, karena kegiatan saya setiap hari 80% berada di luar rumah. Saya harus membawa sesuatu yang lebih ringkas dan harus ringan serta memiliki fitur yang lengkap. Yah namanya juga emak-emak ya…..pengennya untung, nggak mau rugi…hehehe.

Kalau bisa membawa notebook yang bentuknya lebih tipis itu bakalan menyenangkan sekali. Saya cukup membawa tas yang ukurannya tidak terlalu besar . Bisa saya bawa kemana-mana, praktis. Tinggal mencari tempat yang ada wi-finya, saya sudah bisa online.

Jika dihubungkan dengan menjaga kesehatan tulang belakang, maka pilihan menggunakan notebook tipis ini sangatlah menunjang untuk menjaga kesehatan tulang belakang. Penyebab gangguan tulang belakang antara lain gangguan otot, tulang yang hancur, bantalan yang rusak, gangguan pada sendi dan lain sebagainya. Faktor resiko yang harus diwaspadai salah satunya adalah ketika mengangkat beban berat berulang kali. Selain faktor-faktor yang lain seperti aktivitas gerak dan postur tubuh. Wah…harus hati-hati ini, jangan sampai karena ingin online dan mobile kesehatan tulang belakang kita terabaikan. Jadi agak riskan ya jika harus membawa tas berat yang berisi notebook kemana-mana. Oleh karena itu pilihannya adalah membawa notebook yang lebih tipis dan ringan namun dengan fitur yang lengkap untuk menunjang aktivitas mobile dan online kita.

Untuk itulah Acer mengeluarkan produk yang sangat mengerti akan kebutuhan kita sebagai emak gaul yang kerap kali online dan mobile. Produk keluaran Acer ini adalah Acer E1 Sllim series.
Notebook yang memiliki keunggulan yaitu bentuknya yang lebih tipis 30% dari pada notebook lainnya.

Meskipun tipis, namun notebook yang satu ini tidak kalah fiturnya dengan notebook lain. Tipis tidak berarti menanggalkan fitur-fitur yang harus dimiliki oleh sebuah notebook yang pas sekali untuk digunakan mobile dan online.

Maksudnya bagaimana sih? Begini loh, monitor Acer E1 Sllim series menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px yang memadai untuk kebutuhan office basic, browsing, multimedia, bahkan untuk bermain game.

Yang tidak kalah menariknya adalah biasanya notebook jaman sekarang jika dilengkapi dengan optical drive DVD-RW pasti bentuknya lebih tebal dan berat. Ternyata produk baru dari Acer E1 Sllim series ini dilengkapi dengan optical drive DVD-RW namun bentuknya tetap langsing, tidak perlu repot-repot lagi membawa DVD-RW external.

Untuk kebutuhan online pun tidak usah khawatir karena Acer E1-432 Sllim series menyertakan satu buah port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa memerlukan converter apapun, dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar ke dunia maya menggunakan jaringan hotspot yang tersedia disekitar kita.

Penggunaan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Artinya si notebook langsing ini bisa bekerja secara efisien dengan menggunakan energi yang cukup hemat.

Lalu bagaimana dengan performa baterainya? Untuk emak yang aktivitasnya mobile seperti saya urusan baterai sangat-sangat penting, karena tidak semua tempat menyediakan colokan listrik untuk mencharger notebook. Acer E1-432 Sllim series menggunakan baterai dengan kapasitas 2500 mAh sehingga dapat bertahan hingga 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD), dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game.

Oh iya, ada lagi nih kehebatan si tipis nan keren ini, yaitu Acer E1-432 Sllim series dilengkapi satu buah VGA port yang untuk keperluan presentasi menggunakan proyektor, dan juga sebuah HDMI port yang akan sangat berguna untuk menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar untuk pengalaman multimedia yang lebih maksimal.

Selain itu, Acer Acer E1-432 Sllim series juga menyertakan sebuah Webcam HD untuk keperluan melakukan streaming, video chatting.

Duh…duh…duh…..keren banget nggak sih si tipis nan hebat ini Acer E1-432 Sllim series. Semuanya lengkap-kap, memenuhi semua kebutuhan online untuk si emak yang mobile .Dan…pssst….harganya pun tipis setipis bentuknya…hehehe…. Iya, jangan khawatir harganya terjangkau kok. Benar-benar deh si Acer E1-432 Sllim series adalah notebook impian semua emak yang mobile dan ingin eksis di dunia maya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

10

Notebook Ku Sahabat Ku Menunggu Buah Hati Di Sekolah

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh para ibu yang mempunyai titel sebagai ibu rumah tangga alias yang tidak bekerja di kantor. Menurut saya ibu rumah tangga tidak harus terpaku dengan urusan domestik rumah tangga semata yang mengikatnya selama 24 jam. Bertapa membosankannya jika harus demikian, apalagi pekerjaan rumah tangga itu tidak pernah ada habisnya. Terutama bagi ibu seperti saya yang pernah bekerja di kantor, ketika memutuskan untuk keluar dari perusahaan saya sempat dilanda rasa bosan dan lelah menghadapi rutinitas saya yang itu-itu saja di rumah.

Rasa bosan dan lelah yang saya alami pada awal menjalani sebagai ibu rumah tangga berdampak negatif terhadap suami dan anak-anak saya. Saya menjadi mudah marah dan sensitif. Tentu saja jika saya diamkan berlarut-larut tidak baik bagi perkembangan psikologis kedua anak saya dan bagi kelangsungan kehidupan rumah tangga. Saya pun mencari cara untuk keluar dari masalah ini. Saya berdiskusi panjang lebar dengan suami dan salah satu jalan keluarnya adalah dengan memberi saya kesempatan untuk menekuni hobby saya. Hobby saya adalah menulis , membuat kerajinan crochet, olah raga dan aktif di berbagai komunitas serta organisasi dharma wanita.

Saat ini kegiatan saya sehari-hari adalah mengantar dan menunggu anak-anak di sekolah sejak pagi sampai lewat tengah hari. Sepertinya kurang kerjaan sekali ya, buat apa menunggu anak di sekolah? Hehe, jangan berburuk sangka dulu. Hal ini saya lakukan karena jarak rumah dengan sekolah anak saya cukup jauh, sehingga untuk menghemat waktu dan konsumsi bahan bakar minyak untuk mobil yang kami kendarai setiap hari, saya memutuskan untuk menunggu mereka seharian di sekolah setiap hari dari Senin sanpai Jumat.

Siapa bilang ibu-ibu yang menunggu di sekolah itu pekerjaannya cuma ngerumpi dan arisan? Saya tidak demikian, saya berusaha mengisi waktu luang yang ada ketika menunggu anak-anak di sekolah dengan berbagai kegiatan. Apalagi setelah saya bergabung dengan komunitas Kumpulan Emak Blogger atau KEB. Di komunitas KEB saya bertemu dengan Emak-Emak hebat dari penjuru tanah air dan dunia. Emak-Emak yang kreatif, berprestasi dan banyak sekali ilmu yang disharing dari tulisan-tulisan Emak-Emak ini. Membuat saya semakin termotivasi untuk berkarya.

Saya mengisi hari-hari panjang di sekolah sejak pukul 7.00 sampai 14.00 dengan berbagai kegiatan. Jadwal saya cukup sibuk, hari Senin-Rabu-Jumat jadwal senam aerobik di sanggar senam yang letaknya sangat dekat dengan sekolah. Hari Selasa waktunya mengikuti pengajian umum di mesjid dekat sekolah. Sisanya saya gunakan untuk menulis, membuat kerajinan crochet, atau mengerjakan beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan saya di komunitas dan organisasi dharma wanita. Semuanya saya kerjakan di sekolah anak-anak sambil menunggui mereka.

Untuk beraktivitas sebanyak itu setiap hari di luar rumah saya membawa berbagai macam perlengkapan yang saya simpan di dalam mobil saya. Ada beberapa tas yang isinya perlengkapan senam, baju ganti anak-anak, mukena, perlengkapan mengaji, bekal makan siang, tas untuk menyimpan perlengkapan crochet, dan notebook. Bayangkan bertapa ribetnya saya setiap hari membawa begitu banyak tas.

Berkaitan dengan hobby saya di bidang tulis menulis dan posisi saya sebagai pengurus organisasi dharma wanita, keberadaan notebook amat sangat saya butuhkan untuk menuangkan ide-ide saya dalam bentuk tulisan dan untuk membuat berbagai laporan. Jaman canggih seperti sekarang ini meeting pun sudah lazim dilakukan memelalui skype atau fasilitas messanger dari internet. Jika tidak ada notebook saya harus bolak-balik pergi ke warnet yang kebetulan jaraknya agak jauh dari sekolah anak-anak. Ah, ribet sekali rasanya kalau jalan kaki panas dan jauh, kalau harus membawa mobil susah mencari tempat parkirnya. Mau tidak mau saya harus membawa notebook ke sekolah setiap hari.

Notebook yang sesuai dengan aktivitas saya sehari-hari yang terutama adalah fiturnya lengkap,baterainya harus tahan lama dan bentuknya langsing. Karena saya seharian berada di luar rumah, tepatnya di bangku kayu di sekolah yang disediakan oleh pihak sekolah sebagai tempat duduk ibu-ibu yang menunggu anaknya sekolah. Yes, itu ‘kantor’ saya setiap Senin sampai Jumat pk 07.00-14.00.

Di gasebo sekolah hanya tersedia bangku-bangku kayu, tidak ada colokan listrik untuk men-charger baterai notebook atau hanya sekedar men-charger hand phone, pokoknya minim fasilitas. Dan supaya saya tidak membawa banyak tas perintilan atau kalau pun membawa satu buah tas besar, tas saya tidak menggelembung terlalu besar yang akan mengakibatkan tasnya cepat rusak karena mambawa berbagai macam bawaan, maka saya harus memiliki notebook yang ukurannya slim alias langsing.

Kebetulan saat ini Acer telah meluncurkan produk terbarunya, yaitu Acer E1 Sllim series. Acer Aspire E1-432 adalah jawaban bagi spAcer yang menginginkan notebook dengan fitur esensial yang lengkap namun dengan form factor yang lebih bersahabat untuk para pengguna dengan mobile. Acer Aspire E1-432 menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px yang memadai untuk kebutuhan office basic, browsing, multimedia, bahkan untuk bermain game sekalipun. Jika pada umumnya notebook berukuran layar 14” yang dilengkapi optical drive/DVD-RW memiliki dimensi yang cukup tebal, lain halnya dengan Aspire E1-432 yang didesain khusus oleh Acer dengan ketebalan sekitar 25.3 mm saja. Jika dibandingkan dengan notebook konvensional lainnya, Acer Aspire E1-432 memiliki dimensi 30% lebih tipis!

Monitor Acer E1 Sllim series menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px yang memadai untuk kebutuhan office basic, browsing, multimedia, bahkan untuk bermain game. Wow, asyik nih aman untuk main game juga .

Yang tidak kalah menariknya adalah biasanya notebook jaman sekarang jika dilengkapi dengan optical drive DVD-RW pasti bentuknya lebih tebal dan berat. Ternyata produk baru dari Acer E1 Sllim series ini dilengkapi dengan optical drive DVD-RW namun bentuknya tetap langsing, tidak perlu repot-repot lagi membawa DVD-RW external.

Apalagi Acer E1-432 Sllim series memiliki tiga buah port USB yang salah satunya menggunakan USB 3.0 yang akan mentransfer data 10x lipat lebih kencang….wushh…wushh…wushh…. cocok banget buat saya yang harus menyimpan dan mengolah data. Ada juga card reader yang bisa membaca memori SD Card dan MMC yang bisa digunakan pada kamera, pas buat seorang Emak-Emak blogger seperti saya karena akan semakin mudah untuk mengupload foto-foto liputan.

Belum lagi bagian display output, Apalagi Acer E1-432 Sllim series dilengkapi satu buah VGA port yang untuk keperluan presentasi menggunakan proyektor, dan juga sebuah HDMI port yang akan sangat berguna untuk menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar untuk pengalaman multimedia yang lebih maksimal. Ini penting karena di kepengurusan organisasi dharma wanita sering mengadakan presentasi kegiatan maupun acara-acara seminar. Acer juga menyertakan sebuah Webcam HD untuk keperluan melakukan streaming, video chatting. Jadi meskipun mobile tetap bisa melakukan meeting dengan rekan-rekan pengurus organisasi.

Kebutuhan online saat ini sangatlah tinggi, diantaranya untuk mengirimkan laporan atau sekedar mencari pattern model baru untuk membuat kerajinan crochet atau juga mencari resep masakan. Urusan konektivitas ke dunia maya menjadi penting sekali. Nah Acer E1-432 Sllim series menyertakan satu buah port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa memerlukan converter apapun, dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar ke dunia maya menggunakan jaringan hotspot yang tersedia disekitar kita.

Notebook ini menggunakan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Artinya si notebook langsing ini bisa bekerja secara efisien dengan menggunakan energi yang cukup hemat.

Satu lagi keunggulan Acer E1-432 Sllim series adalah baterai yang tahan lama. Menggunakan baterai dengan kapasitas 2500 mAh sehingga dapat bertahan hingga 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD), dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game. Keren abis !

Kesimpulannya, produk Acer E1-432 Sllim series sangat cocok untuk orang yang mobile seperti saya. Meskipun memiliki bentuk yang 30% lebih tipis, namun tidak menghilangkan fitur-fitur yang penting. Tipis tapi bermutu tinggi dengan harga yang terjangkau. Dan tentu saja dengan kelebihan dari notebook tipis ini sangat menunjang berbagai aktivitas saya sehari-hari.

(gambar diambil dari : www.acerid.com)

(gambar diambil dari : http://www.acerid.com)

(gambar diambil dari : www.acerid.com)

(gambar diambil dari : http://www.acerid.com)

ACER3

(gambar diambil dari : http://www.acerid.com)

(gambar diambil dari : www.acerid.com)

(gambar diambil dari : http://www.acerid.com)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

6

Kemana Saja?

Kemana saja aku selama ini?
Lama nggak menyambangi dunia maya.
Blog ini pun sepi selama berhari-hari lamanya.
Blog sahabat pun tak sempat disambangi.

=> Kesibukan di dunia nyata.
=> Pulsa internet habis.
=> Dan sedang mempelajari hal baru.

Baiklah, aku mulai lagi ya..

0

Obrolan Seputar Pemilukada Kaltim 2013

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

 

10 September 2013 yang lalu, Propinsi Kalimantan Timur mengadakan Pemilukada untuk memilih gubernur dan wakil gubernur.

Berikut obrolan Pemilukada versi anak-anakku :

(percakapan terjadi dalam perjalanan pulang dari sekolah)

Naufal : “Bu, kata guruku besok hari selasa aku libur, mau ada pemilihan gubernur ”
Raditya : “Aku juga libur kata bu guru.”
Naufal : “Gubernur itu kepala daerah di propinsi ya Bu?”
Me : “Iya betul.” (jawbku sambil memegang kemudi)
Naufal : “Bosnya gubernur itu presiden kan Bu?”
Me : “Yup. Eh, anak-anak Ibu siapa yang mau jadi gubernur nanti kalau sudah besar?”
Naufal : “Aku mau jadi gubernur Bu!”
Raditya : “Aku mau jadi presiden aja Bu!”
Naufal : “Ade mah jadi Bupati aja!”
Raditya : “Iiiih….gak mau ah, aku ga mau jadi Bupati.”
Naufal : “Ga apa-apa, kamu jadi Bupati aja ya!” (maksa.com)
Raditya : “Aku kan laki-laki masa disuruh jadi perempuan.”
Naufal : “Hah? Siapa yang nyuruh kamu ajdi perempuan?”
Raditya : “Kenapa aku harus jadi Bupati? Aku nggak mau jadi ibu-ibu!”
Me & Naufal : (ngakak ketawa bareng)
Naufal : “Kalo Papati itu nggak ada De, adanya Bupati. Bupati itu bukan jadi ibu-ibu.” (Naufal bersaha menjelaskan ke Radit)
Raditnya : “Nggak mau ah, aku nggak mau jadi ibu-ibu, pokoknya nggak mau jadi Bupati!”

4

Oh Yes, I Love Monday!

Hari Senin kemarin tetangga kasih info kabarnya ada perbaikan PDAM, kemungkinan akan ada mati air selama 24 jam mulai pukul 19.00 wita. Seperti biasa seharian saya beraktivitas di luar rumah *gayanyaaa….* Mendengar informasi akan ada mati air membuat saya tersenyum kecut, berarti kesempatan saya untuk menampung air cuma sedikit. Belum harus mencuci kotak makan anak-anak dan suami, nyuci baju, masak…..semua membutuhkan air. Parahnya sore itu saya berjanji mengantar anak-anak ekskul berenang…artinya saya baru bisa mengerjakan ini itu nanti ketika magrib, padahal kabarnya pukul 19.00 air akan mati….hu…hu…hu….

Pulang anak-anak sekolah saya nyupirnya ngebut menuju ke rumah. Sampai rumah anak-anak saya suruh belajar dan mengisi PR, sementara saya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan di ‘belakang’. Mencuci peralatan bekal anak-anak, merendam baju seragam anak-anak…lalu saya cuci dan keringkan, masak nasi, ah…untung tadi di kantin sekolah saya membeli sayur matang dan lauknya ikan tongkol bumbu bali, berarti nggak usah masak, untuk anak-anak tinggal bikin dadar telor dan nggak boleh lupa menampung air….oke sipp.

Bekerja hanya dalam waktu 1 jam saja, termasuk membereskan perlangkapan berenang anak-anak…rasanya gedabrutan, tapi alhamdulillah beres semua. Pukul 16.00 saya dan anak-anak meniggalkan rumah dalam keadaan ‘siap tempur’.

Menurut informasi dari guru piket di sekolah, ekskul berenang akan diadakan di kolam berenang Hotel Benakutai. Saya dan anak-anak pun menyambangi tempat tersebut. Temannya Naufal yang datang baru dua orang. Sambil menunggu pak guru datang anak-anak nyebur ke kolam.

Tiga puluh menit berselang…aneh kok Pak Guru Olah Raga nggak muncul-muncul ya? Anak-anak pun bertanya hal yang sama. Sampai tiba-tiba hp saya berbunyi…telpon dari Teh Fuji Mamanya Nayla :
“Ira…dimana?”
“Teteh dimana?”
“Ini sudah di parkiran.”
“Oh syukur atuh, saya sudah di dalam….langsung masuk aja Teh.”
“Pak Guru Olah Raganya udah datang?”
“Belum Teh, ini kita juga lagi nungguin.”
“Loh…kata penjaga kolam Pak Gurunya memang gak datang ke sini.”
“Hah? Ya udah Teteh masuk aja dulu, saya udah di dalam nih dari tadi…anak-anak juga udah nyebur ke kolam.”
“Eh…tunggu, emang Ira lagi dimana sih? kok mobilnya gak keliatan di parkiran?”
“Saya udah di dalam Teteh….di Benakutai.”
“Yeee….jauh amat!! Teteh mah sekarang sedang ada di Kolam Wisma Patra!!!”
“Hah???”
Saya kaget bukan kepalang, ternyata Teh Fuji berada di kolam yang berbeda dengan saya.
“Loh, kok di Wisma Patra…kan katanya berenangnya di Benakutai?”
“Teteh tadi siang dapat info katanya berenang di Wisma Patra, tapi udah nyampe sini kolamnya sepi, Pak Guru Olah Raga juga nggak ada, nggak dateng kata penjaga kolamnya.”
“Waduh…di sini juga sampe jam segini Pak Guru belom datang juga Teh, padahal dari tadi udah ditungguin sama anak-anak.”
“Loh…jadi sebenernya berenangnya dimana sih?”
“Heuheu….kagak tau Teh. Coba atuh Teteh turun dan ngecek ke kolam berenang Banua Patra…siapa tau ada di sana, tadi sempat denger sekilas dari ibu-ibu yang nunggu di sekolah.”
“Oke…Teteh ke Banua Patra ya sekarang, nanti Teteh kabari lagi.”
“Okeee”

What??? Salah kolam? Hadeuhh….-____-”

Sepuluh menit kemudian.
“Haloo Ra…”
“Iya Teh.”
” Ini Teteh sudah ada di Banua Patra, ternyata Pak Guru ada di sini. Anak-anak juga banyak yang datang ke sini.”
“He??…jadi berenangnya disana ya? Duh, gimana donk ini anak-anak udah terlanjur nyebur di Benakutai?”
“Suruh naik aja, ajak pindah ke sini! Teteh tunggu yaaa.”
“Heuuu….oke Teh…”

Telepon ditutup.

“Anak-anak….ternyata ekskulnya di Banua Patra, bukan di sini….ayooo naik, kita pindah kolam!”

Anak-anak langsung naik ke daratan, pake handuk ponco, dikeringkan seadanya, lalu lari ke luar area kolam menuju mobil. Saya pun langsung tancap gas menuju kolam berenang Banua Patra *sigh*.

Untungnya ini kota Balikpapan, kota dimana nyaris nggak ada yang namanya mecet. Menuju kolam berenang Banua Patra hanya memerlukan waktu lima menit.

Setibanya di Banua Patra, anak-anak langsung masuk area kolam. Ini adalah pertama kalinya kami masuk kolam Banua Patra, kolam milik perusahaan minyak Pertamina yang letaknya di pinggir pantai.

Surprise, karena viewnya adalah laut…wow keren! Kolamnya sudah berumur dan bentuknya sudah uzur mungkinpeninggalan jaman Belanda.

Setelah absen, anak-anak langsung nyebur ke kolam. Sementara saya akhirnya bertemu dengan Teh Fuji. Kami duduk di ujung kolam dekat dengan pantai. Duduk-duduk sambil ngobrol ditemani deburan ombak sore hari dan desiran angin yang cukup kencang. Teh Fuji membawa bekal sekotak cemilan berisi bala-bala dan pisang goreng, begitu ditawari…langsung saya comot tanpa malu-malu. Jujur….laper bo!!! Dan saya lupa membawa bekal makanan….hehehehe…..

Asyik banget sore itu sambil nyeruput teh manis hangat, dengan cemilan bala-bala dan pisang goreng, saya dan Teh Fuji santai ngobrol ngalor ngidul ber’hahahihi’ sejenak melupakan kepenatan yang terjadi hari itu.

Nggak terasa sudah pukul 18.00, waktunya anak-anak mandi. Setelah mandi, kita bubar jalan pulang ke rumah masing-masing. KOlam pun mulai sepi ditinggalkan pengunjungnya seiring dengan langit senja yang mulai memenuhi pinggiran pantai.

Setibanya di rumah, kita langsung shalat magrib. Beres shalat, anak-anak makan, saya dan Pak Suami sibuk di belakang….Pak Suami nyuci mobil, saya nyuci baju dan perabotan makan dan tak lupa menampung air yang debitnya mulai mengecil. Dasar memang suami-istri yang satu ini sok rajin…hehehe….

Selesai pekerjaan di belakang….kami pun berkumpul di kamar menemani anak-anak belajar….akhirnya…bisa selonjoran…alhamdulillah :)

Kolam Berenang Banua Patra Balikpapan

image1766

2

Helo September :)

Pagi ini langit di kota Balikpapan gelap karena ditutupi oleh mendung yang sangat tebal dan diguyur hujan sejak subuh tadi.

Anak-anak sejak pagi sudah siap berangkat sekolah. Mereka terutama Radit nggak mau terlambat datang ke sekolah.

Karena langit masih gelap, Radit sempat bertanya “Bu, ini masih malam, kok kita sudah mau berangkat sekolah sih?”….hehehe…iya, langitnya masih gelap, tapi sebenarnya sudah pukul 06.30 mataharinya nyumput di balik awan gelap.

Sepanjang jalan mobil yang lalu lalang di jalanan menyalakan lampu kecil. Hujan masih turun membasahi kota. Angin bertiup agak kencang membuat suhu udara pagi menjadi sejuk.

Di gerbang sekolah, anak-anak turun dari mobil dan motor berlarian menuju kelas. Meskipun hujan, anak-anak tetap semangat sekolah. Ah, senangnya melihat anak-anak semangat seperti itu.

Iih…nggak terasa sudah masuk bulan September, berarti genap dua tahun kita sekeluarga tinggal di Balikpapan. Betul-betul nggak terasa karena setiap hari disibukkan dengan kegiatan sekolah anak-anak, dari pagi sampai sore.

Jadi ingat sebuah percakapan di warung depan rumah dua tahun yang lalu ketika baru pindah ke Balikpapan.
Me : “Bu beli telor sekilo, berapa harganya?”
Ibu Warung : “Gak jual kiloan Mbak, disini jual telor per butir. Satu butir seribu lima ratus rupiah”
Me : “Owhhh……” (baru tau kalo beli telor di sini dijual per butir bukan kiloan…:))

Selamat datang bulan September :)

2

Tetanggaku Keluargaku

Hidup merantau jauh dari keluarga membuat saya belajar tentang satu hal, yaitu belajar hidup bertetangga.

Aslinya saya kurang suka beramah tamah dengan tetangga, karena saya juga orangnya gak hobby ngerumpi dan nggak terbiasa hidup bertetangga. Nah loh, emang selama ini hidup di hutan sendirian ya?…xixixixi…..

Di Balikpapan ini saya merasakan suka dukanya hidup bertetangga. Sebagai pendatang baru saya merasa kikuk sekali karena dulu kurang bisa bersosialisasi dengan tetangga. Apa boleh buat, sekarang saya hidup merantau jauh dari sanak-saudara mau nggak mau dan suka nggak suka saya harus bisa menyesuaikan diri.

Salah satu cara untuk memupuk keakraban antar tetangga adalah adanya acara arisan komplek. Males banget, karena memang nggak hobby ikut arisan dan males karena harus kumpul-kumpul dengan ibu-ibu, harus ngobrol beramah tamah dengan mereka….bisa-bisa membuat saya tambah kikuk. Tapi nggak enak kalau nggak ikut, nanti pasti dikira sombong dan sebagainya. Akhirnya saya terpaksa ikut arisan komplek.

Rumah dinas yang saya tempati ini halamannya tidak berpagar dan rumah saya menghadap ke jalan umum. Karena tidak ada pagarnya, orang-orang seenaknya berjalan menginjak-injak teras rumah. Apalagi kalau sedang hujan, orang menghindari hujan dengan berjalan di atas teras rumah saya. Tapak sepatu dan sendal penuh tanah becek memenuhi teras rumah kami. Sementara orang-orang cuek saja, nggak peduli kalau teras rumah selalu disapu dan dipeloleh si empunya.

Anak-anak kecil juga sering bermain di teras rumah, sampah bekas makanan dan mainan mereka tinggalkan begitu saja di teras rumah saya. Pekarangan depan rumah pun selain jadi tempat favorit para kucing tetangga untuk buang hajat, juga sering diinjak-injak oleh para tetangga, sehingga tanaman yang saya tanam selalu gagal tumbuh.

Atau sering juga setiap malam di depan rumah saya persis dijadikan tempat kongkow-kongkow para anak muda sampai tengah malam. Kadang-kadang mereka menggelar meja untuk tenis meja persis tepat di depan rumah. Suasana malam di depan rumah ramai mengganggu tidur kami.

Pernah ada tetangga yang protes karena pohon jambu di pekarangan belakang rumah daunnya mengganggu dan minta segera ditebang. Padahal saya sengaja tidak menebang pohon jambu yang daunnya memang lebat itu dengan alasan supaya rumah kami agak teduh tidak terlalu panas.

Tentunya hal-hal tersebut sangat menjengkelkan kami sekeluarga. Mau protes, nggak enak karena tetangga dekat. Kami pun memilih untuk mengalah dan berusaha menjalin hubungan baik dengan mereka.

Hal yang nggak kami sangka sebelumnya pun datang menghampiri. Ketika suami sedang dinas keluar kota, tinggal saya bertiga dengan anak-anak di rumah. Tadi siang pulang nganter anak-anak ke mesjid saya parkir mobil di depan rumah. Saya kurang hati-hati sehingga ban mobil saya masuk parit. Perasaan bingung dan panik langsung menyergap…bagaimana ini suami sedang berada jauh di luar pulau pula. Tiba-tiba ibu tetangga depan rumah langsung datang menghampiri berusaha mencari bantuan untuk saya. Selesai shalat jumat, bapak-bapak sudah pulang ke rumah, langsung bergotong royong membantu saya mengeluarkan ban mobil dari parit. Alhamdulillah….beruntung para tetangga sigap memberikan bantuannya, coba kalau enggak…mungkin sekarang mobil saya masih masuk parit.

Kalau saya mudik ke Bandung, tetangga saya dengan senang hati membantu menjaga rumah, Atau kalau saya sedang butuh bantuan menjaga anak-anak, tetangga saya akan senang hati juga membantu saya menjagakan anak-anak. Saya juga menerima lungsuran soal-soal dan buku-buku sekolah untuk anak-anak. Belum lagi kalau ada yang bikin masakan saya juga suka kebagian mencicipi.

Saking perhatiannya, tetangga saya suka panik kalau kami sekeluarga malam-malam keluar rumah pakai mobil. Mereka menyangka kami pergi ke rumah sakit (karena dulu saya pernah tengah malam ke UGD).

Meskipun jarak saya dan keluarga ribuan kilo meter dan dipisahkan oleh lautan, tetapi saya tidak merasa kesusahan di sini. Karena di sini saya memiliki keluarga baru, yaitu tetangga-tetangga saya. Ya, kini tetanggaku adalah keluargaku.

Apapun yang terjadi, kami harus saling memahami satu sama lain. Kalaupun ada hal-hal yang sangat mengganggu, saya dan suami berusaha mencari jalan keluar yang baik-baik.

Mengambil hikmah dari kisahnya Imam Hasan al-Bashri :

Salah satu kisah dari buku Di Atas Sajadah Cinta, Habiburrahman El Shirazy, Republika-Basmala-MD, Mei 2007.

Imam Hasan Al Bashri adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di kota Basrah, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Beliau juga dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat kecil.

Imam Hasan Al Bashri memiliki seorang tetangga nasrani. Tetangganya ini memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan Al Bashri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Beliau menyuruh istrinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam Hasan Al Bashri tidak membicarakan atau memberitahukan hal itu kepada tetangganya sama sekali. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Suatu hari Imam Hasan Al Bashri sakit. Tetangganya yang nasrani itu datang ke rumahnya menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Tetangganya itu langsung mengerti bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Dan yang membuatnya bertambah heran kenapa Imam Hasan Al Bashri tidak bilang padanya.

“Imam, sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini ?” tanya Si Tetangga.

Imam Hasan Al Bashri diam tidak menjawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak. Namun …

“Imam, katakanlah dengan jujur sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ? Jika tidak kau katakan maka kami akan sangat tidak enak,” desak tetangganya.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu,” jawab Imam Hasan Al Bashri dengan suara parau.

“Kenapa kau tidak memberitahuku ?”

“Nabi mengajarkan untuk memuliakan tetangga, belaiu bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya !” (SayyidahDjauharMuthafiah)